Cerpen

Kebodohanmu

​Aku tinggal di sebuah apartemen di tengah kota Bandung bersama seorang sahabatku, dia seorang penulis. Sahabatku itu sudah menerbitkan tiga novel hasil karyanya, dua yang terakhir bahkan berhasil menjadi best seller. Saat pulang kerja malam itu aku menemukannya sedang termenung di depan laptop di ruang tengah apartemen kami. Televisi dimatikan, lampu hanya menyala satu dan hening tanpa suara.

“Sedang serius banget sepertinya?” tanyaku padanya yang sedang duduk di lantai berselonjor memangku laptop.

“Aku sudah duduk seperti ini berjam-jam tapi tidak ada satu kalimatpun yang berhasil aku buat,” katanya sambil menghembuskan nafas panjang, aku tengok laptopnya. Layar putih bersih, tidak ada satu katapun.

“Kamu ingin menulis apa?” tanyaku sambil duduk di atas sofa di dekatnya.

“Aku diminta menulis tentang kebahagian dan keceriaan,” suara itu makin lirih.

“Kamu masih saja terpaku dan tidak bergerak, daftar kebodohanmu itu akan membuatmu semakin terpuruk,” kataku.

“Kebodohanku?” dia menengok padaku dengan dahi berkenyit.

“Kebodohanmu yang pertama, kamu masih saja menangis dan meratap. Padahal dia mempedulikanmu pun tidak. Dia pergi tanpa mempedulikan kondisimu lagi, dia sudah punya kehidupan baru dan dia dengan senang hati tidak membawamu. Kemana dia ketika kamu sakit? Ketika kamu terbaring lemah? Bertanya pun tidak, apalagi datang. Dan kamu masih saja setia menangis,” emosiku naik jika mengingat apa yang terjadi pada sahabatku itu, dia terdiam.

“Dan keras kepalamu itu jadi kebodohanmu yang kedua. Mempertahankan cinta yang sudah entah kemana, usang. Padahal ia telah lama berpaling dan enggan kembali datang. Jika dia benar menginginkanmu, dia tak akan menyakitimu seperti ini. Tok tok tok, keras kepala,” aku ketuk kepalanya dengan jariku. Dia menyenderkan punggungnya di sofa, meletakkan laptop di lantai.

“Yang ketiga, kamu birkan dirimu terpuruk di antara kenangan. Kamu malah seolah menikmati setiap luka dari dia yang mengabaikanmu. Terima bahwa dia sudah pergi, kenangan cukuplah jadi kenangan,” Dia memeluk lututnya mendengar apa yang ku katakan.

“Kebodohanmu selanjutnya, kamu begitu gigih mempertahankan kekecewaan. Sampai-sampai kamu tidak peduli ada seseorang yang sedang mendekatimu, menawarkan kebahagiaan. Tak usah melihatku seperti itu, aku cukup melihat bahwa editor penerbitmu begitu gencar mendekatimu. Sering mengajak keluar, makan atau nonton dan kamu? Selalu saja menolaknya dan memilih duduk sendirian melamun,” matanya mulai berkaca-kaca.

“Kebodohanmu yang kelima, kamu berpura-pura seakan semua baik-baik saja. Sementara hatimu mengaduh inginkan bahagia. Kebahagian yang kamu tutup sendiri dengan segala “kebahagiaanmu” dalam tangis,”

“Cukup…” suaranya serak.

“Dan kebodohanmu yang terakhir, kamu selalu mencoba meyakinkan dirimu sendiri bahwa segala sakit, luka dan perih yang kau rasa adalah cinta. Sekali lagi, kamu seperti menikmatinya. Jika benar cinta tak mungkin ia menyakiti, jika benar cinta tak mungkin ia melukaimu hingga seterpuruk ini, jika benar cinta tak mungkin ia membuangmu begitu saja. Dan jika benar cinta, ia akan mati-matian mempertahankan dan membuatmu benar-benar ada. Sadarlah, cinta tidak seperti ini,”

Ia mulai menangis, menumpahkan segala perih yang selama ini bercokol di hatinya. Aku usap bahunya, sahabatku sebenarnya adalah seorang yang kuat tapi yang terjadi padanya sudah di luar kendalinya.

“Kamu harus bangkit, ingat kesehatanmu. Jika kamu masih seperti ini, bisa semakin memburuk,” kataku dengan pelan dengan mendekatkan kepalaku ke telinganya.

“Aku masih harus berjuang untuk berdiri, urusan sehat atau mati biarkan itu menjadi hak Tuhan,” katanya di sela air matanya yang belum berhenti menetes.

“Kamu akan baik-baik saja,” aku menambahkan sambil mengangsurkan tisu dari meja di sebelah sofa.

“Aku tahu aku akan baik-baik saja, tapi tidak hari ini ataupun besok. Mungkin suatu hari,” Dia mulai tenang, mengusap air matanya. Kami hening sejenak.

“Oiya betewe, kapan jadwal menemui doktermu?” aku ingat dia punya jadwal rutin setiap enam bulan untuk bertemu dokter spesialis yang menangani penyakitnya.

“Harusnya bulan lalu, bukan dokter yang bisa menyembuhkanku. Seperti yang aku bilang tadi, biarkan sehat dan matiku menjadi hak Tuhan,” ia bangkit berdiri dan mengambil laptopnya.

“Terima kasih untuk semuanya, selalu menemani dan mengingatkanku. Aku ingin tidur,” dia tersenyum dan berbalik, berjalan menuju kamarnya.

Selesai.

Dikembangkan dari puisi karya Brili Agung dengan judul yang sama.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s