Cerpen

Tepian Sungai (Bag. 3)

“Ya aku tahu, kalau pun aku tahu terus aku bisa apa,” tercekat Tirta mengatakannya.

“Ga ada gunanya kan kamu punya mata-mata di sekitarku,” setengah tertawa Antin mengatakannya.

Tirta tersenyum masam, Antin menggerak-gerakkan lengannya.

“Kamu ga perlu pemanasan kayak mau dayung aja,” kata Tirta.

“Aku ga lagi pemanasan kok, hanya memastikan lenganku sudah baik-baik saja,” muka Tirta berkerut mendengar jawaban Antin.

“Aku ga kaget seadainya kamu tahu ataupun tidak tahu kalau aku kecelakaan bulan lalu, hampir patah, dua minggu bahuku sakit kalau digerakkan. Hmmm.. kalau melihat dari ekspresi sih sepertinya kamu ga tahu,”

Masih dengan wajah kaget, Tirta mengatakan, “Kok bisa?”

“Namanya juga musibah, gimana tuh kerjaan mata-mata kamu?” Antin terkekeh.

“Sekarang gimana? Udah sembuh?” Tirta bertanya dengan nada khawatir.

“Sudahlah, telat! Hayuk, itu kanonya siap,” Antin meloncat, berlari kecil ke arah dermaga.

Tawa canda terdengar sepanjang sungai, berlatarkan suara ombak kecil, bernyanyikan derak nyiur dedaunan. Mereka kembali mengulang menyisiri sepanjang sungai, hening dan menyejukkan.

“Sampai kapan kamu akan menjadikan aku bahan di cerita-cerita blogmu,” ucap Tirta ketika mereka melewati keramba.

“Sampai aku bosan, otakku tidak ada inspirasi lain,” Antin menjawab dengan setenang mungkin, untung posisinya di depan sehingga Tirta tidak melihat genangan di sudut matanya.

“Sedih aja tiap kali baca, tapi ga bisa kalau ga baca,” kembali Tirta mengucapkannya dengan getir.

“Itulah susahnya dekat dengan penulis, kamu akan abadi dalam karya-karyanya. Apalagi nyakitin hati penulis, terima nasib saja. Bangga dong, nanti kalau tulisan aku ada dimana-mana artinya kamu juga ada dimana-mana,” Antin tergelak sambil menyipratkan air ke wajah Tirta.

Kembali mereka bercanda, tak terasa satu jam sudah terlewati.

Mereka melanjutkan kebersamaan di balai sambil menikmati makan siang.

“Setelah ini kita jalan ke hutan yuk,” Tirta membuka percakapan sambil mengunyah ikan bakar.

Antin memicingkan matanya, “Heem, tapi ga usah jauh-jauh”. Kemudian tiba-tiba berdiri tegak, “Oiya, aku sebenarnya baru menyadari satu hal”.

“Apa?” Tirta bertanya masih dengan mulut penuh.

“Beberapa kali aku sakit, aku selalu delivery order dari sebuah restoran yang sama,”

“Lalu?” Tirta bertanya dengan nada tidak tertarik.

“Entah kenapa, aku selalu merasa setelah makan makanan itu menjadi lebih sehat dan lebih baik. Semacam obat mungkin,” Antin menyelesaikan kalimatnya dengan tersenyum.

“Kok bisa? Makanan apa?” dahi Tirta berkerut karena heran.

“Makanan fast food Jepang. Setelah aku telisik aku baru menyadari karena pernah ketika aku sakit, seseorang rela jauh-jauh membelikan makanan itu meski hujan mengguyur. Dan besoknya aku sembuh,” begitu kalimatnya selesai, Antin menunduk dan meneruskan menyendok makanan.

Sementara Tirta diam, kehabisan kata-kata. Teringat kejadian itu, ia yang menerobos hujan setelah tahu Antin demam dan tidak ingin makan. Setelah dipaksa, restoran cepat saji Jepang adalah makanan yang terucap, tergesa-gesa Tirta mengambil motornya dan membelikannya untuk Antin.

“Kamu makin kurus, makan yang banyak ya,” Tirta akhirnya bersuara kembali.

“Iya karena disakiti itu banyak membuang energi,” jawaban Antin membuat Tirta tesedak, ia meraih air putih di hadapannya.

Melihat reaksi Tirta, Antin tertawa senang. Kemudian ia melanjutkan, “Lah kamu, makan tambah banyak aja. Ga gemuk-gemuk”.

“Iya karena pura-pura bahagia itu butuh banyak tenaga,” kali ini Antin yang menganga mendengar jawaban Tirta, mereka kemudian tergelak lama.

