Cerpen

Jika Harus ( bagian ke-3 )

“Wah, Adik yang kemarin. Ayo masuk, silahkan”
Setelah berbasa-basi Arum mengarahkan pertanyaan tujuan kedatangannya “Putri ibu kemana?”
“Dia sedang keluar tadi ke rumah bibinya, paling Dzuhur pulang”
Arum menyapukan pandangannya ke sebuah foto di dinding, seorang gadis cantik meski penuh make-up. Tanpa sadar ia memegang mukanya sendiri yang jarang terpoleskan hanya paling bedak dan lipgloss.
“Itu anak saya, dia sudah cukup umur untuk nikah. Banyak laki-laki yang ngelamar eh ditolak terus dan malah suka sama laki-laki Jawa yang sekarang jadi pacarnya”
“Pacarnya itu orang Jawa Bu?”
“Iya, kerja ditempat teman kamu itu juga. Ibu sama Abah ga mau lama-lama, yaudah ibu suruh cepetin”
“Pacarnya mau tinggal disini?”
“Ya dibuatlah” ucapan terakhir seperti menampar Arum, mengingatkan pada nasibnya sendiri.
Tak berapa lama anak ibu yang bernama Ellen pulang. Mereka berkenalan, cantik khas Dayak. Dan seharusnya tidak memerlukan hal-hal tak lazim untuk mendapatkan seorang pendamping, semoga memang tidak batin Arum. Sebelum bertanya lebih jauh dan melancarkan rencana Arum meminta izin untuk Sholat Dzuhur, ia sholat di kamar Ellen. Setelah salam, mata Arum menangkap sebuah foto di meja di samping tempat tidur. Untuk meyakinkan apa yang dia lihat Arum menghampiri dan mengambil figuranya. Foto itu menjadi berkabut oleh genangan airmatanya sendiri. Ia tak perlu bertanya, tak perlu menjalankan rencana jawaban sudah di tangannya. Senyum pria dalam foto itu adalah senyum yang dulu hanya untuk Arum, selama 7 tahun pemilik mata pria dalam foto itu selalu menatapnya sendu, foto Aldino. Setelah menenangkan diri sejenak dan menghapus airmatanya Arum keluar kamar.
“Bapak, Ibu, Ellen bisa saya bicara sebentar?” ucapnya dengan senyum tertahan kepada keluarga yang baru ia kenal. Suasana tiba-tiba hening seiring dengan raut serius Arum
“Kedatangan saya ke Kapuas sebenarnya adalah mencari jawaban dan kejelasan, calon saya 10 hari yang lalu tiba-tiba memutuskan untuk tinggal disini selamanya tanpa saya. Saya tidak percaya mitos dayak meski saya ingin sekali. Saya hanya percaya jodoh ada di tangan Tuhan. Saya sudah bertemu dengannya kemarin dan dia bersikukuh untuk tinggal. Mungkin takdir Tuhan juga yang membuat saya bertemu ibu dan kemudian saya disini. Menemukan jawaban lain, siapa gadis yang buat dia bertahan disini” matanya tajam menatap Ellen, keluarga itu memucat, mengerti arah ucapan Arum.
“Ya, Aldino melamar saya 3 bulan lalu dan rencananya kami akan menikah awal tahun depan. Tapi semuanya sudah tidak ada gunanya. Sebenarnya tidak hanya saya yang bingung, keluarganya juga. Semua serba tiba-tiba dan tak lazim”
“Kamu nuduh anak saya maen pellet?” teriak Abah Ellen menunjuk muka Arum
“Saya tidak sekalipun mengucapkan hal itu Pak, saya mohon untuk Bapak dan Ibu juga Ellen bisa membantu menjelaskan ke keluarga Aldino karena saya tidak akan mampu untuk menjawab kebingungan mereka. Aldino anak laki-laki mereka satu-satunya” balas Arum dengan nada sedikit tinggi namun teratur.
Suara pintu diketuk membuyarkan ketegangan, diiringi salam dengan suara yang sangat Arum kenal. Mereka semua mematung
“Ellen, semoga ini jadi pilihan terbaik kamu. Ini urusan hidup dan akhirat kamu, juga hidup Dino” Arum mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Nafas tersengkilap Aldino begitu melihat Arum yang membukakan pintu
“Jangan pernah bertanya kenapa aku disini, Tuhan yang menuntunku”
“Bapak, Ibu, Ellen terima kasih. Saya pamit, saya sudah cukup mendapatkan jawaban”
Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bersuara, bergeming hening. Hanya terdengar suara langkah kaki Arum, dua langkah sebelum pagar Arum berbalik
“Dino, 3 minggu lagi aku ujian Dan. Insya Allah aku dapat sabuk hitam, seharusnya kamu bisa lihat aku pakai hakama. Mimpiku, mimpi kecil kita” dengan senyum Arum berkata dan kemudian berlalu.

selesai..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s