Cerpen

Tepian Sungai (Bag. 2)

Antin mengerjap, berusaha melihat dalam kegelapan. Ia melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 3 dini hari. Minibus yang ia tumpangi terus melaju, menjauh dari kota itu. Antin menggerakkan tubuhnya yang sedikit kaku, di sebelahnya seorang ibu-ibu bersama dengan anaknya sedang tidur nyenyak. Sejak bertemu Rara, Antin tidak bisa berhenti berpikir kemana Tirta pergi. Tirta yang ia kenal, bukan seseorang yang biasa lari dari kenyataan. Jika ia sampai menghilang dan tidak ada kabar, pasti ada sesuatu yang sangat ia risaukan. Mengenal lelaki itu hampir empat tahun, dengan hobi berpetualang yang sama membuat mereka dekat.

Ketika berpikir kira-kira Tirta kemana, Antin melihat foto yang dipajang Tirta di whatsapp. Setelah sekian lama, Antin menyadari itu adalah foto salah satu lokasi yang ia tahu. Suatu tempat yang membekas dalam kenangan Antin. Dengan mantap ia menelpon travel, malam itu juga ia berangkat dengan keberangkatan terakhir pada tengah malam. Dalam hati Antin terus berdoa agar perkiraannya benar, Tirta ada di tempat itu.

Semburat mentari pagi terlihat memanjang di cakrawala, memantulkan warna indah pada sungai yang mengalir tenang. Derak-derak nipah, sesekali suara cuitan burung terdengar. Antin turun dari minibus dan memantapkan kaki memasuki sebuah bangunan dari kayu, ia membunyikan bel di meja bertuliskan resepsionis. Tak lama seorang laki-laki awal 20an tergopoh-gopoh datang.

“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu Teh?” sapanya ramah.

“Kang, apakah ada tamu menginap bernama Tirta?” Antin bertanya dengan sopan.

“Hmm.. sebentar Teh, saya cek dulu,”

Sambil menunggu jawaban, Antin berjalan menuju suara air. Penginapan itu berada tepat di pinggir sungai, bangunannya dari kayu. Para pengunjung disuguhi pemandangan alam sungai yang memikat, tepat di pintu mereka. Antin memandang aliran sungai sejenak hingga ia menyadari di kejauhan sedang duduk seseorang yang ia kenal, orang yang ia cari.

“Teh.. ,” penjaga itu memanggil.

“Ada Kang, itu dia orangnya. Saya langsung kesana ya,” Antin memotong ucapan si penjaga dan berjalan ke arah Tirta dengan cepat.

“Bisa untuk inspirasi berapa syair ini.. ” laki-laki itu kaget mendengar suara Antin yang sudah di sampingnya.

“Lah, kok kamu bisa disini?” Tirta bersuara setelah bisa mengendalikan kekagetannya.

“Naik travel,” jawab Antin enteng.

“Bukan itu, kok kamu bisa tahu aku disini? Ngapain?”

“Pengen piknik,” kembali Antin menjawab ringan.

“Rara ngontak kamu?”

Antin mengendikkan bahu, “Kamu sih, bikin panik anak orang, tunangan sendiri juga”.

“Aku kan udah bilang, pengen refreshing,”

“Lalu ponsel dimatiin? Ga bisa dihubungi? Ga ada kabar? Kamu kejedot apa sih?” Antin melotot ke arah Tirta.

“Kamu dituduh ya?” Tanya Tirta, Antin hanya mendengus keras.

Kemudian mereka terdiam lama, menjelajahi pikiran masing-masing, membongkar kenangan, menyaksikan sungai yang bisu.

“Kamu dua minggu lagi nikah, jangan kayak… ,” suara Antin memecah keheningan.

Tirta memotong, “Bisa kah kita tidak membicarakan itu?”

“Kita seharusnya bertemu kembali disini sembilan tahun lagi, seperti janji kita setahun yang lalu. Bagaimana pun keadaan kita, bersama keluarga kita, bertemu dengan hati yang leluasa sebagaimana apa adanya kehidupan kita di masa itu,” Antin mengatakannya dengan tercekat.

“Aku tahu,” lirih Tirta menjawab. “Kamu yang sudah tidak bisa aku hubungi, kamu yang sudah benar-benar membuang aku dalam hidupmu. Kamu lupa pesan Ibumu sendiri, meminta kita tetap bersahabat apapun keadaannya”.

Antin menunduk, menahan air matanya, “Aku belum siap. Hanya dengan cara itu mungkin kita bisa tetap bersahabat”.

“Egois… “

“Memang.. “

Kembali hanya suara aliran sungai yang terdengar, mencoba menenggelamkan suara-suara bising di kepala Antin dan Tirta.

“Karena kamu sudah disini, bagaimana kalau kita bodyrafting?” Tirta bertanya dengan nada yang dibuat ceria.

“Ahhh ga mau, capek,”

“Capek apa takut… kemampuan berenang kamu ga ada perkembangan sih, aku masih selalu tertawa jika ingat pas kita bodyrafting setahun yang lalu, pas kamu terbawa arus sampai badan kamu mental kesana kemari. Antara kasihan dan lucu,” Tirta terbahak-bahak setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Girang banget sih ngeliat aku susah, sakit waktu itu!” Antin melotot.

Masih di tengah tawanya, Tirta melanjutkan, “Terus insiden celana robek, huahahahaha! Untung kamu dengerin aku buat pake baju renang di dalamnya, kalau ga…. Pusing pala barbi”.

“Dieeeem… ,” Antin beranjak berusaha menutup mulut Tirta dengan tangannya, Tirta masih terus tertawa terbahak-bahak.

“Yaudah, kita maen kano aja gimana? Kalau bodyrafting kamu pasti capek banget, belum tidur pula. Malah sakit nanti,” kata Tirta setelah tawanya mereda.

“Maen kano juga capek dayung, kamu yang dayung,”

“Dulu juga aku kok, kamu kan cuma sok-sokan aja gerakin dayungnya,” Tirta mengatakannya sambil mempraktikan gaya mendayung dengan postur lucu yang kaku.

Antin kembali melotot dan bersiap menjitak Tirta, namun Tirta menghindar lari sambil berteriak, “Kamu siap-siap ya, ganti baju. Aku mau ke depan, tanya ke petugas buat nyiapin kano”.

Antin memasuki ruangan kamar Tirta, ada sebuah tas ransel teronggok, tidak banyak barang yang Tirta bawa. Tirta menyewa kamar yang sama dengan yang ia tempati setahun yang lalu. Ketika mereka berlibur bersama. Melupakan waktu dan segala kemungkinan. Tak terasa air mata Antin meluncur, ia segera mengusapnya dan segera bergegas berganti baju di kamar mandi. Ketika ia keluar kamar, Tirta sudah duduk di balai menghadap sungai.

Tirta melihat Antin yang baru keluar, “Kamu baik-baik saja kan?”

Dengan senyum terpaksa, Antin menjawab, “Yang kamu lihat? Apakah masih penting buat kamu, aku baik-baik saja atau tidak”.

“Ya aku tahu, kalau pun aku tahu terus aku bisa apa,” tercekat Tirta mengatakannya.

bersambung..

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s