##

Sore menjelang, matahari mulai tenggelam. Mereka sudah membersihkan diri sepulang dari hutan, menghadap sungai yang berwarna jingga memantulkan cahaya senja. Ramai-ramai suara burung seolah saling mengabari untuk segera pulang ke sarang, gemericik ombak sungai menyapu dermaga.

Kembali tempat itu menjadi saksi bisu, ketidakberdayaan dua orang manusia. Seolah-olah sungai pun lebih beruntung, karena ia tahu kemana tujuan dan akhir dari perjalanannya.

“Aku takut,” suara Tirta membuka kebisuan keduanya yang masih memandang sungai, Antin menoleh ke arahnya.

“Aku takut tidak bisa lagi melakukan ini semua, aku takut tidak sebahagia ini, aku takut… ,” suara Tirta semakin melemah.

“Kita dibesarkan bukan untuk menjadi penakut, sejak kecil kita tidak tahu apa yang ada di depan kita namun kita bisa melaluinya sampai sejauh ini,” Antin berhenti sejenak untuk bernafas. “Seorang laki-laki yang baik adalah yang mempertanggungjawabkan keputusannya”.

“Setiap kali aku ke Bandung, aku memang tidak pernah menemuimu lagi. Tapi aku selalu sempatkan untuk datang, sekedar melewati rumahmu. Melihat dari jauh, ketika lampu menyala ataupun mati. Ketika mungkin kamu sedang ada di dalamnya ataupun tidak. Aku hanya ingin menyakinkan diriku bahwa kamu baik-baik saja, kamu masih disana,” Tirta lirih ketika mengucapkannya.

“Terima kasih masih melindungku,” hanya kata itu yang bisa diucapkan Antin.

Kembali mereka hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran.

Mempertimbangkan kondisi tubuh Antin yang sudah sangat lelah, mereka memutuskan untuk masuk bilik masing-masing sehabis makan malam.

“Kamu akan selalu dalam doaku, meski kita jauh ataupun tidak berkomunikasi. Masih dan akan selalu,” ucap Antin ketika melangkah menuju pintu kamarnya.

“Dengan segala kecewa itu?” suara Tirta terdengar getir, Antin mengangguk.

“Dengan segala sakit itu?” Antin kembali mengangguk.

“Tetaplah bahagia,” pungkas Antin sebelum menghilang di balik pintu.

##

Tok.. Tok.. Tok..

Tirta kaget ada seseorang mengetuk pintu kamarnya, dia mengambil ponselnya dan melihat jam. Disana menunjukkan pukul 04.23.

Seharusnya dia berjanji dengan Antin untuk keluar jam 5, masih cukup waktu untuknya tidur.

Tok.. tok.. tok..

Kembali pintunya diketuk, kali ini terdengar lebih keras dan tidak sabar.

“Iya… Bentar,” masih dengan kesadaran belum penuh, Tirta beranjak dan membuka pintu.

“Ini belum jam 5,” ucap Tirta begitu membuka pintu.

“Memangnya kenapa harus jam 5,” suara itu mengagetkan Tirta dan membuatnya tersadar penuh, sosok di hadapannya bukanlah Antin seperti yang diharapkan. Rara.

“Kamu?” Tirta heran.

“Kamu? Iya, ini aku tunangan kamu,” Rara menjawab dengan judes.

Dengan setengah mendorong Rara yang menghalangi pintu, Tirta berlari ke bilik di sebelahnya. Gusar ia membuka pintunya yang ternyata tidak terkunci, kosong. Ia berlari masuk, membuka pintu kamar mandi yang juga kosong.

Ia berlari keluar dan hampir menabrak Penjaga Hotel yang akan membersihkan kamar itu.

“Kang, teman saya yang nginap di sini kemana?” tak sabar Tirta bertanya.

“Semalam Tetehnya sudah cek out, dijemput travel,” dengan santun Penjaga itu menjawab.

Setelah mengucapkan terima kasih, Tirta kembali ke kamarnya. Rara sudah duduk dengan wajah tanpa senyum. Tanpa mempedulikan sikap Rara, Tirta meraih ponselnya. Jarinya sejenak kaku, ada sebuah pesan dari Antin.

Berhentilah. Dan tetaplah bahagia.

Tanpa suara Tirta menahan sesak yang menghimpit dadanya, membisu Tirta mempertahankan gemuruh pada kepalanya.

Di luar suara katak masih berceloteh, bercerita dengan ombak yang melebur. Sungai masih tenang dengan segala kesaksiannya.

Selesai.

==

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love, purpose hard to find
While I recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that I was there
Back where I’d love to be, oh yeah

Dear God, the only thing I ask of you
Is to hold her when I’m not around
When I’m much too far away
We all need that person who can be true to you
But I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again, oh no…
Once again

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s