puisi

Bangkitlah

Tak usah lagi kita berdebat

Tentang aku yang seharusnya pergi

Atau kamu yang semestinya tak kembali

Bukankah maaf yang seharusnya kita peluk erat?

 

Tak ada lagi cerita Ramadan lalu nan pilu

Kita buka Ramadan kini dengan ketenangan hakiki

 

Biarkan kita hanya dalam goresan aksara

Kuabadikan dalam huruf tak bermakna lara

Biar kukenang dan menjadi pelajaran

Meretas setiap jengkal luka, agar luruh tersingkirkan

 

Tak perlu bicara rindu

Percumapun berkalang temu

Maaf, yang bisa kuangsurkan padamu

Doa, yang masih kugumamkan tentangmu

 

Bangkitlah …

Jingga akan tetap disana

Kita meresap pada jiwa

 

Bangkitlah …

Tunjukkan padaku penggenggam kaki langit

Yang tegak menaklukan hitam meski pahit

 

Perlihatkan padaku cahyamu yang telah membara

Sesederhana pendaki nan tegak menghalau terik

Musafir tersenyumlah, pulanglah…

Screenshot_2017-05-29-19-40-20_1

Standard
Tentang

Adab Menuntut Ilmu

Menulis, sebuah kata kerja yang sudah sangat melekat dalam hidup saya. Sudah menjadi sebuah kemantapan untuk menekuni bidang ini. Entah sejak kapan saya menyukainya, namun yang saya ingat orang yang pertama kali mengatakan bahwa saya mempunyai bakat menulis adalah dosen S1 dulu. Beliau adalah seorang editor dari sebuah tabloid dan majalah ternama.

Menulis itu mengubah peradaban kata Helvy Tiana Rosa. Saya masih ingat persis ketika beliau mengatakannya langsung pada saya, di Depok tanggal 17 November 2012. Kutipan tersebut adalah salah satu alasan kuat saya serius terjun ke dunia penulisan. Bukankah menjadi ibu juga membentuk peradaban? Lantas bagaimana jika keduanya disandingkan? InsyaAllah pasti akan lebih mantap.

Strategi awal adalah mencari komunitas, berkumpul dengan orang-orang yang suka menulis juga. Di dalam komunitas yang tepat, saya mendapatkan motivasi, pengalaman, relasi dan ilmu baru terus menerus.

Open minded atau berpikiran terbuka, salah satu perubahan sikap saya yang paling mendasar. Dengan pikiran terbuka kita lebih bisa menerima ilmu baru, juga dengan segala kritik dan saran yang membangun  akan menjadi semakin baik ke depannya.

*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*

Standard
puisi

Bait-Bait Kerinduan

 

Sebersit asa

Setelah senja sirna

Sepucuk surat rindu untuk dirimu

Memercikan rasa ingin bertemu

 

Permata hatiku

Kurangkai kata ini hanya untukmu

Sekedar mengungkapkan rasa rindu

Atas sendu yang mengungkungku

 

Sesak telah membiru berjelaga

Menelisik sesak yang kian mendera

Mata bening, telaga syahdu

Kamu, semesta bernama pilu

 

Angan ini luruh dipeluk masa

Tak terrumus dalam aksara

Sosokmu kian maya

Rinduku semakin nyata

 

Padamu, embun penyejuk lara

 

Entahlah …

 

Bila jawabmu tiba, melerai resah

Meretas harapku yang berkawan gundah

Sebait lisan nan tersurat indah

Kan basuh rinduku yang tergugu lelah, mencari celah …

 

Wahai pelita jiwa

 

Tak terdengarkah ratapku nan lara?

Mendambamu menyiksa raga, merobek jiwa

Embun pesonamu, mencipta bait-bait doa

Lantunan asa sendu, dalam harap dan pinta

….

