Cerpen

Tepian Sungai (Bag. 1)

Bisa kita ketemu? Jam 17.30 di Resto Cendana.

Sudah lima menit berlalu Antin masih saja melihat sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya, dahinya berkerut, bibirnya kaku, tanpa senyum sedikit pun. Perempuan berusia 27 tahun itu bukan tidak tahu siapa pengirimnya, meski ia tak menyimpan dalam daftar kontak. Ia berpikir apa yang kira-kira sedang terjadi sehingga orang itu mengajaknya bertemu. Setelah lima belas menit hanya memandang layar ponselnya, Antin meletakkannya kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tak berniat ia membalas, meski kepalanya dipenuhi banyak sekali pertanyaan.

Setelah jam kerja usai, Antin melangkah ke parkiran motor. Ia melangkah pelan, ia masih menimbang apakah perlu memenuhi ajakan bertemu itu atau tidak. Bertemu pada akhirnya akan membuka sebuah luka lama yang ia pendam dan ia coba redam setahun terakhir. Bertemu sedikit banyak pasti akan menggoncangkan hatinya lagi yang selama ini sudah ia coba tata dengan rapi. Namun Antin juga tidak bisa lari, ia terus berpikir pasti terjadi sesuatu sampai ia diminta datang.

Lima belas menit kemudian Antin sudah memakirkan motornya di depan Restoran Cendana, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Ia lebih cepat lima menit sebelum waktu yang ditentukan. Memasuki restoran, Antin menyapukan pandangan pada seisi ruangan yang tidak terlalu ramai namun tidak menemukan sosok yang ia cari.

“Mba, apakah ada reservasi atas nama Rara?” Antin bertanya pada bagian kasir.

Dengan sigap kasir membuka sebuah buku, “Ada Teh, di saung no. 2. Mari saya antarkan”.

Saung yang dituju berada di ujung resto, cukup menyendiri dari yang lain. Dari jauh Antin melihat ada satu perempuan dan dua orang pria, Antin mengenal baik rombongan itu. Setelah mengucapkan terima kasih pada pegawai resto yang mengantarnya, Antin masuk ke dalam saung.

“Antin, apa kabar?” sapa laki-laki yang lebih tua.

“Alhamdulillah Om, baik. Om apa kabar?” Antin berusaha tersenyum.

“Udah Pah ga usah basa-basi, langsung aja,” potong perempuan muda itu, Rara. Antin hanya diam, bergeming. Namun matanya tajam menatap wajah Rara, seseorang yang pernah menjadi salah satu orang terdekatnya.

Rara duduk dengan tegak, “Tirta kemana?”.

Sontak Antin mengerutkan dahinya, “Maksudnya?”

“Ga usah pura-pura deh, kamu pasti tahu kan Tirta kemana?” Rara kembali bicara dengan nada tinggi.

“Bentar deh, kamu jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bandung cuma mau tanya Tirta kemana? Ga salah? Dia kan tunangan kamu,” Antin menjawab dengan nada yang tak kalah tinggi.

“Iya, justru karena dia itu tunangan aku, dia pergi ga jelas kemana. Kemungkinan paling besar ya lari kesini. Ke kamu, mantan sahabatnya!” Rara menekankan pada kata terakhir.

Dalam kebingungannya Antin mencoba berpikir tenang, ia tahu Rara seseorang dengan temperamen tinggi. Jika ia ikut panas, situasinya justru akan semakin memburuk.

“Aku sudah ga ada kontak dengan Tirta enam bulan terakhir, sama sekali. Aku pikir dia sudah tenang bersama kamu, mempersiapkan pernikahan kalian yang tinggal dua minggu lagi”.

Rara sudah akan membantah lagi ketika adeknya yang sedari tadi diam membungkam mulut Rara dengan tangannya, “Mba Rara bisa tenang dikit ga sih? Kita kesini mau mencari Mas TIrta, bukan mau cari ribut”.

Lalu Ayah Rara bicara, “Tirta sudah dua hari ini tidak ada kabar, terakhir dia hanya mengirimkan sms ke Rara kalau dia ingin liburan sebentar. Sampai sekarang ponselnya mati, dia juga tidak ada di rumah orangtuanya di Surabaya”.

Mengambil nafas panjang, lalu melanjutkan, “Om bukannya menuduh kamu, tapi memang kamu adalah orang yang dekat dengan Tirta. Mungkin saja kamu tahu dimana dia”.

Antin menggeleng, “Tirta ga hubungin aku sama sekali, aku juga ga tahu dimana”

“Bohong!” Rara kembali bersuara, dan kembali adiknya membekapnya.

“Kamu sudah mencari Tirta kemana?” Antin kali ini yang bertanya.

Rara menyingkirkan tangan adeknya, “Ke kantornya, ke saudara-saudaranya di Bogor, ke kantor lamanya..”

“Yudi? Bagus?” Antin menyela.

Rara menggeleng, “Aku ga tahu nomor mereka”.

Antin menghela nafas panjang dan menatap tajam ke arah Rara, suaranya dingin, “Mereka sahabat Tirta sejak kuliah, seharusnya kamu menghubungi mereka juga. Mereka mengenal Tirta jauh sebelum kita mengenalnya. Akan lebih baik jika kamu juga mengenal sahabat calon suamimu”.

“Memangnya kamu kenal mereka? Sok tahu..” Rara menyanggah dengan memukul meja.

Antin mengambil ponsel di tasnya, lalu memijit layar, “Halo, dengan Yudi?”

Rara terperangah, tidak menyangka Antin justru mengenal Yudi, sahabat tunangannya.

Setelah berbicara dengan Yudi melalui telpon beberapa saat, “Mereka juga ga tahu Tirta kemana”.

Pembicaraan mereka buntu, Antin memutuskan pamit. Dia berjanji akan mengabari jika Tirta menghubunginya.

“Antin, kamu tuh masih muda, cantik. Dengan mudah kamu akan bisa mendapatkan pria, jangan ganggu tunangan orang,” Rara mengatakannya ketika Antin beranjak.

“Rara, kamu tuh pintar, cantik, dari keluarga berada, mapan, karir cemerlang, pendidikan tinggi. Dan KELIHATANNYA kamu dan Tirta baik-baik saja, kalian TERLIHAT bahagia. Kenapa harus kuatir pada perempuan ini?” Antin melenggang meninggalkan tempat itu.

bersambung..

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Tepian Sungai (Bag. 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s