Cerpen

Titik dalam Koma – 1

Hening lorong Rumah Sakit pecah oleh derap langkah terburu-buru, seorang perempuan setengah berlari muncul dari sudut lorong. Mulutnya terkunci, bibirnya tanpa senyum dan matanya memerah. Ia menyebarkan pandangan pada semua orang yang sedang berdiri, sekitar lima kepala serempak menengok ke arahnya.

“Mas Wahyu,” perempuan dengan tinggi langsing itu membuka suara.

“Rinai?” salah seorang pria yang berdiri di paling ujung menjawab, pria itu berjalan mendekat dan hanya berjarak sejengkal dari perempuan yang baru datang.

Yang ditanya mengangguk.

Sontak semua orang mendekat, dengan gugup Rinai bertanya, “Bagaimana keadaannya?”

Wahyu menggeleng sambil menengok ke arah pintu, “Sudah tiga hari dia belum sadar”.

“Mba Rinai baru tahu?” sela seorang perempuan di belakang Wahyu.

Rinai menengok, “Tami? Iya, aku baru tahu. Semalam Mas Wahyu telpon, makanya aku langsung ke sini”.

Tami melangkah maju, Rinai memeluknya. Mereka berpelukan tanpa tangis, hanya suara berat dan pelukan yang semakin erat. “Ibu dimana?” Rinai melepaskan pelukannya.

“Ibu di dalam Mba, Ibu tidak mau beranjak dari kamar perawatan. Ibu sedih banget,” suara Tami terdengar getir.

“Hmm … Mba Kya?” Rinai bertanya ragu.

“Mba Kya juga di dalam,” jawab Tami.

 

bersambung…

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s