Cerpen

(Bukan) Cerita Akhir

​Sudah hari ketiga aku disini, di sebuah Pondok Pesantren di sebuah kota pinggiran. Tempat yang menyenangkan dan tenang, selalu diselingi tawa santri dan mereka yang mengaji. Kebetulan pemilik Ponpes ini adalah kenalanku. Hari Jumat, aku suka sekali hari Jumat apalagi memasuki waktu Ashar seperti ini. Waktu yang mustajab untuk berdoa, sore hari yang tenang atau biasanya kalau sedang di kantor senang membayangkan libur telah di depan mata.

Setelah Shalat Ashar berjama’ah dan selesai dzikir, aku membuka Mushaf Al-qur’anku. Mengambil pembatas tanda terakhir membacanya, baru sekitar lima ayat membaca seseorang mendatangiku. Ternyata Euis, santri putri yang menjadi teman sekamarku dua malam terakhir. Aku berhenti membaca dan tersenyum menengok ke arahnya.

“Teh, punteun. Dipanggil Pak Ustadz di serambi masjid,” ucapnya sambil sopan duduk di dekatku, aku mengangguk.

“Nuhun Neng Euis,” aku tutup mushafku dan berjalan menuju serambi.

Di serambi masjid, Kang Akhmad sang pemilik pesantren tidak duduk sendirian. Kang Akhmad duduk bersama seorang pria, mereka menghadap ke arah luar masjid, membelakangiku. Pria itu memakai baju koko putih dan peci rajut putih, tanpa pria itu menengok melihat bayangan pria itupun aku tahu siapa dia. Baju dan peci itu aku yang membelikannya, bahkan aku masih ingat di mana dan kapan aku membelinya.

Aku duduk sekitar dua meter dari mereka, tanpa bicara. 

“Mba, maaf ada tamu. Saya tinggal, silahkan. Assalamu’alaikum,” Kang Akhmad beranjak dan meninggalkan kami.

“Wa’alaikumsalam,” jawab kami bersamaan.

Gerimis mulai turun, dingin menyergap. Aku membetulkan letak syal hitam putih yang kulilitkan di leherku menumpuk dengan jilbab, sepersekian detik aku sempat berhenti. Mengingat syal yang kupakai ini adalah pemberian orang yang sekarang duduk tak jauh dari aku, entah sejak kapan syal ini selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Sama seperti boneka pembatas buku kecil berbentuk harimau yang selalu ada di tasku, hadiah ulang tahun darinya.

“Kamu kurus banget De’?” kalimat pertama muncul darinya, suara itu yang dulu selalu mampu menenangkanku sekaligus penyembuh bagaimanapun kondisiku.

“Beratku turun lima kilo dalam sebulan,” jawabku lirih, dia terdengar menghembuskan nafas panjang.

“Ade’ pulang yuk, Abang antar.. “ pintanya.

“Pulang kemana?” aku balik bertanya.

“Ade’ maunya kemana? Ke Bandung, Temanggung atau Tangerang?” dia menyebutkan semua tempat yang selalu aku sebut pulang, dimana keluargaku berada.

“Ke Rahmatullah,” jawabku singkat.

“Ade’… jangan ngomong gitu,” ujarnya lirih, aku memberanikan diri menatap wajahnya. Wajah tirus yang seolah berabad-abad tak pernah kulihat, rindu terlalu sesak untuk diungkapkan. Wajah yang dulu selalu mampu membuatku tertawa ketika aku sedang tidak ingin tersenyum sekalipun. Di ujung matanya ada setitik tangis, aku tersenyum miris.

Hujan mulai deras, menemani hati kami yang seolah tak berhenti menitikkan luka.

“Abang kok bisa disini?” tanyaku.

“Hari Rabu, tiga hari lalu Bosmu menelponku. Dia bertanya ada apa denganmu, mengapa semua handphone mati, dan tak ingin dihubungi. Abang ga bisa jawab kalau Abang ga tau, Abang ga bisa jawab kalau sudah dua bulan ini kita tidak ada komunikasi yang berarti, itu seperti menyalahi omongan Abang ketika menitipkanmu padanya ketika Abang pergi,” dia bercerita panjang lebar.

Aku ingat hari Rabu lalu, selepas Subuh entah apa yang mengilhamiku, aku mengirim pesan whatssapp ke Bosku bahwa aku ada urusan penting dan aku tidak akan bisa dihubungi. Aku juga mengirim pesan ke anak buahku agar mereka menyelesaikan beberapa tugas kantor selama aku pergi, setelah itu handphone yang diberikan sebagai fasilitas kantor aku matikan. Mulai mengemasi beberapa pakaianku dan beranjak keluar rumah menuju Pondok pesantren ini. Aku sempatkan mengirimkan pesan whatsapp ke Kang Akhmad dengan ponsel pribadiku bahwa pagi itu aku akan berkunjung dan mungkin akan menginap beberapa hari untuk I’tikaf.

Dalam perjalanan, aku juga menelpon orang tuaku seperti biasa, memberi kabar dan bercerita. Sesampai di pesantren aku disambut Kang Akhmad dan istrinya, tak berapa lama ponsel pribadiku pun aku matikan. Keduanya belum aku aktifkan lagi sampai detik ini. Aku juga meminta kepada Kang Akhmad untuk berjanji tidak mengatakan pada siapapun bahwa aku disini, beliau menyanggupi.

“Abang hanya menjawab ke dia kalau Abang akan coba tanyakan, tapi ternyata dua ponsel kamu mati. Lalu menelpon teman kosmu, mereka tidak ada yang tahu dimana kamu. Mereka ikut membantu mencari tahu ke teman kantor lamamu dan juga teman kuliahmu, namun semuanya nihil,” ia terus saja bercerita.

