Cerpen

Jika Harus ( bagian 1 )

Menjenjakkan kaki kali pertama di tanah Borneo, menghirup hawa sesak sebuah ketidakpastian. Arum dengan tegap mengayunkan langkah tanpa orang disekitarnya tahu betapa goyah hatinya. Menjemput jawaban, bertaruh luka dan masa depan atau bahkan nyawa. Keluar bandara mencari angkutan umum yang akan membawanya ke Kapuas, 20 km dari Palangkaraya. Tidak sulit mencari penginapan kecil yang sudah dianjurkan temannya yang asli Palangkaraya, kecil namun bersih. Sesampai di kamar penginapan Arum merebahkan diri di tempat tidur dan memutar kembali kejadian 10 hari lalu. Alasan dia berada jauh dari hiruk pikuk Jakarta dan nekat terbang ke Kalimantan.

Arum, aku tidak akan kembali ke Jakarta. Aku akan menetap disini, selamanya.

Sebuah pesan singkat yang Arum terima di Jumat sore menjelang malam yang biasa ia habiskan untuk ber-skype dengan Aldino jika pria itu sedang bertugas ke Kalimantan. Bingung, Arum mencoba menelpon namun tak pernah diangkat. Arum hanya merasa beberapa hari belakangan Aldino jarang menghubunginya karena sibuk. Pekerjaannya sebagai CSR perusahaan menuntutnya untuk sering terjun ke lapangan dan menghabiskan waktu berbaur dengan warga. Arum maklum dengan semuanya, ditinggal dua minggu dalam beberapa bulan sekali tapi tidak jika Aldino harus menetap di Kalimantan, meninggalkan Jakarta, meninggalkannya. Semua serba tiba-tiba, tidak pernah ada pembicaraan tentang menetap di Kalimantan. Yang ada adalah pembicaraan masa depan mereka berdua, membentuk keluarga dan bersama. Semalaman Arum habiskan untuk mencoba menghubungi Aldino, mencari jawaban. Social media, sms, telpon tidak ada yang terjawab.

Tak ada lelap bahkan tenang dalam pikiran Arum. Keesokan harinya Arum memberanikan diri menelpon Mama Aldino di Magelang. Dan jawaban yang ia terima semakin membuat hatinya kalut

“Mama juga belum ngomong banyak sama Dino, dia cuma bilang mau menetap disana tidak menjelaskan alasan. Mama juga kaget, kirain dia akan pindah kesana ngajak kamu setelah kalian menikah”, tuturan kalimat selanjutnya sudah tidak terdengar di telinga Arum yang berdenging seperti dihantam.

Tidak usah cari jawaban kenapa Rum, aku menemukan hidup disini. Carilah hidupmu juga.

Pesan singkat selanjutnya 24 jam setelah pesan pertama masuk. Arum hanya bisa bersimpuh dihadapan Allah untuk menenangkan hatinya. Sepanjang malam ia habiskan untuk sholat dan berdzikir, ia yakin akan segala misteriNya.

Arum dibangunkan dengan suara dering telpon genggamnya, Mama Aldino “Arum, Mama rasa Dino kena pellet dayak. Dia ga bisa di ajak ngomong, malah marah pas ditanya. Dino tidak pernah seperti ini, dia tidak pernah sekalipun membentak Mama”

“Mama jangan su’udzon dulu”

“Ga, Mama ga su’udzon. Mama mau nyari orang pinter buat dia pulang, kamu juga harus bantu, rela kamu dia nikah sama orang dayak yang dia nikahin karena kepelet?”

Menutup telpon dengan kembali menangis, “Jangan Ya Allah, tunjukkan kuasaMu”

Gurauan yang sering mereka lontarkan ketika Aldino akan berangkat ke Kalimantan tak pernah terbayang akan menjadi kenyataan. Mitos jika seorang perempuan dayak menyukai pria maka pria itu akan takluk dan akan lupa asal muasalnya bahkan hanya dengan sekali colek.

Dino, jika memang ada yang kau pilih disana bicarakan dengan keluargamu baik-baik. Cukuplah aku yang kau buat bingung.

Hanya barisan kalimat singkat yang mampu Arum lakukan untuk menyangkal segala kemungkinan. Beranjak ia dan bersiap untuk berlatih Aikido, rutinitas yang biasanya cukup mampu untuk menghalau segala stress dan beban. Tapi ternyata tidak untuk kali ini, latihan 2 jam tidak cukup mampu menaklukkan gemuruh hatinya. Seusai latihan guru Aikidonya, Sensei Ahmad menghampirinya, “Kenapa Rum? Kamu ga konsen, kacau tadi, sebulan lagi kamu ujian Dan”

Arum diam menunduk tak mampu menjawab, Sensei Ahmad sudah seperti kakaknya sendiri. Mereka sering saling bercerita dan berdiskusi, umur mereka yang bertaut 4 tahun diluar Dojo sering mematahkan hubungan antara guru dan murid. Dua hari menahan sesak dan diam pertahanan Arum runtuh, ia tak kuasa menangis “Sei, dia pergi. Dia mau tinggal disana selamanya, tanpa kasih alasan. Hanya bilang dia menemukan hidupnya disana,” terisak serangkaian kalimatpun terucap.

Sensei Ahmad yang tahu kisah Arum langsung mengerti arah pembicaraan “Mitos”

“Sensei juga percaya itu?” Arum menatap wajah Senseinya, ia tak percaya jika Sensei juga percaya dengan cerita kuno itu.

“Bukannya kamu sendiri yang suka bicara tentang itu. Percaya ga percaya Rum, bisa aja mitos itu karena memang cinta. Bukan aku mau menambah beban kamu, tapi itu mungkin cara halusnya untuk pisah sama kamu.”

“Aku juga berpikir begitu, tapi ini mendadak. Empat hari lalu dia pamitan masih dengan dia yang sepertinya sayang sama aku. Masih seperti dia yang biasanya”

“Aldino orang yang tidak banyak tingkah dan mungkin dia tidak sanggup kalau bicara langsung. Kamu tidak akan menemukan jawaban jika kamu tidak berhadapan langsung, tidak hanya dengan menduga-duga” Jawaban lugas namun cukup membuat mata Arum membelalak

“Maksud Sensei aku perlu kesana?”

“Jika harus,” pungkas Sensei dengan mantap. Arum menyeka airmatanya dan mulai mengatur nafas

“Aku tahu kamu kuat, mampu menghadapinya. Kamu salah satu perempuan tertangguh yang pernah aku temui,” senyum Sensei menguatkan Arum

“Makasih Sei, karena bingung aku ga kepikiran sampai kesana. Ya aku harus ketemu langsung untuk mencari jawaban sendiri dan aku akan kesana kalau memang harus”

“Inilah Arum yang aku kenal, tidak hanya kuat fisik tapi juga hatinya. Kalau istriku kasih ijin aku mungkin bisa anterin kamu”

“Ga usah Sei, istri Sensei lagi hamil. Dia lebih membutuhkan Sensei daripada aku. Dan lagi apa kata dunia kita pergi bareng,” senyumpun muncul di wajah gadis itu. Inilah salah satu alasan kenapa dia bisa bertahan dan mencintai Aikido, Arum dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Tidak hanya Sensei, para Senpai dan Junior juga sangat sopan dan baik.

bersambung..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s