Cerpen

Saksi

“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” suara lirih memulai percakapan sendu.

“Apalah aku, entah bagaimana nasibku nanti. Dia banyak diam belakangan, jarang aku disentuhnya, dia lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca buku atau berkutat membuat tulisan,” jawaban dengan suara tak kurang sedih.

“Sudah jarang aku mendapat pesan atau telponmu, tidak seperti dulu kita sering sekali berhubungan,” suara pertama kembali berkeluh.

“Betul, banyak cerita hanya berhenti di kerongkongan ataupun jemari. Bukan dia tidak ingin, tapi dia selalu menahan dirinya, dia memilih menyimpannya sendiri. Dia ingin menjaga hatinya yang sudah terlalu sering tersayat, bahkan dia juga sering menangis karena menyesal terlalu banyak menyakiti hati orang lain.”

“Masihkah itu terjadi?”

“Semakin parah, dia lebih memilih diam jika tidak ditanya apalagi sejak kalian pergi. Kurang diperhatikan lagi seperti dulu dan dia tidak meminta perhatian lagi. Apa kamu tidak sadar sudah jarang pesan-pesan yang terkirimkan untukku?”

“Aku sadar betul itu tapi mau gimana lagi?”

“Aku ingat awal-awal kalian pergi kamu telpon bisa 5-6 kali sehari belum lagi pesan-pesan yang seolah tak putus berbunyi, tapi akhir-akhir ini? Hanya 1-2 kali itu saja sekedarnya dan sudah jarang sekali pesan masuk. Dia tahu ini akan terjadi, dia sudah memperkirakannya. Bahkan jika suatu hari tidak ada lagi kabar darimu sama sekali, ia sudah mempersiapkan diri”

“Maaf….”

“Bukan kamu yang seharusnya meminta maaf, apalah kita yang hanya menjadi penghubung. Betapa sedihnya aku setiap kali dia menatapku dalam genggamnya namun tidak ada pesan ataupun tanda missed call. Dia tersenyum namun aku tahu matanya tidak bisa berbohong, dia selalu berkaca-kaca”

“Tuanku sibuk”

“Aku tak menyangkalnya, aku pun yakin dia lebih tahu dan lebih mengerti. Tapi tahukah kamu tentang apa bedanya seseorang yang diingat jam 2 siang ketika sibuk dan seseorang yang diingat jam 2 malam ketika sepi?” merekapun terdiam.

“Mengapa dia tidak menelpon?”

“Tidak, dia tidak mau meski ingin sekali. Kamu harus tahu posisinya, banyak hal yang masih ingin dia jaga. Padahal aku yakin dia bisa dan sanggup melakukan hal-hal yang tidak pernah engkau bayangkan. Dia ingin berubah, dia tidak ingin jauh dari Tuhan. Setiap malam dia masih bangun lalu bersimpuh, menangis setiap malam, menyesali apa yang sudah dilakukannya, dia terima semua apa yang terjadi sekarang sebagai balasan atas apa yang sudah ia lakukan.”

“Apakah dia masih menyebut nama Tuanku dalam doanya?”

“Selalu. Namun dia butuh lebih dari sekedar penghibur ataupun…,”tercekat, suara berhenti oleh sesak.

“Maksudmu?”

“Kamu takkan pernah menyangka hari dan malam yang ia lalui sendiri. Ia sering kesakitan, tak ada lagi yang menghiburnya ketika penyakitnya sedang berulah. Dia sering sesak dan menangis dalam diam menahan sakitnya. Namun tak sekalipun ia mengeluh pada orang lain ataupun Tuhan. Dia perempuan kuat. Ahhhh seandainya saja kamu tahu penyakitnya….”

“Aku tahu penyakitnya!!! Jangan kamu pikir aku tidak tahu, meski aku tak tahu betapa dia merasakannya, aku tahu itu adalah salah satu penyakit pembunuh nomor satu”

Angin berdesir pelan, membuat gaduh dan derak bambu-bambu seolah bernyanyi mewakili wajah-wajah pias nan pilu. Masih terdengar sisa tangis dan basah gerimis pagi itu. Tanah lembab beraroma duka, dingin menggigit tanpa nyawa. Langkah-langkah mulai terdengar menjauh dan desahan-desahan nafas berat kian sepi.

“Aku masih ingat jelas kejadian kemarin, pagi itu dia pergi bekerja seperti biasa dan aku masuk dalam tas. Baru 10 menit kami di jalan raya tiba-tiba suara klakson melengking dan menyusul dentuman, goncangan begitu hebat, aku terbentur amat keras.”

“Sudahlah tak perlu kau ceritakan jika tak sanggup”

“Tidak, aku tidak apa-apa. Disusul suara ramai dan kalut… semuanya penuh dengan kegaduhan, hingga keesokannya aku dihidupkan lagi oleh Tuanmu karena dia satu-satunya yang tahu sandiku. Tapi aku tak bisa melihatnya lagi.” Senyap, keramaian terjadi pada pikiran masing-masing.

“Selalu ada sisi yang bisa kita syukuri”

“Kamu benar, mungkin ini jalan terbaik untuknya. Untuk kesendirian dan kesakitannya, tidak lagi disakiti ataupun menyakiti. Dan dia tidak menjalani akhir oleh penyakitnya, hal yang sering ia takutkan. Dia sudah bersama yang paling ia cintai dan paling mencintainya.”

“Apakah dia bahagia di hari-hari terakhirnya?”

“Entahlah tentang bahagia, tapi yang pasti dia lebih tentram”

Wangi kamboja dan bunga taburan menyapa halus penciuman, doa selesai dipanjatkan. Komplek pemakaman sudah sepi hanya tertinggal satu sosok yang enggan bergeming. Badan tegapnya tidak mampu menutupi kehampaan dan kerinduan kepada perempuannya yang baru saja berkalang tanah. Tidak ada suara tangis, hanya nafas berat yang tidak teratur.

“Dan selalu ada penyesalan atas hal yang tidak berani dilakukan”.

 

selesai.

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s