Tentang

Terhenti

​Senyap.

Ketukan hak sepatu terdengar tak henti, berirama seiring langkah puluhan kaki. Seruan desahan nafas berat, berhempus dari para raga yang penat. Pesawat telpon yang silih berganti berdering, hingga jarum jam yang tak jua bergeming. Kursi roda sesekali lewat, didorong keluarga dekat. Juga mereka yang berbaju putih sesekali terlihat, tumpuan jiwa-jiwa yang ingin rehat.

Sepi.

Di hadapanku duduk seorang gadis mungkin empat atau lima tahun lebih muda dariku ditemani seorang yang jauh lebih tua, mungkin Ibunya. Aku menatap map yang Sang Ibu bawa sama dengan yang aku bawa, kemudian beralih pada mata keduanya. Sendu. Gadis itu diam, hanya memperhatikan ponselnya. Kosong. 

Ingin aku mengatakan kepadanya, “Hai, kita akan baik-baik saja”.

Tapi aku tak sanggup mengatakan padanya karena akupun perlu meyakinkan diriku terlebih dahulu. Bahwa baik-baik saja bukan mengacu pada badan yang tidak lagi lemas atau kepala yang tidak lagi sering terserang pusing atau hidung yang tak acap merembeskan darah. Bahwa baik-baik saja adalah tentang jiwa yang lapang, hati yang mampu pasrah dan menerima kehendak-nya. Karena dengan bodohnya aku pernah berpikir akan ada seseorang.

Sekedar membantu ketika  bahuku sakit karena kecelakaan.

Yang tersenyum ketika badanku sedang tak berdaya.

Yang menguatkan ketika Ayahku tiada.

Yang membawakan serangkai bunga di hari ulang tahunku.

Yang mengangsurkan tisu untuk hidungku.

Yang berada di sampingku ketika nyeri mencengkram.

Atau juga yang menghibur disaat aku berada di tempat ini, mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja.

Tapi tidak, entah sejak kapan egoku yang lain mengatakan aku sudah berhenti. Aku sudah berdamai dengan obat-obatan yang harus aku telan, padahal dulu mampu hilang cukup dengan satu senyuman.

Kembali ke tempat ini, salah satu yang paling tidak aku sukai. Satu perkataan seorang manusia mampu memporak-pondakan manusia lain, yang kemudian harus pasrah. Sekali lagi, egoku yang lain mengatakan aku mampu. Ya, aku akan mampu melewati yang lebih sulit lagi bahkan jika aku harus sendirian.

Nyatanya, aku telah berhenti entah sejak kapan. Berhenti membenci, berhenti berharap, berhenti menangis, berhenti mengenggam.

Seiring helaan nafas dan detak jantung yang meredup kemudian padam.

Demikian.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s