Cerpen

Bayangan, Doa, Diam

Ada sosok berbeda dalam satu bayangan

Berubah dalam saru
Entah mana yang dituju
Yang tertawa dan mengharu biru
Atau garang yang menganggu

Tapi apalah arti keduanya

Tak ada yang bisa

Tak ada yang berdasar

Tak pula menanam debar

Tentang asa tentang doa
Cinta yang tiada berbatas, menutup rasa yang mereka sebut dan puja

Kita hanya dalam doa
Yang sembuyi dalam diam dan tak tersingkap kata

Terkadang ada beberapa kerumitan yang harus dibiarkan
Dan akan selesai dengan sendirinya, terpecahkan pelan

Pada waktunya

Dan saatnya

Begitu pula gemuruh tak berumus ini
Siapa yang bisa, kecuali
Sang Maha Pembolak-balik hati

Standard
puisi

Bayangan, Doa, Diam

Ada sosok berbeda dalam satu bayangan

Berubah dalam saru
Entah mana yang dituju
Yang tertawa dan mengharu biru
Atau garang yang menganggu

Tapi apalah arti keduanya

Tak ada yang bisa

Tak ada yang berdasar

Tak pula menanam debar

Tentang asa tentang doa
Cinta yang tiada berbatas, menutup rasa yang mereka sebut dan puja

Kita hanya dalam doa
Yang sembuyi dalam diam dan tak tersingkap kata

Terkadang ada beberapa kerumitan yang harus dibiarkan
Dan akan selesai dengan sendirinya, terpecahkan pelan

Pada waktunya

Dan saatnya

Begitu pula gemuruh tak berumus ini
Siapa yang bisa, kecuali
Sang Maha Pembolak-balik hati

Standard
puisi

Ingin dan (Tak) Ingin Lupa

Aku hanya ingin lupa

Caramu membuatku tertawa
Caramu membuatku redamkan lara
Caramu membuatku tentram
Caramu membuatku diam

Aku hanya ingin lupa
Teduh yang mengalir di matamu untukku
Senyum semesta yang tertera
Atau nada tinggi di kala suasana burukmu

Tapi aku tidak ingin lupa
Pada logika
Betapa kita
Adalah manusia..

Tapi aku tidak ingin lupa
Pada apa yang aku rasa
Hingga tak lembab
Agar tak terjerembab

Maaf jika kita terjatuh, lagi
Maaf jika kita tidak bisa menitinya
Maaf jika kita saling membohongi
Maaf aku hanya ingin lupa tentang kita

Aku hanya ingin lupa
Hari dimana kita tersadar
Bahwa tidak ada jembatan
Bagi kisah penuh nanar

Ini…

Standard
Prosa

Pilihan, Jalan Keluar atau Ujian?

Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa manusia selalu punya pilihan. Tidak pernah ada kata bahwa kita tidak punya pilihan. Hanya tentang kita mau mencari jalan ataupun hanya menyerah. Meletakkan semua pada apa yang terlihat ataupun pada rasa.

Dan aku tak tahu, apakah benar aku punya pilihan. Apakah benar merupakan pilihan? Sebuah jalan keluar? Atau sebuah ujian?

Rentetan pertanyaan menghujam kepalaku akhir-akhir ini. Pada titik lelah dan nadir terendah. Pilihan berada dalam genggaman, justru membuatku gamang. 

Berdiam, melanjutkan langkah meski teramat lelah. Mengokohkan diri, hingga terseok sana-sini. Melaju, hingga hati ini kaku. Atau…

Pergi dan berbelok arah. Memulai langkah baru, meski tak mudah. Meyakinkan hati, menempa jati diri. Membebaskan rasa, mendamaikan cerita.

Lalu apakah artinya aku menyerah?

Standard
Prosa

Misteri Kematian

“Innalillahi wainnailaihi roji’un … “

Ruang tengah keluarga kami yang sedang riuh oleh suara canda tiba-tiba senyap, semua telinga menyimak kata demi kata yang terdengar. Letak masjid di depan rumah, sebenarnya suara sudah cukup jelas terdengar.

“Aaaaaaah…,” teriak Ibu.

“Ibuk!” Aku dan Masku serentak menegur. Kaget juga sedikit kesal, di saat tegang kenapa beliau berteriak.

Pengumuman dari masjid selesai, kami terdiam. Tidak hanya karena ada yang meninggal, tetapi juga getir ketika tahu siapa yang meninggal. Aku tak ingin menyebut namanya. Seseorang yang cukup berarti dalam keluarga kami. Turun temurun keluarga tesebut selalu membantu keluarga kami. Ayahnya adalah orang kepercayaan Mbah Kakung untuk merawat sawah dan kebun. Sedang almarhumah sendiri adalah andalan Ibu ketika sedang kerepotan, baik ketika ada acara ataupun hal-hal lain.

