Cerpen

Rinjani (bag. 2)

Kerinci, Januari 2012.

Rinjani berangsur sembuh, Mak Mimi merawatnya dengan sangat baik. Rinjani melihat bagaimana Mak Mimi sehari-hari berkeliling hutan, menanam pohon dan merawat binatang yang sakit atau terluka. Tidak ada satu hari pun yang dilewati Mak Mimi dengan tidak tersenyum.

Satu hari setelah Rinjani siuman, tim SAR menemukannya di rumah Mak Mimi. Keputusan besar diambil Rinjani, ia ingin tetap tinggal bersama Mak Mimi di hutan. Tentu keluarga awalnya menentang keputusan Rinjani yang dinilai gegabah, namun Rinjani tetap pada pendiriannya.

Satu sore saat gerimis, Mak Mimi dan Rinjani duduk di tangga masuk rumah. Masing-masing memegang secangkir kopi hangat di tangannya.

“Mak, bagaimana masih bisa tetap hidup di tempat yang sama meski Mak sendirian?” Rinjani bertanya, matanya menerawang jauh menembus pepohonan.

“Karena ini hidupku,” mata tua itu tersenyum.

“Meski banyak kenangan yang ditinggalkan suami Mak di sini?”

Mak Mimi meneguk kopinya, “Justru aku bisa hidup karena itu”. Kemudian menghembuskan nafas pelan-pelan, “Melepaskan bukan tentang melupakan, namun menerima keadaan”.

“Seperti kita yang terpercik air hujan, akan lebih menyenangkan jika kita justru menerobos hujan dan menari di bawah rintiknya. Ada banyak hal di dunia ini yang di luar jangkauan manusia, jika kita tidak bisa mengubahnya, maka sikap kita yang harus berubah menghadapinya,” Rinjani melihat senyum Mak Mimi begitu tenang ketika mengatakannya.

Mak Mimi menengok ke arah Rinjani, “Sampai kapan kau akan terus di sini? Sudah empat bulan kau di sini, belum ada tanda-tanda mau pulang. Rinjani, kau masih muda Nak. Kemungkinan hidupmu masih panjang, menikahlah dan berkeluarga”.

“Aku tak yakin aku bisa jatuh cinta lagi,” ada setitik air mata di sudut mata Rinjani.

“Lalu, apakah kau juga tak yakin Tuhan pasti akan mengganti sesuatu yang lebih baik setelah Dia mengambil sesuatu darimu?” Rinjani tertegun mendengar penuturan Mak Mimi.

“Jangan naif Nak, Tuhan Maha Cinta dan Maha Adil,”

Hujan semakin deras, menimbulkan tepisan semakin banyak. Mak Mimi mengajak Rinjani masuk rumah.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Sampai kapan kau akan di sini?” tanya Mak Mimi begitu mereka duduk di lantai ruang depan.

“Aku ingin selama mungkin di sini. Hidup di tengah hutan dan tinggal di rumah kayu adalah impiannya. Aku akan meneruskan hidupku dalam impiannya,” Rinjani tersenyum kecut.

“Terserah kaulah,” Mak Mimi terkekeh.

Rinjani meninggalkan semua kehidupannya untuk tinggal bersama Mak Mimi. Dia mengajukan pengunduran diri dari kantor tempatnya bekerja seminggu setelah ia sadar. Meninggalkan kehidupan mapan dan nyamannya untuk tinggal di tengah hutan Sumatera. Kesehariannya dihabiskan bersama Mak Mimi keliling hutan menanam pohon, merawat binatang dan menulis.

Kegiatan terakhir adalah hal yang tak mampu ia tinggalkan, seminggu setelah siuman ia meminta Yuma untuk mengiriminya laptop dan sebuah diesel kecil. Ketika menulis Rinjani seakan hidup dalam dunia lain, dia bisa sejenak meninggalkan segala hiruk pikuk hatinya. Ketika jarinya menari di atas keyboard, jiwanya menghilang membentuk semesta tersendiri.

“Mak, sebenarnya hari ini aku ulang tahun,” Rinjani mengatakannya tiba-tiba setelah mereka terdiam untuk beberapa saat.

Mak Mimi melotot demi mendengar apa yang dikatakan Rinjani, “Kenapa baru bilang sekarang? Kalau tahu sejak awal, Mak akan masak Gulai Pakis kesukaanmu”.

Mak Mimi beranjak dan membuka pintu, “Hujan sudah reda, karena sedang ulang tahun Mak akan ajak kau ke suatu tempat”.

Rinjani ikut berdiri, “Kemana?”

bersambung..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s