Tentang

Memulai Kembali

Sudah hari ke-delapan di tahun 2017, seperti biasa tidak ada perayaan khusus di tahun baru. Tahun 2016 bukanlah tahun yang mudah, sejak hari pertama hingga hari terakhir terlalu banyak rincian yang membuat aku sadar, betapa kecil kita sebagai manusia. Aku tidak akan bilang tahun 2016 adalah tahun terberat, toh aku bisa melewatinya. Meski banyak air mata, toh banyak tawa juga yang menyertai. Meski banyak harus melepasan, toh banyak yang hal baru menghampiri. Sempat terseok, seperti masuk ke dalam jurang terdalam. Tertatih untuk bisa bangkit berdiri kembali, namun justru disadarkan pada hal yang lebih besar. Kehilangan yang aku kira besar, ternyata hanya secuil dibandingkan dengan kehilangan yang terjadi di penghujung tahun.

Kemarin 7 Januari 2017 seharusnya adalah ulang tahun Bapak yang ke 76. Seharusnya sepertinya kurang tepat, karena seperti menyangkal takdir yang sudah terjadi. Umur beliau dicukupkan Allah swt di usia 76 tahun kurang dua minggu. Kamis malam tanggal 22 Desember 2016, Bapak dipanggil ke Rahmatullah. Sebuah hari yang diwanti-wanti Ibu untukku selalu kuat, selalu bersiap sejak jauh-jauh hari.  Sejak kondisi Bapak semakin melemah dua bulan terakhir, keluar masuk Rumah Sakit enam bulan terakhir. Empat bulan terakhir, aku sering pulang. Dulu aku biasanya pulang dengan jadwal suka-suka, mengikuti tanggal merah itupun juga kalau tidak ada acara liburan. Akhir-akhir ini ini aku pulang dua-tiga minggu sekali, aku sempatkan. Bukan aku yang menyesal seumur hidup.

Aku ingat terakhir aku pulang, ketika Bapak sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan hanya terbaring di tempat tidur. Malam kami mengobrol sambil aku memijatnya, tiba-tiba beliau menginginkan sesuatu yang dingin untuk dimakan. Aku iseng menawarinya es krim, Ibu melotot mendengar usulku, namun Bapak mengiyakan. Aku berjanji padanya untuk membeli es krim keesokan pagi. Tak disangka sejak itu, es krim menjadi makanan rutin Bapak tiap hari sampai Beliau meninggal. Juga, permintaan terakhir yang diucapkannya kepada anak bungsunya ini.

Masih jelas dalam ingatan tanggal 12 Desember 2016, ketika aku pamit Bapak menangis melepas keberangkatanku. Aku mencium tangan dan pipi beliau yang sudah sangat tirus. Dan itu menjadi terakhir kali kami berjumpa sebagai manusia di dunia. Alhamdulillah, bukan aku yang menyesal seumur hidup.

Allah swt sungguh memberikan kekuatan luar biasa padaku ketika harus melewati setiap kejadian pada hari wafatnya Bapak, yang jika aku pikir terkadang aku heran bagaimana aku bisa melewati semuanya. Kamis pagi begitu tiba di kantor, Masku mengirim WA kalau dia merasa resah dan ada yang mengganjal. Setelah berbalas beberapa saat, dia memutuskan untuk pulang malam itu. Aku menjalani pagi seperti biasa, sampai ketika aku selesai rapat jam 11 ponsel yang aku letakkan di meja ada beberapa panggilan tak terjawab. Sepupuku. Aku bergetar ketika menelpon balik, tidak diangkat. Aku menelpon Ibuku dan yang menjawab Bulik (Tante), beliau mengatakan Bapak koma. Lemas, seperti persendian dilepas dari tubuhku. Setelah berbicara sejenak dengan atasanku, akhirnya aku memutuskan untuk pulang hari itu juga.

Aku mencari penerbangan, kereta api, travel paling cepat dan apesnya itu adalah masa liburan, semuanya penuh. Aku tidak punya pilihan selain travel yang biasa aku gunakan ketika pulang, berangkat malam yang berarti akan sampai rumah besok pagi. Seharian aku tidak bisa fokus pada pekerjaan, seolah ingin lari tapi tidak bisa melakukan apapun. Hari yang sangat panjang, sesekali aku menangis, namun aku ingat pesan Ibu untuk selalu menyiapkan hati untuk segala yang hal yang terburuk. Bukan aku yang menyesal seumur hidup.