Tuhan

Maka dengarkanlah kali ini saja

Sampaikan rindu ini kepadanya

Agar terhindar dari rasa yang kian menyiksa

 

Sajadah ini menjadi saksi bisu

Atas ratapan-ratapanku yang yang tak kunjung temu

Di sepertiga malamku

Ku pasrahkan semuanya kepada-Mu

 

Jika memang Engkau takdirkan dia untukku

Jangan biarkan aku tersiksa menunggu

Tapi jika memang bukan dia yang kutuju

Lepaskanlah semua bayangan semu

 

Doaku syahdu mengais rindu

Meski terkoyak tak terasa pilu

Karena dalam doa aku menyatu

Pasti takdirMu yang terindah untukku


**

Sebuah karya kolaborasi Squad 3 #30DWC Jilid 5

Berau | @evan.ardian25

Bandung | @NyonyaBadak

Depok | ~ Genta Kalbu ~ @umie_poerwanti

Makassar | @Nunu_Hilal

Jayapura | @Rina_tatarenys

NB : Yang biasa baca tulisan saya, akan tahu bait saya yang mana 😊

Standard
Tentang

Ini Cara Saya

Ada tujuh miliar manusia di bumi, ada yang jatuh cinta, ada pula yang patah hati. Ada yang hidup bersama yang dicinta, ada yang bersama dengan yang tak dinyana. Ada yang bersama untuk saling menyakiti, ada yang bersama untuk saling melindungi. Semua sudah suratan.

Bicara tentang cinta takkan pernah ada habisnya. Topik ini yang paling banyak menjadi inspirasi saya dalam menulis. Tak terkecuali tulisan imajinasi saya yang akan segera dipublikasikan. Ini akan menjadi buku antologi saya yang ketiga dan keempat. Tahun 2017 sungguh tahun penuh berkah dan tantangan. Saya seperti menemukan dunia saya dalam lingkungan yang tepat. Ada dua buku antologi sedang dalam proses editing dan satu dalam penyusunan. Semuanya berkolaborasi dengan penulis-penulis handal, Alhamdulillah.

Bulan Februari lalu diajak seorang komikus kece yang terkenal lewat komik Real Masjid @Tonytrax_ untuk membuat proyek seru-seruan, dalam waktu dua bulan penyusunan selesai. Sekarang dalam editing dan finishing.

Seusai proyek dengan Mas Tony, Brili Agung melemparkan ide ke forum alumni BBC (Bikin Buku Club) untuk membuat proyek antologi. Kebetulan ada cerpen saya yang masuk dalam tema, dengan beberapa editing akhirnya saya mengirimkan tulisan tersebut. Prosesnya cukup membuat deg-degan karena saya tahu alumni BBC berisi penulis-penulis yang karyanya sudah terbit baik Major Publishing ataupun Self-Publishing.

Sampai tenggat waktu yang ditentukan, diumumkan bahwa ada 168 cerpen yang masuk. Dua minggu kemudian, lima puluh karya terbaik diumumkan untuk maju ke “final” untuk dinilai oleh editor-editor ternama. Alhamdulillah, cerpen saya masuk dalam daftar.

Hingga akhir April lalu, 25 tulisan terbaik diumumkan. Siapa yang tak girang, cerpen saya masuk dalam daftarnya  Proses editing awal sudah selesai, sekarang sedang dalam masa editing lanjut dan finishing. Antologi kali ini tentu terasa berbeda, jika dua buku sebelumnya saya mendapatkan hasilnya di awal karena berupa hadiah, kali ini sistemnya royalti dan saya ikut langsung dalam proses pembuatan hingga jadi.

Di tengah masa editing, iseng saya bergabung dalam #30DWC atau 30 Days Writing Challege, 30 hari menulis tanpa henti. Tidak ada kendala yang berarti mengikuti tantangan ini #shombong. 30 hari sukses menulis tanpa jeda, baru dua hari lalu tantangan ini selesai.

