Cerpen

Cukup dalam Khayalan

Malam belum terlalu larut ketika aku sampai di lobi hotel, kota ini tak pernah sepi dari manusia yang terus berkeliaran. Jalanan Orchad masih penuh dengan turis yang sekedar jalan-jalan atau benar-benar ingin menghabiskan uang di deretan tokonya. Sehabis training tadi aku menemui seseorang, sudah lama kami tak berjumpa. Mengobrol segala macam topik akhirnya aku memutuskan kembali ke hotel dengan taksi, kantuk sudah menyapa. Esok, training yang panjang masih menunggu.

Di depan lift ada tiga orang sedang menunggu pintu terbuka, aku bergabung bersama mereka. Dari balik kaca lift aku melihat satu-persatu rombongan itu, aku dengar mereka bicara dalam Bahasa Korea. Satu dari anggota rombongan tampak diam, badannya tinggi atletis dan memakai kacamata hitam. Dahiku berkerut, ini sudah terlalu malam untuk silau karena cahaya matahari.

Sepertinya sosok itu tahu jika aku sedang memperhatikan, aku tersenyum dengan sedikit membungkuk. Meminta maaf seperti yang sering dilakukan di drama Korea yang aku tonton. Bunyi berdenting dan pintu lift terbuka, mereka membiarkanku melangkah masuk terlebih dahulu. Kutekan tombol 8, salah satu dari mereka menekan nomor 11. Hening, tak ada yang bicara. Namun otakku serasa terusik, ada yang sangat menganggu pikiranku. Aku perhatikan lagi pria berkacamata hitam dan aha!

“Gong Yoo?” Lirih aku memberanikan bersuara dan menengok ke arah pria itu.

Dia membungkuk dan membuka kacamata, di bibirnya seulas senyum ramah tersemat. Lift berhenti dan pintu terbuka.

It is nice to see you in person,” aku ikut membungkuk sopan.

Thank you,” jawabnya ketika aku mulai melangkah keluar lift, menuju kamarku. Mimpi apa aku semalam bertemu dengan Si Ahjussi tampan itu.

**

Hari terakhir training, sebuah hari yang panjang dan melelahkan. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian aku keluar mencari udara segar, jalanan Orchad semakin ramai di Jumat malam. Tidak sesuai harapan, ramainya sudah keterlaluan. Akhirnya aku hanya membeli sebotol teh tarik dan kembali ke hotel. Namun aku tidak kembali ke kamarku, aku melangkah ke kolam renang di lantai tiga. Pemandangan cukup apik, lampu-lampu indah bertebaran di tambah dengan bulan sabit. Hanya ada tiga orang yang berenang, aku memilih duduk di pinggiran balkon. Melihat luas Negeri Singa yang sesak, sesekali aku merapikan kerudungku yang terbang disapa angin kota berpolusi.

“Bolehkan aku duduk di sini?” Hampir saja aku tersedak teh tarik, kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul. Tapi tidak hanya itu, kekagetanku lebih pada pemilik suara. Dia memakai kaos putih lengan pendek dan celana santai 7/8, tubuhnya menjulang di hadapanku.

“Tentu,” hanya jawaban itu yang bisa aku ucapkan.

“Sedang berlibur atau bekerja?” tanyanya.

“Bekerja. Kamu?”

“Bekerja juga.” Kemudian kami sama-sama diam, menikmati angin yang bertiup dan mendengarkan segala macam suara.

Acting kamu sangat bagus di Goblin,” aku mencoba memecah sunyi. Dia hanya mengangguk-angguk.

“Aku bukan penggemar drama Korea, tapi setelah menonton Goblin aku lanjutkan dengan Train to Busan.” Tanganku memainkan botol minuman. “Great father,” imbuhku.

“Tapi aku belum jadi Ayah,” sanggahnya.

“Dan aku berharap menemukan seseorang seperti dalam Finding Mr. Destiny, tapi aku tidak suka kumismu di fim itu.” Dia terkekeh mendengarnya.

“Aku juga lebih suka kamu yang sekarang dibandingkan Coffee Prince, di sana masih terlalu muda. Aku hanya menonton beberapa episode saja.” Dia mulai menengok ke arahku, lekat-lekat.

The Age of Shadows, klasik,” aku menutup celotehku.

“Jika kamu menonton semua filmku, bagaimana kamu kemarin tidak langsung mengenaliku? Dan bertingkah seperti penggemar lain yang meminta berfoto?” Bicaranya tenang dengan memegang dagu.

“Aku menonton filmmu bukan berarti aku penggemarmu.”

Tawanya terdengar lepas mendengar jawabanku. “Tapi kamu melewatkan satu film.”

A Man and A Woman,” aku menyambar, dia tersenyum.

“Aku suka ceritanya tapi aku tidak suka adegannya.” Kembali ia tergelak melihat caraku yang nyinyir ketika mengatakannya.

“Dari film itu aku belajar satu hal,” aku mengambil nafas panjang. “Bahwa seseorang yang saling mencintai belum tentu bersama, dan yang tidak saling mencintai justru bersama. Dan itu merupakan pilihan hidup, pilihan ada di tangan kita.”

“Itulah realita.”

“Aku sempat meneteskan air mata di adegan terakhir. Ketika kamu mengendarai mobil dan melihat orang yang kamu cintai di pinggir jalan, sedang membutuhkanmu. Tapi di saat yang sama kamu memilih tetap melaju dengan mata berkaca-kaca. Ditambah istrimu yang menyadari apa yang terjadi dan tiba-tiba berkata terima kasih.” Aku tercekat, “It sucks!”

Hening sejenak.

“Kamu berada di posisi yang mana?” tanyanya.

Aku meminum teh tarik, sialnya sudah habis.

None of them.” Aku bangkit, “Terima kasih sudah menemaniku mengobrol Gong Yoo-shi. Good luck for your next movie.”

Kulangkahkan kakiku menuju lift.

“Boleh kutahu namamu?” Kudengar ia bertanya, tapi badan ini sudah enggan berbalik. Aku hanya melambaikan tangan ke atas.

Karena terkadang apa yang kita sukai bukanlah sesuatu yang nyata.

Sekian.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s