Tiba malam ketika travel datang, aku menelpon rumah untuk kesekian kalinya dan kembali Bulik yang mengangkat. Beliau berkata untuk tenang dan pulang dengan selamat, dan tidak mengatakan apapun. Dua belas menit kemudian, ada dering masuk dari nomor ponsel Ibuku. Aku menghela nafas, berpikir perjalananku masih panjang, apakah aku kuat. Aku mengangkatnya dan seperti yang sudah aku duga itu adalah berita kepergian Bapak. Masku yang menelpon, aku hanya mampu bilang aku baik-baik saja. Aku tahu saat itu yang bisa aku lakukan adalah hanya kuat, tidak ada seorangpun yang bisa membantuku. Tidak ada seorangpun yang bisa memelukku atau aku jadikan tempat untuk menangis atau bersedih. Semua penumpang di dalam travel orang asing, yang mukanya pun aku tidak tahu karena gelap. Sungguh pertolongan Allah itu nyata, aku dikuatkan sepanjang delapan jam perjalanan terlama dalam hidupku.  Sungguh, bukan aku yang menyesal seumur hidup.

Bisa dibilang aku sedikit menyangkal kenyataan kepergian Bapak sepanjang malam itu, aku meletakkan ponselku. Aku tidak mau dihubungi siapapun atau menghubungi siapapun, sepanjang malam aku hanya berusaha memikirkan hal lain dan berzikir. Tak sekejap pun mata terpejam, otakku terlalu ramai dengan hiruk pikuk suaraku sendiri. Hingga aku tiba di kotaku, salah satu Om (adik Ibu) menjemputku. Begitu masuk mobil aku disodorin gudeg, aku dipaksa makan oleh Bulik yang juga ikut serta. Aku baru menyadari sejak kemarin perutku tidak mendapatkan asupan yang layak, bahkan minumpun tidak. Meski makanan di tangan, tetap saja aku hanya mampu menyuapkan dua atau tiga sendok yang kupaksa masuk mulutku.

Tiba di depan rumah, tenda sudah tegak berdiri, tamu sudah banyak berdatangan. Begitu aku turun, tetamu banyak yang melihat ke arahku. Tidak aku hiraukan wajah-wajah yang berusaha menyapaku, setengah berlari aku masuk rumah. Hanya satu wajah yang aku cari, Ibu. Beliau sedang berada dalam kerumunan ibu-ibu tamu, begitu melihatku beliau berdiri. Kami berpelukan, aku menangis dalam pelukannya. Semuanya tumpah, kenyataan yang kupendam semalaman akhirnya lepas. Ibu menenangkanku dengan berkata Bapak pergi dengan tenang dan mudah. Lagipula itu sudah malam Jumat, sebuah hari yang diberkahi Allah. Ibu juga meminta padaku untuk terus berdoa, Bapak khusnul khotimah. Dibantu Bulik, aku dipapah untuk duduk di ruang tengah. Aku hanya mampu diam, Bulik dan Ibu terus menenangkanku. Sungguh entah dari apa perempuan tua ini diciptakan, beliau sungguh kuat menghadapi semuanya. Benar kata pepatah, Ibu adalah malaikat tanpa sayap yang selalu ada disamping kita.

Hampir satu jam aku diam, kemudian akhirnya meraih ponsel di tasku. Aku mengirim beberapa pesan ke teman-teman, mengabarkan bahwa Bapak wafat. Tak lama kedua ponselku tak berhenti berbunyi tanda pesan masuk, ada juga yang menelpon tapi tak kuangkat. Setelah lebih tenang, aku keluar untuk mencari Ibu dan bertanya bagaimana pemakaman akan dilakukan. Karena banyaknya tamu, dan Ibu bersama mereka akhirnya aku bertanya pada Omku. Omku bilang Bapak akan dimakamkan setelah semua Masku datang, tapi sebelum Shalat Jumat agar tidak terlalu lama. Selesai bertanya aku berbalik dan baru menyadari jenazah Bapak masih disemayamkan di ruang tamu. Memang ruang tamu rumah orangtuaku sangat besar, tetamu berada di sebelah kanan, jenazah berada di kiri, pintu masuk pas di tengah-tengah. Ditengah kekagetan aku bertanya lagi, kenapa belum dibawa ke masjid. Omku menjawab agar kami, anak-anaknya masih bisa melihat beliau untuk terakhir kali. Seketika, lemas kembali tubuhku, tertatih aku melangkah masuk ke ruang tengah.

