Cerpen

Yang Tak Bisa Datang

Mentari belum naik terlalu tinggi ketika aku mendapatinya terduduk di lantai sendiri, menangkupkan lengan pada lututnya. Ia benamkan mukanya, menunduk. Nafas itu turun naik tidak teratur. Aku menyentuh lengannya pelan, ia mendongak. Mata itu bersimbah air mata, ia menangis dalam diam, sendirian, lagi. Aku membiarkannya menangis hingga serasa kering sumber airmatanya. Ia tetap tak mengucapkan sepatah katapun.
“Ternyata hanya kematianku yang membawanya datang,” ucapnya di sela isak tangisnya.
“Dia tak datang ketika aku payah, dia tak muncul ketika aku kesakitan, dia tak menujukkan mukanya ketika aku tak berdaya. Dan sekarang dia datang.”
“Tak lihatkah kau air matanya yang tak berhenti menetes, ia menyesal,” kataku menenangkan.
“Menyesal sudah bukan urusanku, itu urusannya dengan dirinya sendiri. Aku lebih menyesal karena aku baru menyadari begitu tidak berarti aku baginya. Dan air mata itu, hanya menetes ketika aku benar-benar pergi,” jawabnya dengan nada datar.

“Hidupnya juga berat,” aku coba membela.

“Aku tahu itu tanpa kamu perlu mengatakannya ataupun dia yang mengatakannya. Aku tahu hidupnya berat, bahkan mungkin aku manusia yang paling tahu bagaimana beratnya ia menjalani hidupnya sekarang. Tapi itu pilihannya sendiri, dia yang memilih jalan berat itu,” ia yang masih saja bersikukuh.
“Maafkan dia, maafkan dirimu sendiri, kamu berhak pergi dengan damai,” aku yang masih mencoba menenangkannya.
“Benar ucapannya, dia yang hanya bisa menunggu jawaban dari langit, dia yang merasa tak sanggup berbuat apapun. Padahal aku tahu dia mampu mengubah keadaan. Sekarang aku tak bisa lebih setuju lagi, dia sudah mendapatkan jawabannya, jawaban yang turun dari langit,” ia berkata sambil berdiri. Dia mengapit lenganku, mengajakku melangkah menjauhi rumah itu, menjauhi tanah, menjauhi bumi.
“Paling tidak aku sudah merasa damai sekarang, semua situasi sudah terpecahkan. Dan terkadang masalah hanya akan selesai dengan cara dibiarkan, menunggu hingga Tuhan menggerakan tanganNya. Kematianku, salah satunya.”

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s