Prosa

Nama Kahyangan

Pada suatu senja Maha Guru bercerita mengenai kisah kuno berlatar perjuangan, cinta dan keteguhan hati.

Sang murid menyimak dengan takzim kemudian bertanya, “Apakah kisah ini nyata?”

“Nyata dan tidak adalah sebuah bentukan pikiran, anakku,” jawab Maha Guru dengan tersenyum.

“Mengapa Guru menamai tokoh untuk cerita seindah ini dengan nama Embun?”

“Setetes embun di pagi hari seperti diturunkan dari Kahyangan untuk menyejukkan dunia, menyambut terangnya matahari dan membasahi daun yang mulai mengering. Hanya sedikit yang menyadarinya karena seiring mentari meninggi dia akan pergi tapi dia selalu kembali,” mata teduh Guru tampak menerawang.

“Nama yang teramat indah untuk jadi nyata,” gumam Sang Murid.

Maha Guru terus bercerita mengenai kisah embun berlatar kehidupan dewa-dewi, tanpa disadarinya cerita embun terpatri dalam pikiran Sang Murid.

Bertahun-tahun setelah keluar dari perguruan, Sang Murid yang sudah banyak menaklukan dunia pertarungan tiba-tiba dihentikan oleh sebuah hutan lebat, ia tersesat.

“Embun ….”

Sang murid mencari arah suara, ia sendirian.

“Embun ….”

Suara itu muncul lagi, ingatannya kembali pada cerita Maha Guru.

“Embun ….”

Sosok pemanggil mulai terlihat samar, tersenyum menatapnya.

Dengan segala kesaktian yang ia miliki, Sang Murid tetap tak bisa beranjak mendekati suara.

“Ini ilusi,” gumamnya sambil bergerak mundur, berlari menjauh.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s