Cerpen

Rinjani (bag. 1)

​Kerinci, September 2011.

Mata itu mengerjap, melihat ke sekitar. Bulu mata lentiknya menari seiring gerakan kepalanya, kemudian menyipit menentukan fokus dengan bola mata coklat mudanya. Sebuah ruangan dengan dinding, atap dan lantai kayu. Hanya ada satu lemari sederhana yang kemungkinan berisi pakaian. Ada bau aneka jamu menyeruak, suara gemerisik dedaunan terdengar, kemudian pintu terlihat terbuka. Seorang perempuan renta masuk membawa mangkuk berisi cairan, usianya menjelang tujuh puluh tahun namun masih terlihat bugar. Suara deritan dari lantai kayu terdengar karena langkah perempuan tua itu, ia baru menyadari rumah itu adalah rumah panggung.

“Nak, sudah bangun?” suara ramah nan keibuan.

“Saya dimana?” Ia mencoba duduk, ada nyeri muncul dari sendi-sendi kakinya, meringis. Dia tidur di atas sebuah kasur yang menghampar di lantai.

“Ini di rumah saya, gadis namanya siapa?” diletakkannya mangkuk di hadapannya.

“Rinjani,” jawabnya lemah, “Ibu siapa?”

“Panggil saja aku Mak Mimi, ini diminum dulu biar cepat sembuh,” Mak Mimi menyodorkan mangkuk ke Rinjani.

“Pahit-pahit, telan, itu obat. Kakimu retak dan badanmu penuh luka setelah jatuh dari tebing. Mukjizat kamu masih hidup, tebing itu tingginya lima belas meter. Lagipula kau, anak gadis musim hujan naik gunung,” Mak Mimi bicara tak henti, tak menghiraukan Rinjani yang nyengir kepahitan.

“Rombonganku?” Rinjani mengelap mulutnya dengan lengan baju.

Mak Mimi menaikkan bahu sebentar, “Tempat ini lumayan susah dijangkau, akan butuh paling tidak tiga hari dari jalan normal. Mereka belum sampai kesini”.

Rinjani mengkerutkan dahi, “ Sudah berapa hari aku tidak sadar?”

Mak Mimi mengacungkan dua jari tangan kanannya.

“Mak Mimi tinggal bersama siapa?” Rinjani mencoba melihat ke sekitar, tidak ada siapapun selain mereka berdua.

“Sendiri,” Rinjani melotot begitu mendengarnya.

Mata tua kemudian terlihat sayu, “Dulu aku di sini bersama suamiku, kami merawat hutan di sini. Kami tinggal berdua di sini, hidup bersama alam. Suamiku meninggal setahun yang lalu”.

Dia melanjutkan bercerita, “Alam sudah menjadi rumahku, aku tidak menemukan tempat yang lebih tenang. Meski sendiri aku masih merasakan suamiku masih selalu di sampingku, tak sedikitpun aku merasa kesepian. Dia pasti bahagia di sana, untuk itu aku juga harus tetap bahagia”.

Rinjani hanya menelan ludah, mengingat nasibnya sendiri.

Bandung, Agustus 2011.

“Kakak beneran mau berangkat? Ini musim hujan, cuaca sedang tidak kondusif. Ayolah Kak,” dengan nada tinggi Yuma menerobos kamar Rinjani.

“Beneran, semua sudah dipersiapkan,” Rinjani menjawab datar, sambil sibuk memilah-milah baju dari lemarinya.

“Kerinci jauh Kak, pasti Kakak belum ngasih tahu Bunda. Pasti Bunda ga bakal izinkan,” Yuma menghembuskan badannya duduk di ranjang.

“Kakak tahu Kerinci jauh, kamu jangan iseng kasih tahu Bunda. Selesain aja skripsi kamu dengan tenang,” Rinjani sedikit mengancam. “Kakak akan baik-baik saja, adekku yang manis”.

Muka Yuma berubah sendu, “Kakak ga pernah baik-baik saja. Sejak…”

Badan Rinjani menegak, “Kakak butuh waktu”. Suaranya mendadak meninggi.

“Kalau memang waktu yang Kakak butuhkan, bersabarlah. Bukannya lari seperti ini, dimana pun Kakak jika belum bisa menerima keadaan, akan percuma,” nada suara Yuma lirih, tercekat menahan tangis.

“Kakak perlu refreshing,”

Yuma tetap menentang, “Tapi bukan begini caranya, membahayakan diri sendiri. Naik gunung saat musim hujan tidak disarankan. Kakak… yang sudah pergi, takkan pernah kembali”.

“Cukup Yuma, Kakak tetap pergi. Mending kamu keluar dari kamar Kakak, Kakak mau istirahat,” beringsut keluar kamar, Yuma tahu Kakaknya sedang emosi. Ia tak mau malah bertengkar dengan saudaranya satu-satunya itu.

“Kakak harusnya banyak bersyukur, banyak yang ingin punya hidup seperti Kakak. Cantik, pintar, banyak teman, karir mapan,” Yuma mengatakannya sebelum menghilang di balik pintu.

Rinjani mematung.

bersambung..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s