Tentang

Ada Apa dengan Ibukota?

Sudah terlalu banyak yang membicarakan kegaduhan Ibukota dengan pemilihan pemimpinnya, aku tak ingin menambah dalam daftarnya. Lagipula aku bukan warganya. Sudah empat tahun aku meninggalkan Ibukota, tapi tetap saja rasanya masih sama. Bahkan alasan tak mendekatinya semakin bertambah.

Semalam, aku melewati enam jam perjalanan menuju tempat ini. Jalanan begitu padat dengan kendaraan, tengah malam aku baru tiba.

Cahaya kota ini masih saja sama, rasa yang sesak masih saja tawar. Dulu, aku pergi karena sesak dengan pemandangan. Kini, aku menjauh karena sesak pada kegetiran.

Sebisa mungkin aku tak menginjakkan kaki di sini, ya sebisa mungkin. 

Seperti November tahun lalu, aku menolak tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan raksasa dengan gaji tiga kali lipat dari sekarang berlokasi di Ibukota. Banyak yang tidak habis pikir dengan keputusanku, bahkan kata bodoh dan gila terlontar. Namun sampai sekarang aku tidak pernah menyesalinya dan tidak akan pernah. Aku menganggapnya sebagai sebuah hadiah, hadiah untuk seseorang. Yang bahkan belum pernah aku temui.

Tidak ada yang bisa membeli sebuah ketenangan, dan aku sebisa mungkin memberikan itu padanya. Mungkin juga karena iba, betapa dia hidup dalam kecemasan. Betapa dia menjalani hidup dalam kebohongan yang ia sangkal. Kepura-puraan yang ia hadapi sudah cukup membebani, betapa pundaknya penuh dengan topeng-topeng yang tak ia tanggalkan.

Ah Ibukota, sebisa mungkin aku menjauh. 

Sekian.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s