Prosa

Pada Sebuah Titik

Akhirnya kuterima kotak kirimanmu, terasa berat. Tapi aku yakin lebih berat perasaanmu ketika memasukkan satu persatu barang-barang itu ke dalamnya.

Kotak itu terasa lembab, terbayang tetesan air matamu jatuh satu persatu membasahinya.

Kubuka dengan pelan, aroma kesedihanmu menyeruak kuat dari dalamnya, menerpaku dan tubuhku berdesir halus.

Dua bungkus pakaian, satu bungkusan jaket, satu bungkusan i-pad dan satu kotak sepatu, semuanya berlomba dan berebut ingin bercerita tentang kamu.

Pertama kubuka bungkusan jaket.

Tiba-tiba ada suara mengejutkanku. “Abang, ini jaket udah berapa lama ga dicuci sih? Sudah kumel banget.”

“Ya udah, Ade’ bisa tolong bersihiin? Dilap aja pakai kain basah, ga usah dicuci, terus diangin-anginkan,” jawabku halus.

Dia tersenyum, “Siap Bos.” Katanya lucu dengan senyum manisnya.

Terbayang dia membersihkannya dengan penuh kelembutan, karena dia tahu itu jaket kesayangan abangnya. Jaket yang telah melindungi orang yang ia cintai dari terpaan panas, angin, bahkan hujan.

Banyak perjalanan yang ditempuhku bersama jaket itu, terakhir kali jaket itu kupakai ke Garut, mendaki Gunung Papandayan. Sepanjang perjalanan aku memegang lembut tangannya, entah kenapa saat itu aku merasa ini akan menjadi pendakian terakhirku bersamanya, kami berbaring di rerumputan hijau, menghirup sepuasnya udara yang bebas berlarian.

Kukeluarkan sepatu dari kotaknya.

Bersih sekali keadaannya, mungkin kamu bersihkan dengan kain yang dibasahi oleh air matamu.

“Abang mau beli sepatu, Ade’ temenin yah,” kataku saat itu. “Iya Abang, aku juga mau sepatu lagi, yang lama sudah rusak,” jawabmu. Sore itu tak lama aku sudah mendapatkan sepatu yang kucari. Berjalan kami menyusuri pertokoan Cibaduyut. “Panah-panahannya Pak,” seorang pedagang menawarkan dagangannya pada kami. “Ade’ mau beli ga?” Godaku. “Ihh Abang,  itukan panah mainan,” jawabnya. “Ga Ade’, itu panah beneran,” tukasku.

Aku tahu dia sangat menyukai memanah, entah berapa kali dia selalu bercerita tentang rencananya membeli peralatan memanah. “Tapi kalau Abang bellin kamu mau main panahan dimana?”

“Ya di sebelah rumah, kan masih ada tanah kosong buat latihan.”

Terbahak aku mendengar jawabanmu, sambil menggeleng aku bilang,”Ya udah ga jadi deh, daripada nanti ada pantat orang yang kena panah nyasar.” Dan kamupun lalu “misu-misu”, seperti anak kecil yang ga keturutan permintaannya, gemes sekali kalo kamu sudah seperti itu.

Hmm aku sadar betapa aku mencintaimu dengan cara yang paling sederhana dan kebahagiaan itu sejatinya sederhana. Siapapun dan apapun kita.

Pasrah kulihat bungkusan terakhir.

Terbungkus rapat dengan plastik, seakan kamu benar-benar takut ada sesuatu yang masuk dan merusaknya.

Setelah kubuka bungkusnya, kuraba dengan halus i-pad itu. Sehalus aku membayangkan jari-jarimu mengetik semua tulisan-tulisanmu dengan senyuman, rasa sakit, dan air mata. Masih bisa kurasakan bekas-bekas kesedihanmu, kesedihan yang telah aku ciptakan untukmu. Kutekan tombol untuk menyalakannya, kumasukkan password empat digit kombinasi kelahiran kita. Hal pertama yang aku buka adalah gambar, tidak berubah sama seperti ketika aku terakhir kali memberikannya untukmu. Foto kita berdua tersenyum luka, lalu kubuka note, hmmm … sudah ada cukup banyak cerita di dalamnya, kubaca satu persatu, mulai dari catatan pertama ketika aku memberikannya kepadamu, beberapa syair-syair satire-mu untukku. Dan …  nama-nama indah untuk anak-anak kita kelak, menitik airmataku. Perlahan, kucari tombol setting, erase content and setting, perlahan aku tekan tombol yes setelah aku memasukkan password darimu. Hanya satu alasan kenapa aku me-reset-nya, aku tidak ingin menganggu hidupmu lagi, sudah cukup aku melihatmu sedih dari harapan-harapan yang tidak pernah bisa aku berikan.

Pada akhirnya kurapikan semuanya barang-barang darimu, apa yang telah bercerita aku tuliskan. Tiba masanya aku sadar, bahwa aku harus kehilanganmu.

Inilah memori kami, terbungkus rapi dalam sekotak kardus.

Kamu akan tetap hidup manis, seperti yang aku selalu katakan. Kematianmu akan indah, dengan anak-anak yang sangat mencintaimu ada di sekitarmu untuk melihatmu pergi bahagia.

Sedangkan aku … aku akan berhenti menulis dan berhenti berharap. Karena aku sudah hilang dan mati, mengiba semua dosa yang telah kupilih. Sebagai jalan penebus dosa untuk membuatmu bahagia.

Dan inilah bait akhir untukmu.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s