Sebenarnya kami maklum, tanpa perlu dijelaskan mengapa Ibu berteriak. Tentu beliau kaget. Pagi sebelumnya aku dan Ibu berniat menjenguk almarhumah, kami mendengar beliau sakit sejak sehari sebelum lebaran. Namun, yang kami temui hanya putra sulungnya. Darinya kami diberitahu bahwa beliau dibawa ke RS. Kamipun berniat menjenguk ke RS esok hari, mengingat saat itu masih lebaran hari kedua. Tamu masih banyak berdatangan. Tak dinyana, kami tak sempat menengok di RS.

Aku masih ingat candaan yang selalu beliau lontarkan. Juga sikap beliau yang teramat baik padaku. Pernah suatu hari ketika aku ke pasar untuk membeli jajanan, tanpa sengaja kami berpapasan. Beliau sontak memelukku dan mengangsurkan dua ikat selada air, gratis padahal itu adalah barang dagangan. Beliau tahu aku dan keluargaku suka sekali selada air, tak lupa menitipkan salam untuk Bapak dan Ibu.

Di lebaran hari keenam, keluargaku mengadakan satu acara. Selama di dapur, kami acapkali menyebut nama beliau. Rasanya aneh beliau tidak ada, biasanya beliau yang jadi tangan kanan Ibu untuk mengurus kerepotan dapur.

Aku tak ingin menyebutnya sebagai kebetulan, almarhumah meninggal enam bulan setelah Bapak. Orang yang dimakamkan pertama kali di pemakaman desa setelah Bapak. Ahhh… rasanya tak henti kehilangan ini terus melanda. Hanya doa yang bisa kita panjatkan.

Tak ada yang menyangka kapan kematian akan datang. Semua misteri. Hanya perlu bersiap.

Demikian.

Standard
Cerpen

Menerbangkan Masa (Bag. 1)

Kling…

Ponselku berbunyi tanda pesan masuk dari grup whatsapp, seringkali aku tidak begitu peduli dengan bunyi ini. Selain grup whatsapp dalam ponselku lumayan banyak, kebanyakan isinya hanya sekedar broadcast atau bukan pesan untukku.

Kali ini aku membukanya.

Selamat malam teman2…

Saya mau tanya, adakah disini yang menjadi agen/punya kontak agen tiket pesawat?

Urgent untuk booking 2 tiket Makassar – Jkt, Kamis siang.

Tertulis dari Ratna Grup Alumni Training Kepenulisan.

Kubalas dengan  mengetik sebuah agen pesawat online terkenal, tidak jawabnya.

Aku meluruskan kakiku, ada sebuah agen pesawat yang aku tahu. Tapi jariku seolah enggan menuliskannya, didukung pula oleh sesak yang pelan menyapa. Ponsel masih dalam genggaman, mataku terus memandangnya namun pikiranku melayang. Kembali ke masa lalu, sebuah kejadian yang menorehkan luka mendalam. Satu setengah tahun berlalu, rasanya baru kemarin semuanya terjadi.

Sebuah awal tahun yang kelabu, tercatat sebagai yang terburuk. Yang imbasnya masih aku rasakan hingga detik ini. Nyeri itu kembali nyata. Mataku panas, ada gumpalan yang mulai meluncur dari sudutnya. Semuanya dimulai dari seseorang yang pernah menjadi temanku, yang kemudian berbalik  menusukku dari belakang dengan pedang paling tajam. Seorang agen pesawat, ia menamakan dirinya.

Bersambung.

Standard
Prosa

Kembali Pulang

Pernah merasa jauh dari Tuhan?

Nyeri sekali rasanya, kemudian ketika bersimpuh. Ada rasa nikmat tak terrumus, melebihi keindahan rasa ketika pulang ke rumah setelah jauh berkelana.

Pernah merasa lupa berpasrah?
Seperti hilang kendali, kemudian terduduk. Mengingat semua kenikmatan yang pernah dan yakin akan didapatkan. Bahwa kita tak pernah sendiri.

Bahwa doa selalu menjadi penghantar cinta dan rindu paling tajam.
Bahwa hati, berpemilik dan bertuan pada Penguasa Malam.
Bahwa tiada paling sendu, terengkuh dan menangis kembali dalam dekapan-Nya.

Tiada kemudian harus berpura mampu atau berpura tak sanggup. Sungguh, aku merindukan pelukan-Nya. Ketenangan hakiki tak pernah terganti.

Tak terbayang rasanya jika Ia tak menyapa. Aku lupa ditelan masa. Oleh dunia yang maya. Juga cinta yang fana.

Jangan pernah biarkan aku jauh dariMu.

Standard