Satu jam yang lain aku kembali terdiam dan mendengar bahwa Masku sudah hampir tiba. Aku juga ikut berdiskusi dengan keluarga, yang akhirnya memutuskan untuk membawa jenazah ke masjid depan rumah. Nanti akan dibuka disana, setelah semua datang sekalian untuk menyolati. Dan aku melihat, kali terakhir Bapak keluar dari rumah yang menjadi saksi hidupnya. Ketika keranda Bapak sampai di teras, aku tetiba teringat sebuah bayangan sentimentil. Sebuah mimpi ketika Bapak berjalan pulang dari Jumatan bersama seseorang, seseorang yang sering Bapak tanyakan dan selalu tidak pernah aku jawab dengan pura-pura tidak mendengarnya. Yang aku tahu, mimpi tidurku itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Dan bukan aku yang menyesal seumur hidup.

Tak berselang lama, ketika aku berbicara dengan Ibu suara mobil terdengar datang dengan kecepatan tinggi. Benar, itu suara mobil Masku. Dengan sembarangan dia memakirkan mobilnya di halaman tetangga dan terlihat dua Masku turun beserta dua keponakanku. Muka mereka kuyu dan lelah, sepertinya mereka terus melarikan mobil tanpa istirahat agar cepat sampai rumah. Salah satu Masku memeluk Ibu dan kemudian menangis dan akupun ikut menangis juga tamu yang hadir. Seseorang yang galaknya minta ampun, gaya slengean, tetap saja dia adalah seorang anak yang baru kehilangan Bapaknya. Seperti yang Ibu lakukan padaku, Ibu menenangkan Masku dan memintanya cepat untuk berganti pakaian dan berwudhu. Menyegerakan pemakaman.

Setelah semua siap, kami ke masjid. Disana dua orang Omku membuka kafan Bapak, agar kami bisa melihat Bapak untuk terakhir kali. Tangisan kembali tumpah, aku tidak ingat siapa saja yang menangis karena aku sendiri dipeluk dua sepupuku. Wajah Bapak begitu tenang, kerut-kerut itu terlihat, tulang pipinya sangat jelas terlihat. Masku yang ketiga maju untuk mengusap wajah Bapak, sebuah kekuatan yang tidak aku punya. Kafan lalu ditutup, sebuah kenyataan bahwa aku tidak akan lagi melihat pria yang selalu sabar mengajariku berhitung dulu. Shalat jenazah dilangsungkan, dan bukankah aku tak perlu lagi bercerita berapa kali aku harus mengusap wajahku dari air mata.

Melangkah ke pemakaman, aku digandeng sepupuku. Aku merangsek ke depan ketika tiba di liang lahat. Dua orang Masku dan Om berada di bawah untuk menerima jenazah Bapak, Masku yang tadi menangis sesenggukan sekarang sudah lebih siap dan memberikan baktinya dengan memakamkan sendiri Bapak. Aku melihat dengan seksama setiap proses itu, hingga akhirnya harus ditutup bambu-bambu. Kembali entah kenapa air mata tumpah, salah seorang Masku ternyata ada di sebelahku. Dia kemudian memelukku dan menghapus air mataku dalam diam. Aku tahu mereka akan selalu bersamaku, apalagi setelah Bapak tidak ada. Liang lahat ditutup dengan tanah, semua Masku turun untuk membantu. Ada rasa bangga dan bersyukur, Alhamdulillah kami lima bersaudara rukun. Melihat mereka ikut bahu-membahu di pemakaman Bapak terselip rasa bahwa semua akan baik-baik saja.

