Cerpen

Titik dalam Koma – 4

Wajah Kya semakin memerah, bibirnya kaku menahan gemeletuk gigi, tangannya terangkat, “Jaga mulut kamu!” Sambil mengarahkan telunjuknya ke hidung Rinai.

Sontak seorang laki-laki merangsek maju memegang tangan Kya, “Mba, tahan emosi. Ini rumah sakit.”

Kya menghentakkan tangan ketika pintu terbuka, semua orang menengok. Melihat sosok yang keluar Rinai segera mendekat, “Assalamu’alaikum Ibu.”

Mata sembab perempuan tua itu menelisik wajah Rinai, dahinya berkerut, “Loh, Rinai?”

“Iya Bu, ini Rinai,” Rinai mengacungkan tangan, mencium tangan Ibu Pras.

“Lama tak ketemu Nai. Pras belum bangun juga, tapi kemarin dia sempat menggumam kata Rindu. Ga ada yang tahu siapa Rindu, ga ada keluarga atau teman Pras namanya Rindu,” suara Ibu semakin bergetar.

Rinai memeluk Ibu beberapa saat, “Ibu, bisa temani Rinai masuk? Kita coba bangunkan Bang Pras.”

“Ibu dan semuanya sudah mencoba Nai,” Ibu mulai terisak.

“Tapi Ibu belum mencoba bersama Rinai, Ibu harus yakin Bang Pras akan bangun lagi. Kalau Ibu tidak yakin, bagaimana Rinai bisa yakin?” Rinai semakin erat memeluk Ibu.

“Dia sebutnya Rindu, kamu tahu siapa Rindu?” Ibu mulai tenang, Rinai menghapus air mata di pipi yang semakin terlihat menua karena sedih.

Rinai tersenyum mencoba menenangkan, “Kita coba.” Akhirnya Ibu mengangguk, mengenggam tangan Rinai, saling menguatkan.

“Aku ikut masuk,” kata Kya tak sabar.

“Biarkan aku dan Ibu yang masuk dulu Mba,” jawab Rinai datar.

Kya hendak menjawab ketika tangan Ibu menggandeng Rinai untuk masuk kamar perawatan, dan tangan pria yang ternyata adik Kya, Sigit kembali memegangnya.

“Biarkan, ayo kita keluar dulu,” Sigit menarik kakaknya keluar dari rumah sakit.

Di halaman rumah sakit, Kya dan Sigit duduk di smoking area.

“Terima kenyataan, Mas Pras bangun atau tidak Mba Kya sepertinya akan tetap jadi janda,” Sigit memulai percakapan.

“Jaga omongan lo!” bentak Kya, dia merogoh tasnya mengeluarkan bungkus rokok dan korek api.

“Sejak kapan ngerokok lagi? Bukannya ga boleh sama Mas Pras,” Sigit duduk tegak dan melihat dengan pandangan sangsi.

“Gue ga pernah berhenti, dia aja ga tahu,” dinyalakannya rokok dan dihisap pelan.

“Lo bisa-bisanya mau dan tahan hidup sama orang yang cinta sama perempuan lain,” Sigit mengatakannya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum sinis.

bersambung…

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s