Tentang

Gamang (2)

7 Agustus 2016, aku masih saja mengingat tanggal itu. Di dalam mobil di pelataran sebuah hotel kecil, dekat stasiun pada sebuah pagi yang mendung. Aku memakai baju merah marun, dan dia dengan kaos abu-abu kesayangannya. Dia menepuk kepalaku, “Yang serius ikut training-nya, biar kamu benar-benar jadi penulis seperti impian kamu”.

Aku mengangguk bersemangat, mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarku juga mengucapkan agar dia hati-hati di jalan. Keluar dari mobil, masih kulihat senyumnya sebelum memundurkan mobil dan menghilang ditelan keramaian kota.

Ingatan itu masih segar meski sudah hampir setahun berlalu. Sebuah pagi, ketika aku menjemput impianku dan hari terakhir aku melihat wajahnya.

Dunia merenggutnya.

Tidak ada cerita yang perlu diuraikan. Tidak ada ceria yang bisa dinyanyikan.

Cukup aku mengingat hari itu, tidak ada hari sebelumnya, tidak perlu hari setelahnya.

Setahun berlalu, anginpun mampu mendekapku. Hujan mampu menjajari langkahku, bahkan petir berani menyambutku. Mereka tahu, tegar dan senyum berada dalam genggamanku.

Perlukah direnggut lagi?

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s