puisi

Ibukota

Hutan beton terpandang
Bagi musafir berpetualang
Jiwa terus melanglang
Dan para hati yang hilang

Ada tanya yang tak perlu jawaban
Ada jawaban yang pantas ditangguhkan
Ada sabar yang tertuntaskan
Juga rasa yang terdamaikan

Sebut saja dia bungkam
Pada kilau yang kelam
Tak peduli pada janji silam
Ringan pada rasa yang tenggelam
.
.

– Nyonya Badak –

Advertisements
Standard
Tentang

Resensi Buku : Gelang Hitam, Merawat Luka Cinta dan Bencana

Sejak siang hujan sudah mengguyur Kota Bandung, namun itu tak menyurutkan keramaian di Stasiun Hall. Aku duduk menunggu dalam kereta Argo Parahyangan berangkat membawaku ke Ibukota. Sebuah buku bersampul eksentrik dengan dominasi warna hitam ada di tanganku. Tak lama peluit tanda berangkat berbunyi, hampir bersamaan ketika aku mulai membacanya.

==

Gelang Hitam, novel ketiga dari Nyirika seorang aktifis / pekerja sosial dari Bandung bercerita tentang sisi lain sebuah bencana. Kali ini diterbitkan Nawalapatra. Bercerita tentang Saras, seorang relawan pemulihan paska Bencana Tsunami Aceh tahun 2009. Juga Haniffah, korban Tsunami yang berubah menjadi seonggok nafsu yang tertinggal dan terjebak dalam Gelang Hitam. Diceritakan bagaimana sepak terjang para relawan berusaha membantu para korban. Hingga akhirnya Saras terjebak dalam urusan asmara yang tak pernah mudah. Patah hati begitu kental, tapi tentu saja harus bangkit. Pemulihan patah hati tak semata tentang cinta itu sendiri, ternyata Saras terkena PTSD, intinya duka semua orang yang ia dengarkan berpindah ke tubuhnya. Perjalanan panjang Saras lalui hingga akhirnya mampu membuka hati kembali. Menghadapi ketakutan terbesarnya, Rian yang membuatnya berkeping. Kemudian menemukan Dewa yang bisa menerima Saras apa adanya, termasuk luka dan masa lalunya. Manis.

Sebagai orang awam seperti aku yang tak pernah tahu dunia pe-relawan-an, novel ini cukup memberikan gambaran situasi di lapangan. Juga, banyak istilah Psikologi terselipkan. Dengan apik menyeritakan sebab-akibat sebuah kejadian dan kejiwaaan seseorang. Bicara lugas tentang cinta dan patah hati dari sudut pandang lain, namun tetap romantis dan manis. Tak lupa cerita mistis tak horor khas Nyirika kental dituturkan.

Ada sedikit kebingungan antara tokoh Aku (Haniffah) dan Sarah sebagai tokoh utama, keduanya seperti menjadi alter ego. Terkadang harus mikir, ini yang bicara Haniffah atau Sarah. Di pertengahan ada pula sedikit kebingungan pencernaan tokoh karena nama yang mirip, Rengganis dan Ranggita. Karena keduanya berada dalam satu alur, jadi harus mengulang membaca. Oh ini Rengganis, oh ini Ranggita.

Novel yang membuatku menghela nafas panjang. Sarat makna dan nasihat tentang hidup. Setiap orang pasti pernah patah hati walau hanya sekali, tentu novel ini jadi rekomendasi.

==

Waktu menunjukkan pukul 23.15 wib ketika aku menyelesaikan 204 halaman Gelang Hitam. Aku duduk di sebuah lobi hotel di tengah Ibukota yang lampunya mulai meredup. Kursi di hadapanku masih kosong. Sebut saja aku sedang menunggu Rian, ketakutan terbesarku. Mungkin ini sudah cukup, langkah besar tetap akan dijalani tanpa sebuah kata penyelesaian. Aku bangkit, dengan hati ringan. Siap menyambut Dewa.

Standard
puisi

Hanya Doa

Jika tanya itu muncul, seberapa rasaku padanya.

Sederhana, jawabku.

Rasa ini mampu membuatku berani mengetuk pintu Tuhan setiap sepertiga malam untuk meminta.

Rasa ini mendorongku untuk terus merajuk pada Tuhanku melalui ayat-ayatNya.

Rasa ini sanggup membuatku bertahan ketika aku sudah di titik ingin sekali lari.

Sederhana, karena tak ada kata yang melampauinya kecuali doa.

img_20180322_111150-213719954.jpg

Standard
Tentang

Peringatan Diri

Bukankah sebuah kurva butuh ketinggian sebelum akhirnya menurun untuk sempurna? 

