Cerpen

Takdir Buku

Ini adalah perjalananku, cerita bagaimana aku disini. Bukan sesuatu yang istimewa, aku hanyalah sebuah buku usang. Tak banyak yang mengenaliku, karena aku hanyalah kumpulan huruf-huruf yang merangkai kata yang manusia sebut sajak. Namun takdirku sungguh tak pernah disangka.
Semua dimulai 20 tahun lalu, ketika aku mulai dicetak dan dikirim ke sebuah toko buku. Sebuah tangan meraihku dari rak pajangan, ia membaca dengan mata bersinar. Aku masih ingat senyum itu untuk pertama kalinya, setelah menimbang ia membawaku ke kasir dan membayar. Setiap hari aku selalu dibawanya, hingga kumal sampulku, dibacanya berulang-berulang dan terkadang dia berkaca-kaca. Tak sulit menebak kegiatannya, dia seorang mahasiswa teknik di sebuah universitas swasta bergengsi. Aktif dalam organisasi, banyak teman, banyak perempuan mengelilinginya namun tak pernah ada yang tahu ia sering hampir meneteskan air mata ketika hanya berdua denganku. Empat tahun aku menjadi saksi hidupnya, dari rak buku sederhana aku melihatnya tertawa, menangis, jatuh cinta hingga patah hati.
Hingga seorang temannya datang dan meraihku, “buku bagus nih, gue pinjam ya…”
“Hmmm.. Boleh aja, tapi jangan lupa lo balikin. Itu buku special udah jarang di pasaran” berpindahlah aku ke sebuah ruangan kamar yang besar, namun aku jarang sekali diperhatikan. Kesepian mulai melanda, aku ingin sekali kembali ke kamar sebelumnya. Meski sederhana, aku sering disentuh dan melihat segala ekspresinya. Aku merindukannya. Ternyata yang kualami belum seberapa, penderitaanku yang sebenanrnya baru dimulai. Setelah sekian lama teronggok tak pernah disentuh, aku bersama teman-teman yang lain dimasukkan ke dalam sebuah kardus dan entah dipindahkan kemana. Entah berapa purnama kami dalam kotak gelap gulita, semakin pengap hawa seiring berjalannya waktu. Badanku mulai menguning, aku mulai berjamur, terlalu lembab udara. Kuterima nasib jika harus berakhir disini.
Ada goncangan, kami ramai, kami semua terbangun setelah membisu bertahun-tahun. Hingga kotak terbuka, ooooooh akhirnya cahaya segar sekali. Kami dikeluarkan satu persatu, hingga sebuah tangan meraihku. Mata itu menatapku lama, ia diam dahinya berkenyit memikirkan sesuatu. Tak lama ia meraih sebuah kotak kecil, ia memijit-mijit kotak itu kemudian menempelkan ke telinganya. Apakah itu ponsel? Terakhir aku melihat benda yang manusia sebut ponsel adalah berbentuk kotak panjang dengan tombol-tombol yang menonjol kepunyaan pemilikku. Zaman sudah sangat berubah, begitu cepat teknologi berjalan ketika aku terpenjara dalam kotak kardus.
“Eh bro, buku punya lo yang sebulan lalu lo tanyain ketemu nih”, aku terhenyak mendengar ia bicara.
“Masih rejeki lo banget nih, gue pindahan dari Jakarta ke Surabaya balik Bekasi gue sampai lupa nyimpen dimana ternyata masih ada. 11 tahun nih ama gue, kasih alamat lo gue kirim nih sekarang.” SEBELAS tahun????? Aku hampir tak percaya, selama itukah aku dalam kardus.
Tak lama aku dimasukkan dalam amplop, sangat senang kali ini karena aku tahu akan bertemu dengannya, pemilikku. Setelah dua hari aku sampai di sebuah rumah, ahhh andai aku punya jantung pasti sudah berdegup kencang sekali. Tangan yang sangat kukenal menyentuhku, wajah itu berangsur dewasa, mata itu masih sama, ia berkaca-kaca. Tidak ada yang lebih mendamaikan selain senyum itu, ia mendekapku erat. Semalaman ia membacaku, menghabiskan lembar demi lembar seperti ketika bertemu pertama kali.
