Cerpen

Titik dalam Koma – 6

**

Sementara di dalam kamar perawatan, Rinai sudah lengkap memakai baju pengunjung ICU. Bau obat menerobos hidung, suara detak peralatan medis terrdengar nyaring. Di ruangan yang serba putih, seorang pria terbaring dengan mata terpejam, hidung dan mulutnya tertutup, nafasnya naik turun teratur.

Ada nyeri teramat sangat melanda ulu hati Rinai, ia terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Tak terasa air mata menetes. Enam tahun tidak bersua, bukan situasi seperti itu yang ia harapkan. Rinai melangkah ke sisi kiri ranjang, sementara Ibu duduk di sisi kanan.

Wajah itu terlihat menua, tulang pipinya terlihat lebih menonjol. Sekalipun terbaring namun badan itu masih terlihat atletis. Mungkin dia masih rajin bersepeda dan berenang, batin Rinai.

“Assalamu’alaikum Bang Pras, ini Rinai,” suara Rinai terdengar gemetar.

Wajah dalam pembaringan tanpa reaksi.

“Mas, Rinai datang jauh-jauh untuk ketemu kamu. Ayo bangun, kalian pasti sudah lama tidak ketemu. Kamu tidak rindu?” Ibu ikut menambahkan, mata tuanya kembali berair.

Tetap tak ada reaksi.

“Bang, ga kangen sama Rinai? Ga kangen ngobrol dan bercanda sama Rinai? Aku sekarang tambah jago masak loh, dulu aja Bang Pras suka apalagi sekarang. Nanti aku masakin apapun yang Bang Pras mau, pempek bisa, tekwan kecil, atauuuu Ayam Bangkong? Eh Ayam Kodok ding! Udah bisa aku sekarang,” Rinai mencoba membuat suaranya ceria.

Tidak ada reaksi.

Rinai melihat ke Ibu, beliau menggeleng. Rinai bertekad tidak akan menyerah. Ibu pelan membuka Al-qur’an kecil yang selalu ada di meja dekat ranjang dan mulai melantunkan ayat-ayatNya.

“Bang, Mba Kya sangat sedih karena Bang Pras ga bangun-bangun. Kasihan dia Bang, Mba Kya sayang banget sama Bang Pras. Tami juga, Mas Wahyu juga Ibu. Bang Pras ga kasihan sama Ibu yang jadi sedih terus. Ayolah Bang, demi Ibu. Bangun ….”

Enam puluh detik. Tak ada reaksi.

“Bang, inget ga dulu kita pernah beli martabak malam-malam di dekat perempatan terus Mamang yang jual nyetel lagu keroncong dari radio. Bang Pras kegirangan karena itu lagu kesukaan Bang Pras sampai kamu ikutan nyanyi, kalau ga aku larang bisa joget di pinggir jalan. Kita tertawa terbahak-bahak sampai pembeli yang lain bingung. Bahagia itu sederhana, katamu,” Rinai mengatakannya dengan senyum.

Enam puluh detik. Tidak ada reaksi.

“Bang Pras ga kangen lihat pemandangan kota dari atas? Ingat ga kita pernah diusir sama satpam karena sudah jam dua belas malam tapi masih duduk-duduk melihat lampu-lampu berkedip dari kejauhan. Mengobrol denganmu selalu tak pernah membosankan.”

120 detik yang lain. Tanpa reaksi.

Rinai semakin sesak, dia mulai menangis tanpa suara. Ia letakkan telapak tangannya pada bahu Pras, berharap akan ada gerakan lain. Sementara Ibu masih terus mengaduh dalam ayat-ayat suci-Nya.

“Kita pernah berjalan di bawah hujan dengan sebuah payung kecil, Bang Pras iseng menginjak kubangan sampai menyiprat ke aku dan tentu saja aku membalasnya. Kamu lari, akhirnya payung tak ada gunanya. Kita hujan-hujanan, ditonton anak-anak SD yang saling berbisik. Mungkin mereka mangatakan, orang dewasa kok hujan-hujanan. Betapa kita mencintai hujan, dan saat itu adalah hari ulang tahunmu.”

Tiga menit dalam hening berlalu. Tak ada reaksi.

Rinai membenamkan wajahnya di sisi ranjang, terisak pelan. Tanpa disadari tangannya mencengkram bahu Pras.

“Bang, bangun. Aku ga tahu mesti gimana lagi. Bang Pras dulu pernah bilang ga akan bikin aku sedih, ga akan menemuiku lagi karena untuk kebaikanku. Katanya Bang Pras akan tetap melindungiku meski dari jauh. Mana buktinya? Bang Pras harus membuktikannya dengan bangun.”

Suara Rinai mulai bergetar karena tangis, ia meletakkan kepalanya di sisi ranjang dekat dengan bahu Pras. Entah berapa menit berlalu.

“Nai,” Rinai sontak duduk tegak kembali. Suara Ibu, “Lihat … Pras menangis.”

bersambung …

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s