Cerpen

Gamang

Sebut saja dia Gadis, berusia tiga tahun dengan rambut kepang dua. Dia melihat sebuah permen dalam keranjang milik Kakaknya, matanya tak bisa lepas dari permen lollipop pelangi itu. Dia sangat menyukai lollipop, baginya lollipop adalah sebuah kebahagiaan terbesar. Rasa yang manis membuatnya sangat ceria laksana burungpun akan ikut bernyanyi jika tahu betapa indah suasana hatinya.

Namun sisi hatinya yang lain menyangkal, ia tak bisa mengambilnya. Bukan saja ia sadar permen itu bukan miliknya, tetapi juga Ibu yang tidak mengizinkan memakan permen. Dua hal yang menjadi ketakutan terbesarnya. Detik, menit berlalu Gadis masih berdiri di tempat. Terpaku dalam kebimbangan terbesar, polemik terbesar seorang bocah berusia tiga tahun. Pada akhirnya dia menunggu, diam di tempat. Yang mungkin menunggu Kakaknya datang dan berbelas kasihan dan memberikan permen. Menunggu Sang Ibu datang untuk mengizinkan memakannya.

Diam…

Dan aku, bukanlah seorang gadis berusia tiga tahun dengan segala tawa dan duka yang terlewati. Berada dalam ketakutan dan kebahagiaan terbesarku, tepat di tengah-tengahnya. Bahagia, dengan jawaban rajukan-rajukanku pada-Nya setiap malam yang sunyi. Takut, dengan segala kenyataan dan kesakitan yang pernah mendera.

Bukan tentang polemik permen, dan kenikmatan sesaat. Tetapi tentang bahagia dan luka, tentang tindak dan nurani, tentang nyawa dan rasa, tentang hidup dan akhirat. Ya, semua berada di antaranya.

Segala pertanyaan, yang membandang.

Lalu aku hanya mampu diam.

Tak mencari jawaban.

Percaya.

Padamu.

Pada-Nya.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s