Cerpen

Jika Harus ( bagian ke-2 )

Dinginnya AC penginapan tidak mampu menyejukkan suasana hati Arum, dia sudah penasaran ingin segera menjelajah Kapuas dan menemukan Aldino. Bertahan seminggu memendam sabar karena pekerjaan tidak memungkinkan untuk ditinggalkan. Lelah perjalanan tidak ia hiraukan, mengeluarkan sebagian isi ranselnya Arum keluar menuju pasar. Entah apa yang membawanya kesana, di depan sebuah Warung Kelontong Arum bertemu dengan ibu setengah baya kerepotan membawa barang. Bergegas Arum membantu membawakan

“Adek bukan orang sini ya?” sambut si Ibu

“Bukan Bu, saya hanya berkunjung”

“Oh gitu, hati-hati ya disini. Memang kamu ngunjungi siapa?”

“Teman, oya sekalian saya mau tanya alamat ini” Arum menyodorkan secarik kertas bertuliskan tempat tinggal Aldino

“Oh Asrama karyawan Putera Utama, tempatnya pojok Dik. Rada jauh kesana, mending ga usahlah. Janjian ketemu diluar saja. Pacar anak saya tinggal disana katanya ga enak kalau anak perempuan masuk. Maen ke tempat ibu saja, ga jauh dari sini,” dan si Ibu menuturkan sebuah alamat. Arum menolak ajakan untuk mampir, ia masih ingin sendiri mencari tahu apa yang membuat kekasih hatinya merasakan menemukan hidup di kota kecil itu. Dan si Ibu berlalu dengan diantar sebuah becak. Maghrib Arum memasuki masjid besar di kota. Setelah wudhu ia mengirimkan pesan

Aku disini, aku tidak mencari jawaban hanya kejelasan. Temui aku di Resto Banjar selepas Isya’

Selepas Maghrib hingga Isya’ Arum habiskan di Masjid, mencari kekuatan. Setelah Isya’ Arum berjalan ke tempat ia janjikan. Menunggu 45 menit Aldino tidak kunjung tampak, Arum menyusun rencana jika pria tidak muncul sekalipun. 1.5 jam waktu bergulir hingga akhirnya Arum melihat segurat wajah yang ia kenal tapi tidak dengan tatapan matanya. Tatapan yang dulu penuh rona jika melihatnya, penuh senyum meski tak tergoreskan. Sekarang yang ia lihat, tatapan seolah enggan, gelisah dan kadang kosong. Buncah hati Arum melihatnya, jangan-jangan mitos itu benar tapi segera ditepisnya

“Apa kabar?” ucap Arum membuka keheningan, terselip rindu yang teramat.

“Baik, kamu gimana? Nekat banget kamu kesini”

“Aku baik makanya bisa sampai disini ketemu kamu. Soal nekat kamu seperti baru kenal aku kemarin sore,” canda Arum mencoba memecah kekakuan

“Kamu tak seharusnya kesini, tidak akan mengubah apapun. Aku mau disini, aku menemukan hidup disini dan maaf tanpa kamu,” ungkap Aldino tidak memperpanjang waktu

“jadi lebih baik kamu pulang besok dan tidak usah bertanya lagi, soal keluargaku itu urusanku,” lanjutnya

“Aku memang akan segera pulang setelah aku dapat apa yang aku cari, dan hanya sekedar ingin tahu hidup seperti apa yang buat kamu tertahan disini. Ini bukan untuk siapapun, hanya untuk diri aku sendiri, aku butuh keyakinan dan kemantapan untuk meninggalkan cerita kita, jika harus,” sekuat tenaga Arum menahan airmatanya untuk tidak tumpah.

“Kamu sudah dapatkan jawabannya,” jawab Aldino

“Ya, aku sudah dapatkan” ucap Arum. Jawaban bahwa kemungkinan mitos itu benar dengan tatapan mata kosong dan suara bergetar. Tapi entah ada keyakinan dalam suara Aldino yang buat hati Arum teriris.

“Siapa dia?,” Aldino tidak kaget mendengar pertanyaan Arum

“Bukan siapa-siapa,” jawaban singkat yang buat hati Arum semakin hancur

“Jadi mitos itu benar,” lirih suara Arum tapi mampu membuat Aldino melihatnya dengan marah

“Jangan bawa-bawa mitos, tidak ada mitos disini. Ini keputusanku dan aku harap ini pertemuan dan pembicaraan terakhir kita,” dengan nada tinggi Aldino sebelum ia berdiri dan meninggalkan Arum terperangah

Beberapa menit Arum termangu, menata emosi. Diraihnya ponsel dan mengetikkan pesan singkat

Sepertinya benar Sei, dia kena.

Tak berselang lama nada pesan bunyi

Kena ga kena yang penting kamu sudah dapatkan jawabannya. Jodoh ga jodoh itu urusan Tuhan, kamu sudah berusaha. Ikhlaskan dan pulanglah

Gontai Arum meninggalkan Resto dan kembali ke penginapan. Pesan singkat dari Sensei benar, tapi Arum masih punya satu pertanyaan lagi. Dia menghabiskan sisa malam dengan membuat rencana dan segala kemungkinannya termasuk kesiapan hati menghadapi yang terburuk. Arum membuka buku agendanya, diambilnya selembar kertas.

Kamu… Semesta yang kuimpikan

Kamu… Salju yang menghangatkan

Kamu… Lengan yang menyesakkan

Kamu… Jejak yang menghanyutkan

Kamu… Catatan yang tak tersiratkan

Kamu… Jelaga yang memabukkan

Kamu… Rindu yang tak terucapkan

Nanar Arum membacanya kembali, puisi yang dibuat Aldino ketika melamarnya 3 bulan lalu. Pertemanan mereka 7 tahun tak bisa lagi dipungkiri sudah berkembang menjadi bunga cinta dan Aldino mantap melamarnya. Kertas itu terbasahi setetes air mata Arum yang kemudian disekanya.

“Tidak ada yang percuma,” desahnya.

Penerbangan kembali ke Jakarta jam 6 sore, Arum tidak menyia-nyiakan waktu. Setelah check out keesokan harinya, dia berjalan ke sebuah area perumahan, rumah Ibu yang kemarin ia temui di pasar menjadi tujuannya. Berharap sang Ibu bisa membantunya mencari tahu, kemarin dia bilang pacar anaknya tinggal di tempat yang sama dengan Aldino, jadi ada kemungkinan mereka saling kenal. Tapi bukan Aldino yang ia harap bisa temui lagi, tapi gadis itu. Perempuan yang kemungkinan disebut Aldino sebagai hidupnya. Tidak sulit menemukan rumah itu, bangunan sederhana dan bercat hijau. Ia mengetuk pintu dan wajah ibu muncul dengan raut gembira.

 

bersambung..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s