Proyek ketiga adalah inisiasi saya yang merasa kagok “tidak ada kerjaan”. Berbulan-bulan selalu ada kegiatan “after office”, setelah selesai proyek saya merasa ada yang hilang. Akhirnya saya mengajak seorang teman untuk berkolaborasi, kali ini konsepnya cukup berbeda. Dan tentu saja seru karena saya bermodal nekat untuk memulainya. Will see

Tahun 2015-2016 saya tidak banyak menulis serius paling sekedar nge-blog ringan, mengingat dua buku antologi sebelumnya keluar tahun 2014-2015 awal. Tetapi tahun tersebut menjadi tahun inspirasi saya, banyak tulisan-tulisan saya sekarang adalah bentuk imajinasi peristiwa-peristiwa yang terjadi di dua tahun itu. Tentu saya berterima kasih kepada semua pihak yang masuk dalam lingkupnya. Kepada orang-orang yang membuat saya tertawa, pada mereka yang mengajarkan arti kata bangkit juga pada mereka yang menyakiti hingga titik terlembab. Tulisan-tulisan saya adalah bentuk apresiasi sekaligus pembalasan. Sorry (not to sorry) may be this is my way to take revenge, inilah cara saya membalas dendam.

Saya menghidupkan mereka kembali dalam bentuk tokoh, saya mengabadikan mereka dalam imajinasi siapapun yang membacanya. Mereka mungkin bisa lari, tapi mereka takkan bisa bersembunyi. Bukankah menyenangkan gambaran diri ada dalam buku yang terpajang dan dibaca banyak orang? #Ooops

Menulis sungguh menyenangkan.

Sallam,

Nyonya Badak

Standard
Prosa

Pada Sebuah Titik

Akhirnya kuterima kotak kirimanmu, terasa berat. Tapi aku yakin lebih berat perasaanmu ketika memasukkan satu persatu barang-barang itu ke dalamnya.

Kotak itu terasa lembab, terbayang tetesan air matamu jatuh satu persatu membasahinya.

Kubuka dengan pelan, aroma kesedihanmu menyeruak kuat dari dalamnya, menerpaku dan tubuhku berdesir halus.

Dua bungkus pakaian, satu bungkusan jaket, satu bungkusan i-pad dan satu kotak sepatu, semuanya berlomba dan berebut ingin bercerita tentang kamu.

Pertama kubuka bungkusan jaket.

Tiba-tiba ada suara mengejutkanku. “Abang, ini jaket udah berapa lama ga dicuci sih? Sudah kumel banget.”

“Ya udah, Ade’ bisa tolong bersihiin? Dilap aja pakai kain basah, ga usah dicuci, terus diangin-anginkan,” jawabku halus.

Dia tersenyum, “Siap Bos.” Katanya lucu dengan senyum manisnya.

Terbayang dia membersihkannya dengan penuh kelembutan, karena dia tahu itu jaket kesayangan abangnya. Jaket yang telah melindungi orang yang ia cintai dari terpaan panas, angin, bahkan hujan.

Banyak perjalanan yang ditempuhku bersama jaket itu, terakhir kali jaket itu kupakai ke Garut, mendaki Gunung Papandayan. Sepanjang perjalanan aku memegang lembut tangannya, entah kenapa saat itu aku merasa ini akan menjadi pendakian terakhirku bersamanya, kami berbaring di rerumputan hijau, menghirup sepuasnya udara yang bebas berlarian.

Kukeluarkan sepatu dari kotaknya.

Bersih sekali keadaannya, mungkin kamu bersihkan dengan kain yang dibasahi oleh air matamu.

“Abang mau beli sepatu, Ade’ temenin yah,” kataku saat itu. “Iya Abang, aku juga mau sepatu lagi, yang lama sudah rusak,” jawabmu. Sore itu tak lama aku sudah mendapatkan sepatu yang kucari. Berjalan kami menyusuri pertokoan Cibaduyut. “Panah-panahannya Pak,” seorang pedagang menawarkan dagangannya pada kami. “Ade’ mau beli ga?” Godaku. “Ihh Abang,  itukan panah mainan,” jawabnya. “Ga Ade’, itu panah beneran,” tukasku.

