puisi

Seminggu Akhir Februari

Senin

Baru tersadar hiruk pikuk yang kau buat

Entah fatamorgana atau hanya kebetulan

Kembaliku padaku

Pada ketenangan dan keanggunan

Kucoba diam sejenak, berbaikan dengan waktu

Selasa

Rindu kutitipkan pada angin

Yang menjangkaumu

Yang berkelana bersama mungkin

Kunikmati detik yang berlalu

Rabu

Mendung, kelabu dan seakan lara

Aku lebih cerah, hanya gemuruhnya

Melihatmu sejenak, entah untuk siapa kau bicara

Didekap ikhlas aku tersenyum, entah untuk apa

Kamis

Gerimis atau hujan yang menyambutku?

Tak ada bedanya…

Langkahku tenang, mungkin juga karena puasaku

Melayang melewati hawa

Jumat

Entah kenapa aku memilih kesini

Jendela kaca bertoreh asa akan bayangan

Kembali aku melewati

Jam ini, rumah sakit ini, halte ini

Ubin tempat aku berdiri, menunggu menyambut senyummu

Tepat dua minggu lalu

Ah rasanya baru kemarin gerimis ini

Mengiringi tawa kita sepanjang jalan

Yang kemudian dipisahkan jembatan

 

Dalam tengah memori

Dering, suara dan tangis membuyarkan segala

Dalam kalut aku berlari

Seolah hancur setengah dunia

Sabtu

Seperti mimpi

Menatap jendela namun bukan pemandangan yang sama

Disini, ratusan kilometer, ribuan menit, miliaran inci

Kita berjarak, sejauh asa

Minggu

Harusnya kita bertemu hari ini

Tapi aku lebih memilih disini

Lebih dari apapun

Senin

Mimpi, aku di sini lagi

Dan Maretku harus terus berputar

Kisah ini entah titik entah koma

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s