Cerpen

Kayu Manis

​Minggu lalu seorang sahabatku datang ke rumah, dia menghiburku yang sudah berhari-hari terkapar tak berdaya karena sakit. Kondisiku sudah cukup baik, aku memutuskan memasak untuk makan siang.

“Yakin mau masak?” tanyanya.

“Yakin dong, aku sudah enakan. Aku sudah cukup kuat untuk sekedar memasak, dari pada kita tidak makan. Kamu kan tidak bisa memasak,” jawabku mencibirnya, ia pun terkekeh mengakui.

“Lagian sudah lama aku tidak makan enak,” jawabku.

“Serius loh, bukannya kamu kemarin makan salmon. Aku lihat tuh bonnya di ruang tamu,” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

“Makan enak itu bukan dengan apa, tapi dengan siapa,” jawabanku datar yang disambut dengan gelak tawa.

Aku mulai meracik bumbu, memanfaatkan bahan makanan yang ada di kulkas.

“BTW bumbu favorit kamu apa?”tanya sahabatku lagi.

“Kayu manis,”jawabku mantap.

“Yang mana?” dia melihat sederet bumbu di depanku, aku mengambil dan mengangsurkan sebuah potongan kulit kayu kering berwarna coklat yang bergelung. Dia menerima kemudian mencium kayu manis di tangannya.

“Issshhh gini amat baunya, aneh. Kenapa suka?” mukanya berkerut, bibirnya manyun.

“Karena itu adalah wangi rindu,” jawabku lirih.

Dia menatapku menunggu penjelasan lebih lanjut ,”Dalam setiap aroma kayu manis, ada sesak kerinduan yang menyergap. Di setiap harumnya kayu manis, ada hampa yang tak terdefinisikan. Di setiap kerat kayu manis, ada rasa yang kosong”.

“Serindu apakah itu?” tanyanya lagi.

“Serasa akan lebih baik kita hilang ingatan ataupun tak bernafas lagi”.

“Lalu kenapa rindu itu tak disampaikan hingga tak hanya berhenti dalam bau kayu manis,”

“Karena tidak ada penyampai rindu yang lebih erat selain doa,” jawabku.

“Kamu ini bisa saja. Tapi kamu bisa kuat,”

“Harus. Tidak ada rindu yang bisa membuatku jatuh, tidak penyakitku, tidak pula virus ini. Hal yang tidak membuat kita mati, hanya akan membuat kita semakin kuat”.

“Sebenarnya kamu ini sakit kena virus atau sakit karena rindu?” dia bertanya dengan mimik jahil, kamipun kembali tergelak.

“Kenapa kita jadi serius begini, kan cuma mau masak. Ini gara-gara kayu manis kita jadi mellow, kamu mau masak apa sih?” katanya sambil terkekeh.

“Ayam kecap Sumatra,” jawabku sambil mengulek bumbu.

Selesai.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s