Prosa

Hujan dan Kenangan

Hujan,

Penuh kenangan mereka bilang..
Yang mana? Tidak ada yang terkenang
Suatu Jumat sore ketika harus mengejar bus? Dalam rintik kubenamkan mukaku pada punggungnya, mempercayakan waktu yang terus ikut berlari. Tikungan-tikungan yang terus dia lakukan, mencegah aku tertinggal. Berusaha membuatku tak panik, terus bicara bahwa semua akan baik-baik saja. Membuktikan ucapannya, ia mengantarku pada waktu yang tepat dan aku masih berhutang padanya. Hingga kini yang tak mampu kubayar.

Hujan,
Tetesan mengulang cerita, mereka bilang..
Yang mana? Tidak ada yang terkenang
Hari ketika kami tertinggal itu? Saat dia mengangsurkan jaketnya untukku, melindungiku dari tetesan kecil yang enggan berhenti. Berlari kecil, terus tertawa, seperti biasa dia yang tak pernah gagal membuatku tergelak. Layaknya itik, kami lincah berloncatan di bawah rinai hujan.

Hujan,
Membuka masa lalu, mereka bilang
Yang mana? Tidak ada yang terkenang
Perpisahan malam itu? Malam sebelum kami perpisah untuk sejenak, dia pergi menemui rumahnya. Ketika dia bertanya, apa yang aku inginkan untuk dia bawa. Yang kujawab, hanya ingin dia kembali dengan selamat. Kulihat matanya tersenyum, gerimis saat itu. Atau mungkin hanya bayangan tetes yang bias. Senyum yang hilang perlahan, saat aku memutuskan untuk berhenti. Bukan hanya aku, kami yang enggan memulainya kembali.

Hujan,
Yang mana lagi? Tidak ada kenangan
Mereka hanya menghiburku
Tidak, tidak ada kenangan.

Demikian.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s