Keesokannya aku dibawa ke sebuah toko fotokopi, aku digandakan. Kembali aku dimasukkan ke sebuah amplop disertai post it tertempel di halaman pertama.
“Ada seseorang yang sangat ingin membacamu, dia sudah berbulan-bulan mencari tapi sudah tidak ada lagi. Aku yakin dia akan lebih memaknaimu dari pada aku dan ia orang penting bagiku,” bisiknya sebelum melekatkan lem pada amplop.
Penasaranku kian membesar, aku merasa akan menempuh perjalanan yang lain. Trauma juga menyergap, baru beberapa hari aku bebas dari “penjara” dan sekarang aku akan berpindah tangan lagi? Ingin sekali berteriak, aku tak ingin lagi dipisahkan darinya. Dia yang terbaik yang menyayangiku.
“Aku punya kejutan buat kamu,” tangannya menggegamku, sebuah tangan lain menyambutku. Amplop disobek, jemari halus menyentuhku.
“Aaaaaaaaaaa,” sebuah teriakan serta airmata dari bola mata cantik ketika menatapku.
“Dapat dimana? Kok bisa ada? Gimana cara? Ini punya kamu yang dulu? Ini buat aku?” Suara itu sungguh meluapkan kebahagiaan, aku dipeluknya.
“Iya itu buat kamu’, panjang ceritanya hingga buku ini balik lagi ke aku. Mungkin aku hanya perantara, karena pemilik sebenarnya kamu.”
“Aku percaya kamu akan lebih menyayangi buku ini dari pada aku, dia punya sejuta makna untuk diambil hikmahnya,” pembicaraan itu membungkamku, dua mata saling menatap. Penuh misteri, kebahagian sekaligus kesakitan.
Aku pasrah, aku dibawa pemilik baruku. Seorang gadis sederhana dengan berjuta misteri di mata bulatnya. Mata itu menelisikku semalam suntuk, terkadang ia tersenyum, terkadang tertegun dan beberapa kali menyeka air mata yang jatuh di pipi. Hal yang kutakutkan tidak terjadi, pemilik baru sangat menyayangiku. Ia menempatkanku di rak yang mudah dijangkau, rutin ia bersihkan dan sering aku diajaknya bepergian. Suatu malam gadis menangis tersedu, ia meraihku “Dia pergi, entah kembali atau tidak. Kamu kenangan terindah darinya, kita akan berbagi merindukan orang yang sama,” aku dipeluknya, bantalnya basah oleh air mata hingga ia tertidur karena lelah menangis. Entahlah.
Murung menjadi pemandanganku sehari-hari, ia selalu menangis ketika melihatku. Namun ia terus berusaha untuk tegar, gadis bukanlah perempuan biasa. Ia memang cengeng ketika sendirian, namun berubah menjadi macan garang ketika bertemu manusia lain. Senyum selalu melekat dan berusaha terlihat tegar. Seiring berjalannya waktu akupun sangat menyayanginya.
Aku ingat saat itu, sore yang cerah ketika suara yang amat kukenal terdengar. Ia kembali, aku tidak hanya bahagia karena mendengar suaranya lagi, lebih dari itu. Aku yakin gadis akan sangat bahagia karena ia kembali. Tak ada lagi murung, tak ada lagi tangis. Waktu kemudian berjalan teramat cepat.
“Ini buat Mas!”
“Ga boleh, ade’ mau duluan!”
Keributan kecil, aku diperebutkan dua pasang tangan mungil. Seseorang mengampiri “Mas, Ade’ tidak usah berebut. Ini buku untuk dewasa, nanti kalau kalian sudah mulai belajar memaknai hidup buku ini akan sangat berguna”
“Makna hidup itu apa Ibu?” Mereka masih sangat terlalu kecil untuk mengerti namun ia tetap melanjutkan bicara pada putra-putri kembarnya.
“Kita harus yakin bahwa apa yang sudah diperuntukkan untuk kita, pasti akan jadi milik kita. Mungkin jalan yang akan kita lalui tidak mudah, namun pasti ada jalan keluar.”

image

Takdir Buku

selesai.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s