Aku tahu dia sangat menyukai memanah, entah berapa kali dia selalu bercerita tentang rencananya membeli peralatan memanah. “Tapi kalau Abang bellin kamu mau main panahan dimana?”

“Ya di sebelah rumah, kan masih ada tanah kosong buat latihan.”

Terbahak aku mendengar jawabanmu, sambil menggeleng aku bilang,”Ya udah ga jadi deh, daripada nanti ada pantat orang yang kena panah nyasar.” Dan kamupun lalu “misu-misu”, seperti anak kecil yang ga keturutan permintaannya, gemes sekali kalo kamu sudah seperti itu.

Hmm aku sadar betapa aku mencintaimu dengan cara yang paling sederhana dan kebahagiaan itu sejatinya sederhana. Siapapun dan apapun kita.

Pasrah kulihat bungkusan terakhir.

Terbungkus rapat dengan plastik, seakan kamu benar-benar takut ada sesuatu yang masuk dan merusaknya.

Setelah kubuka bungkusnya, kuraba dengan halus i-pad itu. Sehalus aku membayangkan jari-jarimu mengetik semua tulisan-tulisanmu dengan senyuman, rasa sakit, dan air mata. Masih bisa kurasakan bekas-bekas kesedihanmu, kesedihan yang telah aku ciptakan untukmu. Kutekan tombol untuk menyalakannya, kumasukkan password empat digit kombinasi kelahiran kita. Hal pertama yang aku buka adalah gambar, tidak berubah sama seperti ketika aku terakhir kali memberikannya untukmu. Foto kita berdua tersenyum luka, lalu kubuka note, hmmm … sudah ada cukup banyak cerita di dalamnya, kubaca satu persatu, mulai dari catatan pertama ketika aku memberikannya kepadamu, beberapa syair-syair satire-mu untukku. Dan …  nama-nama indah untuk anak-anak kita kelak, menitik airmataku. Perlahan, kucari tombol setting, erase content and setting, perlahan aku tekan tombol yes setelah aku memasukkan password darimu. Hanya satu alasan kenapa aku me-reset-nya, aku tidak ingin menganggu hidupmu lagi, sudah cukup aku melihatmu sedih dari harapan-harapan yang tidak pernah bisa aku berikan.

Pada akhirnya kurapikan semuanya barang-barang darimu, apa yang telah bercerita aku tuliskan. Tiba masanya aku sadar, bahwa aku harus kehilanganmu.

Inilah memori kami, terbungkus rapi dalam sekotak kardus.

Kamu akan tetap hidup manis, seperti yang aku selalu katakan. Kematianmu akan indah, dengan anak-anak yang sangat mencintaimu ada di sekitarmu untuk melihatmu pergi bahagia.

Sedangkan aku … aku akan berhenti menulis dan berhenti berharap. Karena aku sudah hilang dan mati, mengiba semua dosa yang telah kupilih. Sebagai jalan penebus dosa untuk membuatmu bahagia.

Dan inilah bait akhir untukmu.

Standard
puisi

Bertanya pada Hati

Aku bertanya padamu,

“Apakah kamu terluka? Pada mereka yang mengkhianatimu.”
Diam, tak terjawab. Terlalu perih katamu

“Apakah kamu koyak? Oleh mereka yang mencampakkanmu.”
Masih pilu, terlalu sesak katamu.

“Apakah kamu remuk? Oleh mereka yang mengabaikanmu.”
Temaram, terlalu redam katamu.

“Apakah kamu mendengki? Pada mereka yang tak punya keberanian untuk menjadikanmu ada.”
Saru, hilang peka katamu.

Kuangsurkan sajak, bukan pelipur hanya penguat.
Apalah perih jika menjadikanmu galah.
Pilu, sesak, redam tak ada guna jika cahaya memelukmu, Sang Penguasa Malam.
Dan pada keberanian yang tak jua menyapa, terima kasih.
Memberikan celah untuk menatap warna jingga.

Yang lebih terang.

Standard