Tentang

Gamis Hitam

Ini ceritaku dan kakak laki-laki tertuaku. Seperti kebanyakan orang jawa, aku memanggilnya Mas. Usia kami terpaut tiga belas tahun. Cukup jauh memang, mungkin itu pula yang membuat kami jarang mengobrol hal yang “berat”.  

Dia tipikal orang yang jarang memuji ataupun berkomentar tentang penampilan orang lain. Hingga sore itu, lebaran hari keempat kami sedang di halaman rumah orangtua kami.

“Kamu bagus pakai baju kayak gitu,” ucapnya. Aku terhenyak mendengarnya dan sontak melihat baju yang kukenakan. Gamis hitam menyapu lantai, kerudung hitam menjuntai menutup hingga pinggang lengkap dengan kaos kaki. Sebenarnya aku memakainya karena baru pulang dari takziyah. 

Aku melihat wajah Kakakku, tidak ada raut bercanda. Artinya dia serius. Berpenampilan serba hitam memang hal yang sangat jarang aku lakukan. Biasanya jikapun memakai gamis hitam, aku akan memadankan dengan jilbab berwarna cerah.

Mendengar pendapat Kakakku, aku hanya berpikir bahwa dia ingin aku menjadi pribadi yang lebih sederhana. Juga lebih taat tentunya. Aku senang ia melakukannya, dengan caranya sendiri.

“Gimana kalau aku pakai cadar?” Tanyaku. Dia hanya menatapku, menaikkan alis kiri dan tersenyum. “Coba aja,” jawabnya.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s