Prosesi pemakaman selesai, aku dan Masku menjadi yang terakhir melangkah pergi. Sampai di rumah, tamu semakin banyak yang datang, sesekali aku menyapa. Aku juga sempatkan membalas pesan ucapan-ucapan belasungkawa yang banyak masuk ke ponselku, berita menyebar dengan cepat. Selesai Shalat Jumat setelah mengobrol dengan Mas-Masku, kami tertidur. Lelah dan kantuk mulai terasa. Belum lama tertidur, aku dikagetkan oleh dering ponsel Ibu yang memang terus aku pegang. Mengerjap, aku membaca nama yang tertera disana. Sedikit heran, karena dia menelpon. Dan aku masih saja suโ€™udzon, mungkin dia baru sempat karena sibuk atau memang baru bebas (seperti biasa). Bukan aku yang menyesal seumur hidup.

Aku memutuskan untuk tinggal di rumah hingga tahun baru, mendapatkan izin dari atasan karena aku membawa laptop kantor. Sesuatu yang memang sudah aku persiapkan. Sekali lagi aku bersyukur, kami tidak perlu berdebat bagaimana hari-hari selanjutnya. Mengenai Ibu akan tinggal bersama siapa, siapa yang akan merawat sawah dan kebun, dan hal-hal lain.

Ibu terlihat jelas kagok, empat puluh tahun lebih usia beliau didekasikan untuk merawat suami dan anak-anaknya. Setelah semua anak-anaknya dewasa, beberapa tahun terakhir hanya merawat Bapak. Sekarang seperti bingung apa yang harus dilakukan, berusaha menyibukkan diri namun tetap saja banyak duduk dengan memegang tasbih. Ibu juga terkadang linglung, biasanya beliau akan menanyakan apa saja yang mau aku bawa. Memang beliau bertanya, namun tidak semua terpenuhi dan seolah-olah benar-benar lupa. Bahkan beliau lupa menyiapkan makanan bekal perjalananku, suatu hal yang tidak pernah terjadi sepanjang sebelas tahun perantauanku. Tentu saja aku maklum, dan tidak bertanya lagi. Separuh nyawanya baru saja pergi, sesuai dengan pepatah Jawa suami / istri disebut Garwo singkatan dari sigaring nyowo (separuh nyawa). Ada rasa tidak tega meninggalkan Ibu, beliau bersikukuh akan tetap tinggal di rumah hingga masa Iddah selesai. Setelah itu baru akan tinggal bersamaku.

Beberapa buku yang ada di rumah aku bawa, buku-buku itu dibawa oleh Bapak dari rumahku. Bapak cukup suka membaca, hal yang ia turunkan padaku. Ada sesak ketika melihat lemari; kemeja batik, baju koko dan jas Bapak berjajar tergantung rapi. Setiba di rumahku sendiri, beberapa kali aku masih terdiam. Melihat hal-hal kecil di rumah ini, yang dibuat oleh atau untuk Bapak. Kursi, meja, hiasan pintu, juga ada sepasang sepatu Bapak yang beliau tinggalkan. Dan di lemariku masih tergantung satu kemeja batik punya Bapak yang beliau ingin berikan pada seseorang, entahlah aku bingung siapa empu baju itu sekarang. Kisah dari baju itu dua kali lipat dari yang lain. Aku juga belum membuka lemari di kamar yang biasa ditempati orangtuaku, aku akan menunggu hingga Ibu datang. Dan sekali lagi, bukan aku yang menyesal.

Sudah dua minggu berselang tapi masih ada rasa yang hilang, sebuah lubang yang hampa. Aku masih belum bisa tidur dengan nyenyak, masih sering terjaga di tengah malam. Doa-doa masih dan akan terus aku panjatkan untuk kedua orangtuaku, untuk Bapak yang sudah bersamaNya dan Ibu yang jauh di mata. Setahun yang sudah terlewati menjadi pelajaran besar, terutama arti melepaskan. Percaya bahwa hal-hal baik dan besar yang akan terus datang. Semoga menjadi pembelajaran, terus berdoa kepada Yang Maha Esa untuk terus dikuatkan.

Memulai kembali hidup dengan lebih baik.

Terima kasih.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Memulai Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s