Bukankah seulas senyuman perlu melandai sebelum akhirnya menanjak untuk membentuk sempurna? 

Bukankah setiap cerita harus beralur klimaks sebelum akhirnya anti-klimaks untuk akhir sempurna? 

Dan Allah menurunkan dua kemudahan dalam setiap satu kesulitan. 

Lalu kemudian mengapa mesti bertanya? 

Di mana sosok yang dulu mengatakan, “Kerjakan yang terbaik, soal hasil tak pernah berdusta.”?

Atau yang pernah berbisik, “Sungguh, Allah Maha Adil. Jika ada manusia yang tak adil padamu, maka Allah akan memberikan tempat terbaik.”

Dan pasrah adalah keyakinan tertinggi manusia atas kehendak-Nya. 

Goyahkah keyakinan itu? Hingga bertalu-talu gelombang keluh kesah menggaduh. Hingga air mata perlu diteteskan atas peluh. Hingga semesta mendengar kecewa yang bergemuruh. 

Sabar dan shalatlah. 

Standard
Prosa

1.38 a.m

Tak sehari atau dua hari ini aku terjaga, pada detik jam yang menunjukkan angka yang hampir persis. Siapa pula yang memanggilku, mungkin dalam mimpi atau doanya. Entahlah, aku hanya meyakininya. 

Ada satu titik, kita harus menyadari ada beberapa hal yang tidak ditakdirkan untuk bisa dijalani. Ada beberapa orang yang tidak ditakdirkan untuk bersama kita. Dan ada beberapa luka yang butuh lebih dari seumur hidup untuk disembuhkan. (r. m. drake) 

Standard
Prosa

Senja Yang Tak Jingga

Merah yang berpendar di tengah birunya langit, selalu menjadi hamparan impian. Siapapun yang mendamba senja, tak akan pernah melepaskannya. Begitu pula aku, manusia kecil di tengah redamnya masa. 

Rintik menari bersama hempasan angin, tak ada yang berharap ada jingga sore ini. Terdengar suara mesin mobil berhenti, aku bersiap, ada seseorang yang datang. 

Assalamualaikum.” Suara yang cukup familiar. 

Wa’alaikumsalam,” jawabku sambil membuka pintu. 

Benar dugaanku, dia yang datang. “Loh, tumben tiba-tiba datang?”

Dia menggaruk-garuk kepala, “Iya, tadi aku ada acara di rumah. Jadi ga bisa anterin kamu ke dokter.”

Aku tersenyum, “It’s ok. Tadi ‘kan cuma iseng tanya, mungkin kamu sedang ga sibuk. Kalau sudah ada acara ya ndak papa, malah ngrepotin.”

“Sebagai gantinya, sekarang aku traktir kamu makan.” Senyumnya tulus. 

Mataku terbelalak, “Nyantai aja kali, gapapa. Itu ‘kan bukan hutang. ”

“Ya udah intinya aku traktir kamu makan, yuk. Ajakin adik kamu sekalian.” Dia bersikukuh. 

“Adikku belum pulang, lagi nonton bareng temennya. Yaudah bentar, aku ambil dompet dulu,” bergegas aku mengambil dompet di kamar lalu bersamanya masuk ke mobil. 

Matahari tak sedikitpun nampak, hanya kelabu dan tetesan air langit. 

Dia berdehem, “Lain kali kalau kamu ada perlu, ngomongnya sejak awal jangan mendadak. Biar aku bisa temenin.”

“Tadi itu spontan aja, iseng. Biasanya juga aku sendiri kok. Malah ngerepotin jadinya.”

Hening. 

“Aku pengen direpotin kamu terus. Kamu juga jangan sendiri melulu.”

Tak ada kata, aku hanya menatap rautnya. Mencoba memastikan, matanya fokus pada jalanan. 

“Ibu kamu minggu depan ke sini kan? Aku mau ketemu ya.”

“Untuk?”

“Untuk meminta izin, biar aku direpotin dan menemani kamu terus. Untuk jagain kamu, selamanya.”

Tahan nafas. 

“Aku serius.”

Dan aku baru sadar, dia yang selama ini menemani hari-hariku. Dengan segala goresan kisah masa laluku. Belum ada rasa, belum terdefinisikan. Tapi tak ada yang lebih baik dari sosoknya. 

Senja sore itu indah. Dengan kelabunya langit dan nyanyian kenangan hujan. Tanpa mentari, tanpa garis cakrawala. Senja indah tak harus jingga. 

Senja Tak Jingga

Standard