Cerpen

Jahat (!) / (?)

​Dua ekor kucing sedang berteduh dari hujan, kucing yang lebih kecil berbulu putih dan yang lebih besar berbulu hitam. Mereka melihat rintik hujan yang satu persatu jatuh ke tanah, membasahi rumput dan membuat segar udara kering bulan Agustus.

“Akhirnya kamu pergi dari sana,” kata kucing hitam.

“Ya, akhirnya aku memberanikan diri keluar dari rumah itu,” jawab kucing putih menghela nafas panjang, membuat kumisnya bergerak lucu.

“Bukankah enak di rumah itu?” Kembali Hitam bertanya.

“Enak, nyaman sekali malah. Tapi kamu tidak tahu apa yang aku rasakan disana. Aku sering ditinggal sendirian, Tuan dan Nyonya jarang sekali bermain denganku. Tapi rumah itu akan lebih baik tanpa aku. Dan…” Putih berhenti berucap.

“Tuanmu mengijinkanmu pergi?”

“Aku yang mengacuhkannya, aku mencuri makanan dan membuatnya tidak suka padaku. Dia tak akan pernah mengijinkanku pergi jika aku tak membuatnya benci padaku,” ujar Putih, dia menekuk kaki-kakinya hingga tengkurap.

“Apakah kamu baik-baik saja?” Hitam mengikuti posisi Putih, tengkurap di atas tanah.

Putih menggeleng lemah, “kau tahu? Tuanku mengatakan aku jahat, berulang kali ia mengatakan itu. Berteriak ia di depan telingaku, aku jahat!” 

“Tega sekali ia mengatakan itu, tak sadarkah selama ini dia yang sering menyakitimu? Tak mengertikah ia selama ini kamu tersiksa di rumah itu? Dan kamu terima saja perlakuannya? Kamu bisa membalasnya, cakar saja dia, gigit dia. Aku bisa melakukannya untukmu!” Hitam naik pitam, ia tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.

“Aku diam saja. Tidak tega aku melakukan itu, bagaimanapun dia yang menemukanku ketika aku di jalan, lapar dan kedinginan. Dia juga baik,” jawab Putih lirih.

“Kamu ini terlalu baik jadi kucing,” kata Hitam sambil menyenggol tubuh Putih.

“Awww,” jerit Putih.

“Kamu kenapa? Sakit?”

“Aku hampir tidak bisa keluar dari rumah itu, hingga aku nekat. Aku pura-pura menyerang Nyonya, padahal aku tidak melakukan apapun. Aku punya ide itu karena Tuan sangat mencintai Nyonya dan tidak ingin Nyonya disakiti siapapun, kecuali dia,” Putih menyeringai atau bisa dibilang hampir tertawa.

Putih melanjutkan ceritanya, “Tuan murka, ia langsung menendangku keluar rumah dan mengatakan jangan mengganggu mereka lagi”.

Hitam memandang iba sahabatnya,”Jahat sekali dia padamu, padahal Nyonya itu sering menyiksamu kan? Apakah Tuan tahu? Ah, aku yakin tidak”.

“Darimana kau tahu itu?”

“Ayolah, aku sering melewati rumah itu. Sering aku mendengar Nyonya menghardik dan menyakitimu, namun tak sekalipun kamu balik mencakarnya atau kalau jadi kamu aku sudah menggigit mukanya itu,” kata Hitam dengan nada geram.

“Tidak, seperti yang aku bilang mereka sudah terlalu baik padaku. Lagipula percuma juga Tuan tahu, dia selalu memaklumi apapun yang dilakukan Nyonya padaku”.

“Sungguh tidak adil, kamu kan kucing satu-satunya di rumah itu?” Hitam mencoba membela.

“Hahaha kamu ini lucu, bagaimanapun aku ini kucing. Apa yang dapat aku harapkan? Pembelaan? Bagaimanapun tetap cuma peliharaan!” Jawab Putih menertawakan diri sendiri.

“Jangan-jangan kamu mencintai mereka? Kau ini, manusia itu tidak tahu diuntung, sadarlah. Mereka sudah jahat padamu, kamu ingin pergi dari rumah itu tapi tetap saja kamu masih memberi mereka pengertian.”

“Terkadang memang banyak hal yang tidak bisa kita mengerti.”

Hitam masih terus berargumen, “Kehidupan di luar tidak mudah, kamu akan berjibaku dengan lapar, dingin dan sakit. Berbeda dengan jika kamu tetap di rumah itu, disana hangat, makanan terjamin dan kamu terawat. Pikirkan baik-baik”.

“Disana bukan tempatku, semua kenyamanan itu semu. Kamu lupa aku juga dulu sendirian di jalanan, aku pernah kelaparan, kedinginan dan kesakitan. Tapi aku benar-benar merasakan hidup.”

Hitam menyerah, dengan nafas panjang dia berkata,”Tubuhmu memang lebih kecil dari aku, sering sakit-sakitan pula tapi jika sudah punya kemauan bisa berubah sebesar gajah. Apapun resikonya akan kamu hadapi”.

Putih tersenyum dan memandang hujan dihadapannya, “Aku hanya ingin pergi dari sana, aku tak punya cara yang lebih baik selain membuat mereka membenciku dan akhirnya mereka yang membuangku,”

“Ini semua tidak adil, mereka mengatakan kamu jahat dan menyuruh tak menganggu mereka padahal mereka sudah menghancurkan hidupmu.” 

Hujan semakin lebat, kedua sahabat itu kembali diam menekuni setiap tetesan air yang menyapa bumi.

Selesai

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s