Cerpen

Dunia Seperlu-Nya

Rinai hujan menyapa kaca jendela, ku lihat rintiknya dari dalam. Surau di sebuah pesantren di daerah Bogor, pesantren ini milik teman baikku. Selepas Shalat Ashar, surau sepi. Para santri sedang melakukan kegiatan mandiri, aku memilih duduk sendiri. Mencermati apa yang terjadi. 

Guntur sesekali menggelegar, aku tersenyum sebentar mengingat pada seseorang yang takut guntur. Betapa rindu aku padanya, yang sudah enggan bertemu denganku.

Bulan ini tepat tiga bulan aku bekerja sebagai Senior Manager sebuah Bank asing, gajiku sangat tinggi bahkan aku sendiri tidak menyangkanya. Tapi sebenarnya ini menyalahi keyakinanku, aku tahu apa yang kudapat adalah rejeki haram. Namun aku tidak punya pilihan, lagi pula istri yang kunafkahi sangat mendukungku. Meski banyak yang menentang, aku tetap pindah dari pekerjaanku yang dulu. Ada seseorang menantang keberanianku untuk segera keluar, kuabaikan. Bagaimana aku menjalani kehidupanku jika aku tidak punya pekerjaan? Toh dalam berjalannya waktu, aku sudah melamar berbagai perusahaan. Aku pasti akan diterima nanti. 

Namun aku lupa, rejeki adalah turun dari langit, ada yang mengaturnya. Seminggu yang lalu Bank tempat aku bekerja memutuskan tidak memperpanjang masa percobaanku. Aku diusir, aku pengangguran.

Aku ingat kata-kataku ketika teman di perusahaan lama mengajakku kembali bekerja di sana ,”Jika mereka mau bayar aku 25 juta saja, aku mau kembali”. Ahhh, betapa sombongnya aku saat itu. Menjual keyakinan pada sebuah angka.

Dengan tidak adanya pekerjaan, kini aku tak mampu membayar cicilan rumah, mobil dan hal-hal lain. Semuanya melayang.

Kiamat kecilku belum berakhir, istriku mengusirku dengan segala macam masalah kami. Keluarga menyalahkanku atas semua yang terjadi. Tak mampu lagi aku membayangkan apa yang kualami.

Dan aku disini, menyepi. Mempertanyakan keadilan Tuhan. Semua yang ku punya, diambilNya dalam sekejap. Aku seperti terasing, tidak ada yang menginginkanku. Padahal aku shalat, aku puasa dan aku juga mengaji.

Aku tahu aku harus menerima, semua takdirNya, pasrah pada jalan-Nya. Seperti kata sahabatku, bahwa kepasrahan adalah bentuk keyakinan terhadap kehendak-Nya yang sesungguhnya . Mungkin aku memang harus dilempar sejauh ini agar aku sadar bahwa kita harus hidup dalam dunia seperluNya.

Selesai.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s