“Hingga keesokannya tetap tidak ada kabar, Abang memberanikan diri menelpon Ibu,” aku menengok padanya ketika ia mengatakan itu.

“Orang tuamu seperti baik-baik saja, tidak ada kepanikan atau menyadari kamu menghilang. Abang tidak tega mengatakan kamu menghilang dan tidak bisa dihubungi,” 

“Abang, aku mohon dengan sangat. Jangan pernah menghubungi orang tuaku lagi, cukup mereka terluka tidak perlu Abang tambah lagi. Jika Abang masih melakukannya, aku akan melakukan hal yang sama. I’ll call your family,” dia tahu benar aku bukan seorang yang suka menggertak, aku akan melakukan apa yang aku katakan.

“Abang tidak bisa berjanji soal itu,” tukasnya.

“Jadi Abang juga tahu konsekuensinya,” jawabku tegas.

Kami diam sejenak, hanya berlatar suara hujan. Aku melihat mobil hitam di parkiran, aku mengenalinya meski hujan membuatnya terlihat tidak begitu jelas. Mobil yang dulu sering membawa kami bepergian bersama. Seandainya saja aku sempat melihat mobil itu datang, mungkin aku bisa mengatisipasi kedatangannya.

“Dua malam Abang tidak bisa tidur, kamu tetap tak ada kabar. Abang tahu ini pasti berhubungan dengan Abang,” ia melanjutkan bercerita.

“Hingga tadi pagi Abang setengah putus asa menelpon Kang Akhmad, entahlah Abang seperti mendengar suaranya sejak semalam. Abang bercerita padanya bahwa Abang sudah sangat menyakiti seseorang dan tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya, tanpa mengatakan apa-apa Kang Akhmad malah meminta Abang untuk segera kesini sebelum semuanya terlambat. Abang ingat kamu juga mengenal Kang Akhmad,” aku juga tak bisa menyalahkan Kang Akhmad, ia masih tetap menjaga janjinya untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa aku disini.

“Abang membatalkan semua meeting dan setelah Shalat Jumat dari Jakarta Abang langsung kesini,” aku mendengus mendengar ia mengatakannya, seharusnya ia tidak perlu mengatakan tentang pekerjaannya yang sangat aku benci itu dan dia yang terlalu pengecut untuk keluar dari sana.

“Sampai di sini Abang yakin bahwa kamu ada, meski Abang belum melihat kamu,” ia terus bicara tak mempedulikan reaksiku, mungkin dia sudah terbiasa dengan sikapku ketika menceritakan pekerjaannya.

Kemudian kami diam, mencerna apa yang telah berlalu. Kami yang dahulu tak bisa dipisahkan, sekarang seperti orang asing yang canggung.

“Bagaimana rencana pernikahanmu?” akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirnya.

“Aku membatalkannya,” jawabku singkat tanpa penjelasan lebih lanjut. Dia menatapku tak berkedip, berkaca-kaca.

Masih segar dalam ingatanku, didetik-detik kepulanganku dari Temanggung ke Bandung minggu lalu aku mengatakan itu kepada orang tuaku. Ibu memelukku dengan erat, beliau tak memerlukan penjelasan kenapa aku melakukannya. Aku tahu, perempuan yang melahirkanku itu lebih terluka dari aku sendiri.

“Ibu ingin sekali lari bersamamu,” beliau mengatakan itu dengan tangis yang ditahan sebelum aku naik ke mobil travel yang akan membawaku ke Bandung. Aku ingin sekali selalu berada di sisinya, tapi aku harus meneruskan pekerjaanku. Dan lari, itu yang mungkin yang sedang aku lakukan sekarang. Lari dari kenyataan yang menghimpitku.

“Kenapa?” dia bertanya yang aku jawab dengan seulas senyum sinis.

“Karena Abang?” dia mendesak.

“Abang, pulanglah,” kataku.

“Tidak, Abang ingin mengantar Ade’ pulang ..”.

“Kebohongan apalagi yang akan Abang buat untuk mengantarku nanti?” ucapku dengan nada sedikit naik.

“Sudah cukup Bang, sudah cukup aku menjadi penyebab Abang berbohong. Terlalu banyak kebohongan yang Abang buat,” aku hampir menangis ketika mengatakannya.

Dia terdiam.

“Aku akan pulang sendiri nanti, aku hanya butuh menenangkan diri. Pergilah Bang, bawa semua rasa bersalah Abang. Pulanglah.. pada kehidupan kepura-puraan yang Abang cintai itu,” aku beranjak dari serambi, kembali memasuki masjid.

Aku terduduk menghadap mushafku lagi, meminta ampunan kepada Maha Pengampun atas semua dosa yang telah kubuat. Meminta kekuatan dan petunjuk jalan keluar untuk kami berdua, cerita yang belum juga selesai. Menghabiskan sisa waktu mustajab hari itu, merajuk pada Tuhan melalui ayat-ayat-Nya. Melimpahkan semua gemuruh yang sesak, aku yang masih setia menanak tangis dan menanam rindu. Aku melihat ke pergelangan tanganku, gelang kayu pakis yang kami beli bersama yang sampai kini pun belum mampu aku tanggalkan.

Aku memaksakan diriku tersenyum, akan kujalani malam-malam sunyi berduaan dengan-Nya. Mendirikan kembali tembok hatiku yang runtuh karena pengharapan pada manusia, menyusun kembali puing-puing kebahagiaan bersama Sang Penawar Luka. Aku yakin Dia pasti akan terus menemaniku untuk segera bangkit berdiri.

Selesai

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s