Cerpen

Dia di Rumahmu

Kembali kutiti jalan ini, pekatnya malam, dinginnya senyap tak menghentikanku. Entah keberanian dari mana yang merasukiku. Niatku semakin membesar, rasa ini semakin kuat, aku harus menemuinya. Kuketuk pintu sederhana itu, tak ada yang menjawab. Tak ada yang bergerak, hening. Aku mematung menunggu, berharap ada jawaban. Subuh menjelang dan seperti malam sebelumnya tak kunjung ada gerakan.

Aku kembali menyeret tubuhku, bangkit dari ranjang. Menghempas kantuk, malam ini aku harus berhasil menemuinya. Sesampainya depan pintu, kuketuk kembali pintunya. Tiga kali, tetap tak ada jawaban. Bergeming, aku menunggu lagi hingga subuh yang datang.

Entah sudah berapa malam aku mendatangi rumah itu, mengetuk pintunya. Berharap bisa bertemu sang pemilik rumah. Meski gagal aku tidak akan menyerah, aku harus mencari cara lain.

Malam itu aku kembali mendatanginya, setelah ketukan ketiga tak ada jawaban aku duduk. Aku membacakan sajak-sajak indah dengan sangat keras. Yang kutahu dari mereka di luar sana sajak-sajak indah ini adalah hasil karya sang pemilik rumah. Aku berharap jika aku membacanya sang pemilik rumah senang, lalu menemuiku. Namun Nihil.

Merajuk, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku. Aku masih membaca sajak-sajak itu namun dengan nada penuh memelas, aku menangis. Aku mulai memohon untuk diberikan kesempatan untuk menemuinya. Merajuklah aku setiap malam.

Kemarahan mulai menjalariku, mereka bohong. Mereka semua bohong. Dia tak mau menemuiku, padahal sudah kugunakan berbagai cara. Malam itu kudatangi kembali rumah itu, aku mengeluarkan semua sumpah serapah, aku mencaci maki pintu yang bisu. Hingga kemudian aku lelah, pemilik rumah tak juga muncul.

Menyerah, aku mulai jengah. Aku sudah pasrah, jika malam ini dia tak juga keluar. Ah…. Tapi hati kecil ini yakin dia pasti akan menemuiku, suatu saat. Harapan itu masih ada, sangat kuat mencengkram nadiku.

Seperti biasa aku mengetuk pintu sesampainya di sana. Ketukan pertama, sunyi. Ketukan kedua, sepi. Kuhela nafas panjang, ketukan ketiga, senyap. Kreeeeeek.. Suara gerakan mengagetkanku ketika hendak duduk. Pintu itu bergerak, aku hampir meloncat karena terlalu bahagia. Akhirnya setelah sekian lama, pintu itu terbuka.

Seorang dengan senyum teramat tenang keluar, “Anda mencari siapa?”
“Apakah Tuhan ada?”, tanyaku dengan mata tak berkedip dan suara yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan.
Dengan suara lembut ia menjawab,”Tuhan selalu mendatangi rumahmu, setiap malam. Mengapa kau malah jauh-jauh mencarinya disini?”.

Tamat.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s