Cerpen

Cerita Sore di Perempatan

Senja mulai menyibakkan warnanya, ketika lampu merah di perempatan dekat rumah memaksa motor yang kukendarai berhenti. Di tengah jalan, mobil-mobil mulai menyalakan lampu. Entah apa yang tengah kupikirkan saat itu, ketika sebuah mobil hitam meluncur dari arah berlawanan. Kepalaku sontak mengikuti gerakan mobil hingga hilang ditelan jalanan. Hingga beberapa detik kemudian, otakku mulai bisa diajak kompromi dengan benar. Aku mengenal mobil itu, juga sosok yang berada di balik kemudinya.

Setahun berlalu, siapa sangka aku melihatnya lagi. Meski beberapa detik, seolah mataku sanggup menembus kaca hitam nan pekat. Menangkap raut mukanya, yang sekilas menoleh ke sisi jalan lain. Mungkin dia memandang sekilas pada masa lalunya, jikapun dia ingat pernah berjanji.

Whatever you run, I’ll catch you. Again, again and again,” katanya membujukku yang sedang ngambek.

“Halah gombal,” sahutku tak peduli.

“Biarin gombal, tapi aku akan membuktikannya. I’ll never ever let you go,” sambungnya lagi, aku cuma membalas dengan senyuman geli.

Dan sekarang aku tersenyum lagi, namun sinis. Setahun berlalu sejak aku menyuruhnya tak menghubungiku lagi, aku lari darinya. Toh, dia menurutinya dan tak pernah muncul lagi.

Sist, orang dari kantor regional pingin ngobrol sama lo. Bisa kan? Gw sambungin sekarang.” Aku hanya mengangguk ketika bosku mengatakannya lewat telpon. Setelah bunyi bib dua kali terdengar suara seorang perempuan dengan logat singlish.

Hi there, this is B. How are you?” tanyanya akrab.

Oh hi B, I’m good thanks. Is there anything I can help?” Dahiku berkerut, tumben orang ini menelpon biasanya hanya mengirim surel.

Yeah, actually I’ve a good opportunity for you. I’ve talked with your boss and he is agree. There’s one vacancy in my team and I believe you are fit with the position. You will work both in Singapore and Indonesia. What do you think?” Dia bicara sangat santai, tak mengindahkan petir yang seolah menyambar telingaku.

“I thought someone has filled it.”

Indeed, but yesterday he stepped down.” 

Aku menelan ludah, “Why?”

“Dunno, unclear reason. So, think about my offering. Let me know your decision next week.”

Kejadian beberapa hari lalu di kantor kembali terulang di otakku. Terkadang memang hidup terasa lucu. Yang pernah berjanji akan terus kembali, ternyata tetap pergi. Yang sudah tak diharapkan kembali, tiba-tiba terdengar kabar akan datang lagi. Ketika sudah tak peduli, dia mundur lagi. Ketika sedang nyaman dengan posisi, ditawari sebagai pengganti.

Karena memang terasa lucu jika terus mengeja kalimat-kalimat tadi adalah tentang orang yang sama. Di tengah lampu merah yang menghijau aku tersenyum. Ya, aku berada di tengah-tengah situasi lucu itu.

Demikian.

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s