Prosa

Misteri Kematian

“Innalillahi wainnailaihi roji’un … “

Ruang tengah keluarga kami yang sedang riuh oleh suara canda tiba-tiba senyap, semua telinga menyimak kata demi kata yang terdengar. Letak masjid di depan rumah, sebenarnya suara sudah cukup jelas terdengar.

“Aaaaaaah…,” teriak Ibu.

“Ibuk!” Aku dan Masku serentak menegur. Kaget juga sedikit kesal, di saat tegang kenapa beliau berteriak.

Pengumuman dari masjid selesai, kami terdiam. Tidak hanya karena ada yang meninggal, tetapi juga getir ketika tahu siapa yang meninggal. Aku tak ingin menyebut namanya. Seseorang yang cukup berarti dalam keluarga kami. Turun temurun keluarga tesebut selalu membantu keluarga kami. Ayahnya adalah orang kepercayaan Mbah Kakung untuk merawat sawah dan kebun. Sedang almarhumah sendiri adalah andalan Ibu ketika sedang kerepotan, baik ketika ada acara ataupun hal-hal lain.

Sebenarnya kami maklum, tanpa perlu dijelaskan mengapa Ibu berteriak. Tentu beliau kaget. Pagi sebelumnya aku dan Ibu berniat menjenguk almarhumah, kami mendengar beliau sakit sejak sehari sebelum lebaran. Namun, yang kami temui hanya putra sulungnya. Darinya kami diberitahu bahwa beliau dibawa ke RS. Kamipun berniat menjenguk ke RS esok hari, mengingat saat itu masih lebaran hari kedua. Tamu masih banyak berdatangan. Tak dinyana, kami tak sempat menengok di RS.

Aku masih ingat candaan yang selalu beliau lontarkan. Juga sikap beliau yang teramat baik padaku. Pernah suatu hari ketika aku ke pasar untuk membeli jajanan, tanpa sengaja kami berpapasan. Beliau sontak memelukku dan mengangsurkan dua ikat selada air, gratis padahal itu adalah barang dagangan. Beliau tahu aku dan keluargaku suka sekali selada air, tak lupa menitipkan salam untuk Bapak dan Ibu.

Di lebaran hari keenam, keluargaku mengadakan satu acara. Selama di dapur, kami acapkali menyebut nama beliau. Rasanya aneh beliau tidak ada, biasanya beliau yang jadi tangan kanan Ibu untuk mengurus kerepotan dapur.

Aku tak ingin menyebutnya sebagai kebetulan, almarhumah meninggal enam bulan setelah Bapak. Orang yang dimakamkan pertama kali di pemakaman desa setelah Bapak. Ahhh… rasanya tak henti kehilangan ini terus melanda. Hanya doa yang bisa kita panjatkan.

Tak ada yang menyangka kapan kematian akan datang. Semua misteri. Hanya perlu bersiap.

Demikian.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s