Tentang

Situ Cisanti, Meresap di Nadi.

Sebuah tempat yang masih jauh dari hingar bingar Kota dan ala kekinian (banget). Terletak di daerah Kertasari, Kabupaten Bandung di lereng Gunung Wayang. Situ yang berarti Danau Buatan ini adalah km 0 Sungai Citarum yang mengalir sepanjang Jawa Barat, bisa dibilang Situ Cisanti adalah nadi Jawa Barat. Airnya mengalir sepanjang 269 km dan membelah 12 Kabupaten dan Kota. Jauh dari imej Sungai Citarum yang keruh, hulunya sangat menawan.

Berawal dari iseng berselancar akhirnya memutuskan untuk mengunjungi, di lihat dari foto-foto yang beredar cukup menyilaukan jiwa petualangan kami. Perjalanan dimulai dari Kota Bandung jam 7 pagi nan mendung di tanggal 2 April 2017. Mengendarai sepeda motor berbekal kenekatan kami berangkat, menempuh jarak 40 km hanya mengandalkan applikasi Waze. Terima kasih teknologi 🙂

Kami mengambil jalur yang benar-benar Waze sarankan, dari Gedebage masuk ke Jl. Raya Sapan. Belok kanan melewati area persawahan yang luas di Ciparay. Berlanjut ke Jl. Raya Pacet hingga masuk kawasan pegunungan dengan jalan berkelok dan menanjak. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang menakjubkan, seakan –akan masuk daerah jauh dari Kota Metropolitan. Rumah-rumah yang dilewati masih bergaya klasik, masih banyak petani yang bekerja di sawah. Jalanan relatif halus, meski ada beberapa titik yang rusak.

Memasuki daerah Cibereum pemandangan semakin memesona, deretan bukit membiru menemani pagi yang merangkak naik. Banyak warung-warung bambu dibangun di sepanjang jalan, jika Anda pernah ke daerah Punclut, Bandung suasananya mirip namun belum seramai itu. Bau harum daun bawang yang baru dipanen menyeruak hidung, hingga terbayang mendoan yang hangat :p

Hawa kian dingin ketika memasuki areal hutan pinus, setelah 1.5 jam akhirnya kami sampai di gerbang pintu masuk Situ Cisanti. Biaya masuk sebesar Rp. 20.000,- untuk kami berdua dengan motor. Di depan kami Situ Cisanti yang syahdu dengan awan tepat di atasnya. Banyak tenda-tenda terpasang di sudut terjauh. Sayang, tidak ada lagi sampan yang disewakan untuk mengelilingi Situ dari air.

Tidak banyak pengunjung, menambah situasi semakin menenangkan. Tidak banyak pula penjual makanan, hanya ada tiga warung kecil yang seadanya. Jangan berharap warung makan dan makanan berat karena paling mentok mie instan. Selesai berkeliling dan berfoto kami keluar. Namun masih ditagih Rp. 3000,- yang katanya uang parkir.

Jpeg

Situ Cisanti

Situ Cisanti - Nyonya Badak

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Kami kembali memacu motor naik, menuju Kebun Teh Talun Santosa yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari Situ.  Tak lama, kami turun untuk pulang.

Jpeg

Kebun Teh Talun Santosa

Jpeg

Terasering

Jpeg

Konon sejarahnya Situ Cisanti adalah tempat petilasan Sembah Dalem Dipati Ukur, seorang Bupati pada masanya yang namanya tersohor di Tanah Pasundan hingga menjadi nama sebuah jalan di Kota Bandung. Beliau memimpin pasukan besar menyerang Batavia tahun 1628.

Sekedar saran, pastikan bensin terisi penuh sebelum berangkat karena sepanjang jalan hanya akan melewati dua SPBU, itupun dengan antrian yang mengular. Kami pikir hanya kebetulan saat kami akan mengisi saja, namun ternyata saat pulang keadaan masih sama.

Sekian.

Jpeg

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s