Cerpen

Rinjani (bag. 3)

Rinjani ikut berdiri, “Kemana?”

Mak Mimi tak menjawab, ia hanya mengisyaratakan Rinjani untuk mengikutinya. Rinjani bergegas mengikuti langkah Mak Mimi keluar rumah. Mereka berjalan menyusuri hutan, air tetesan bekas hujan yang tersisa dari daun-daun pohon sesekali menyapa mereka. Jalan mulai menanjak dan cenderung curam, dengan cekatan Mak Mimi melangkah seraya memegang tebing sebagai pegangan agar tidak jatuh.

Rinjani tergagap mengikuti langkah Mak Mimi. Meski ia jauh lebih muda, Rinjani kalah dalam hal pendakian. Beberapa kali ia terpeselet di tebing, tanah licin akibat hujan. Setelah dua puluh menit berjalan, mereka sampai pada satu bukit tersembunyi. Pemandangan yang disajikan sangat di luar dugaan Rinjani. Dari tempat itu ia bisa melihat dengan jelas, hutan terhampar hijau. Dari jauh garis cakrawala indah seumpama selendang jingga. Pelangi juga ikut menghiasi langit, seolah-olah bidadari-bidadari sedang turun dari kahyangan menyapa bumi Sumatera. Mata Rinjani tak berkedip melihat pemandangan di hadapannya, mulutnya bergumam mengucap pujian kepada Tuhan.

“Ini adalah tempat favorit Mak dengan suami, kami sering kesini,” Mak Mimi memecah waktu yang seolah berhenti bagi Rinjani.

“Mak, ini luar biasa,” gumam Rinjani.

“Sesuatu yang dicapai dengan tidak mudah, akan membuahkan hasil yang tak biasa,” Mak Mimi tersenyum melihat reaksi Rinjani.

Matahari terlihat malu-malu akan tenggelam, menyiratkan cahaya ufuk jingga.

Rinjani mendesah, “Kami sangat menyukai alam, banyak perjalanan yang kami lalui bersama. Salak, Moko, Galunggung, Pangandaran, Batu Karas, Puntang, Cirata, Papandayan, Sumbing. Tapi semua itu harus berhenti”.

“Bersyukurlah dia pernah hadir di hidupmu, melewati satu masa bersama. Hilangkan kekecewaan karena semua harus berhenti. Tidak ada sesuatu yang terjadi karena kebetulan, dia pernah ada karena satu tujuan,” Mak Mimi duduk di batu besar. Rinjani menengok ke Mak Mimi, “Membuatmu menjadi perempuan yang lebih kuat,” Mak Mimi meneruskan kalimatnya.

“Sampai sekarang aku belum membaca surat terakhirnya, aku belum sanggup membacanya,” Rinjani lirih menahan air mata agar tak jatuh.

“Tak sanggup membaca atau kau belum menerima bahwa itu adalah surat terakhirnya?”pertanyaan Mak Mimi yang hanya mampu dijawab Rinjani dengan senyum kecut.

“Bagaimana novelmu?” nada suara Mak Mimi kali ini ceria.

Rinjani tersenyum lebar, “Hampir selesai, hanya tinggal finishing. Aku juga sudah membuat draft untuk novel kedua”.

“Wah, tentang apa untuk yang kedua?” Mak Mimi tahu Rinjani akan selalu bersemangat jika membahas tulisannya.

“Yang kedua tentang “serigala”, dan kedua ceritaku adalah idenya. Aku mencuri idenya,” Rinjani tertawa getir.

“Hiduplah dalam mimpi kalian, tapi tetaplah berpijak pada kenyataan,” Mak Mimi mengelus punggung perempuan muda yang sudah menjadi anaknya selama empat bulan ini.

Rinjani mengangguk mantap, kali ini ada tegar dalam matanya.

Jakarta, November 2012.

Udara ibukota semakin sesak, mentari seolah semakin bersemangat menancapkan cahayanya di bumi beraspal. Rinjani melangkah pelan, kemudian berhenti pada satu titik. Ia mengambil nafas panjang, ini adalah kali pertama menjejakkan kaki di tempat itu setelah lebih dari setahun. Terdengar derak nipah menari ditiup udara lembab bulan November.

Rinjani kembali mengayunkan kaki, tiga belas langkah kemudian ia berhenti lagi. Ia melihat ke sekeliling, pohon nangka yang menjadi patokannya masih gagah berdiri di sana. Kemudian ia berbelok ke kanan, hanya satu langkah lalu benar-benar berhenti. Di tatapnya tumbuhan merambat yang subur, ia berasumsi sudah beberapa lama tidak ada yang berkunjung.

M. Alam

Lahir : Kendari, 27 Oktober 1983

Wafat : Jakarta, 06 Juni 2011

Rinjani merendahkan tubuhnya, ia membersihkan perlahan nisan hitam itu dari tumbuhan merambat dan rumput-rumput kecil. Kemudian ia terlihat menutup mata dan memanjatkan doa.

“Hai, apa kabar kamu? Maaf sudah lama tidak berkunjung, aku sibuk untuk bertahan hidup,” lirih Rinjani bicara, sendiri.

“Selamat ulang tahun, sayang,” Rinjani meletakkan bunga yang sedari tadi ia genggam.

Masih segar dalam ingatan Rinjani di tahun sebelumnya, kekasihnya itu tiba-tiba pingsan dan tak pernah bangun lagi. Selama ini, ia ternyata mengidap kanker otak. Hal yang selalu ditutupinya dari semua orang, termasuk Rinjani. Selama ini Rinjani tahu bahwa kekasihnya sering merasa sakit kepala, namun selalu menjawab ia baik-baik saja.

Rinjani mendesah, “Hari ini aku ke Jakarta untuk menandatangani MOU dengan penerbit, mereka akan menerbitkan bukuku, idemu. Aku juga sudah menulis cerita lain, lagi-lagi idemu. Maaf ya”.

“Maaf juga, aku sudah menanggalkan semua pemberianmu. Semua barang-barang itu, aku rapikan agar menjadi kenangan. Namun, aku juga akan meneruskan hidupku,” Rinjani tersenyum. “Kamu yang bahagia di sana, karena aku juga bahagia di sini”.

Lalu Rinjani bangkit, sekali lagi menatap nisan itu dan kemudian tersenyum. Tidak ada lagi air mata yang tergenang, tidak ada lagi bunyi “krakkk” dalam otak Rinjani, yang ia asumsikan sebagai suara hatinya yang patah setiap kali ia mengingat Alam. Dengan tenang Rinjani keluar dari komplek pemakaman di tengah ibukota itu. Langkahnya ringan, matanya tegar.

Tamat.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s