Prosa

Tetap Tak Bergerak

Aku melihat seorang perempuan terus berdiam di satu tempat, perempuan itu terlihat kuat juga rapuh dalam satu waktu. Tersenyum namun nanar dalam satu tatapan, pasrah sekaligus beban dalam satu helaan.

“Sallam, mengapa masih diam disitu?” Tanyaku.
“Sallam, aku tidak diam, aku hanya enggan berpindah,” jawabnya tanpa ragu.
“Bukankah tempat ini terlalu menyakitkan? Aku melihat bagaimana kamu diacuhkan, bagaimana kamu terpinggirkan, terus jatuh, terus terkoyak. Dan aku yakin kamu lebih dari kuat untuk pergi.”
“Akupun tahu aku bisa pergi, dan kamu hanya melihat apa yang terjadi padaku. Pernahkah kamu melihat apa yang aku dapatkan?”
Dahiku berkerut.
“Di tempat ini sabar sering mengunjungiku, ikhlas sering memberikan petuahnya. Tegar mengajakku berbincang dan yang paling aku suka adalah aku sering berdiskusi dengan Tuhan. Semua hal tersebut tak pernah terjadi di tempat-tempat lain,” tambahnya.
“Sampai kapan kamu akan tetap disini?” Tanyaku lagi.
“Aku tidak pernah mempertanyakan itu, karena Tuhan sudah berjanji padaku. Dia sudah menyiapkan satu tempat yang indah ketika aku sudah bisa mengajak sabar, ikhlas, tegar dan teman-teman lainnya untuk tinggal. Entah tempat ini ataupun tempat lain.”
“Meski itu berarti kamu menunggu untuk terus tersakiti?”
“Aah, perlukah kuulang kata-kataku? Sakit ataupun cinta bukankah sama-sama rasa?” Pungkasnya, memberikan tanda ia enggan bicara lagi.
Akupun berlalu, mencerna kata-katanya. Perempuan yang aneh.

Demikian.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s