Prosa

360 Hari

​360 hari, sendu mentari berhenti menyanyi pilu. Sejak kamu melambaikan tangan pagi itu.

360 hari, goresan pantai lenyap tersapu ombak. Namun tak ada lembaran baru, torehan itu masih di sana. Nanar bersama tatapan terakhir, saat aku meninggalkanmu.

360 hari, aku belum berani menatap senja. Hal yang paling kurindukan sekaligus paling tak kuiinginkan.

360 hari, gemuruh mencoba meredam. Hujan dan terik tak sekalipun saling tahu, berhenti dan menerima. Ya, kita.. karena aku tahu aku tak sendirian.

360 hari, menari dan menikmati lakon. Tak ada peran yang lebih bijak dan tenang. Ada kala rindu, ada kala saru. Namun inilah panggungku.

360 hari, aku menghitungnya. Karena aku harus terbang pada 360-360 lain dengan cara yang berbeda.

Tiga ratus enam puluh hari sudah…

 

Advertisements
Standard
Prosa

Jika Aku Diam

Jika aku diam, masihkah kau mengangsurkan apel untukku dengan tatap lembutmu?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku menyusuri perdu. Menikmati senyapnya angin sendu?

Jika aku diam, masihkah kau tidur di pangkuanku. Mendendangkan nada rindu riak-riak kabut dan danau?

Jika aku diam, masihkah kau membujukku berkelana mendayung. Mendengarkan nyanyian arus?

Jika aku diam, masihkah kau memelukku menyairkan alunan derak-derak nipah tepi sungai?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku ke dermaga. Bercerita tentang luka, berbagi impian dan kemungkinan?

Jika aku diam, masihkah kau memayungiku dari terik mentari, menyelimutiku dari badai?

Jika aku diam, masihkah kau menawarkan senyum. Mewarnai detik-detik lelah tak berkesudahan?

Jika kamu diam, kemudian apa jawabanku?

Standard
Prosa

Episode Rumput dan Angin

Matahari tersenyum di pagi indah, Angin sejuk menyapa rumput. Bersua ceria menceritakan keanggungan malam. Tertawa bersahabat.

Mengharukan dunia. Pohon-pohon pun bergoyang. Mengiringi kebahagiaan. Makhluk Tuhan yang berkawan.

Beranjak naiknya surya. Rumput ingin selalu bersama. Sepanjang hari sepanjang waktu. Menjaga dari panas. Menyejukkan dari kering.

Tapi apa daya. Sang bayu ingin bebas. Pergi melanglang mengarungi dunia. Menjelajah mencari langit.

Angin pergi berhembus kuat. Mengoyak daun-daun rumput. Meninggalkannya melayu dan kering

Rumput menunggu ia kan berbelok. Dan berdesir. Rumput menyesal hatinya bercabang.

Sahabat pergi cinta tak terdaki. Beruntunglah titik-titik hujan. Menyiram dahannya yang menguning. Membangkitkan hijau. Hingga bisa menari.
Menyapa awan dan ilalang. Matahari di puncak cakarawala. Rumput terus memandang. Jauh kedepan. Mencari jawaban.

Bilakah angin bertiup. Menggoyangkan daun hijaunya. Mengajak bernyanyi di pagi hari. Seperti sebelum berbelok hati

Gelap menutupi bumi. Dan rumput masih terhanyut. Dalam penantian.

Sang sahabat kan terlihat.

Sejak siang hari. Angin tiada pergi. Ia hanya bersembunyi. Di balik pohon-pohon tinggi. Angin berharap bisa lari. Mencari langit tertinggi.

Di atas bumi ia menerawang. Beribu rumput. Namun tiada seindah pagi tadi. Haruskah ia lari jika indahnya langit. Ada bersama rumput.

Ia berbelok menjangkau bumi. Ia berhenti dan berpikir. Akankah rumput bisa tetap hijau. Takkan terkoyak takkan tercabut.

Angin tetap menunggu. Bukannya ia tak ingin. Berdesir di sisi rumput.

Ia ingin. Rumput tetap tegar dan bergoyang. Suatu saat nanti. Angin akan bergembus. Dan bercerita.

Tapi entah kapan. Itu takkan lama lagi

 

Standard
Prosa

Dinding Hati

Terdapat banyak dinding yang terbangun, tinggi dan tebalnya berbeda untuk setiap orang. Menutupi cerita, bahagia, rahasia juga luka.

Ada sebuah dinding yang (dikira) bentuknya teramat tinggi pun tebal, yang disiapkan ruangan teramat luas untuk siapapun yang mampu menembusnya. Dinding ini pernah beberapa kali berlubang, namun selalu kembali dan dipertebal setelahnya.

Sejak terakhir berlubang dan mengembalikannya, begitu nyaman tinggal di dalamnya. Ruangan yang indah untuk menari dan berekspresi.

Berjalannya waktu tanpa sadar, dinding itu runtuh.

Menengok ke belakang hanya ada pertanyaan, sejak kapan reruntuhan itu terjadi? Atas izin siapa? Atau memang punya cara sendiri untuk runtuh? Atau sesuatu terlalu pintar hingga punya cara meruntuhkannya…?

Hanya termangu, kebingungan. Apa yang harus dilakukan dengan reruntuhan? Sedangkan ia begitu indah meski menyakitkan. Tapi bagaimanapun dan tak ingin pilihan, dinding harus dibangun kembali meski harus berdarah-darah ataupun penuh rinai air mata. Entah seberapa akan lebih tinggi dan lebih tebal…

Kamupun mengerti, aku bercerita tentang dinding hati. Yang terkadang berlubang, lalu kembali. Yang kadang kokoh, tak tergoyah. Atau juga runtuh, tanpa tersadari. Meninggalkan puing yang harus ditata ulang, lagi. 

Bagaimana kabar dindingmu?

Standard
Prosa

Pilihan, Jalan Keluar atau Ujian?

Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa manusia selalu punya pilihan. Tidak pernah ada kata bahwa kita tidak punya pilihan. Hanya tentang kita mau mencari jalan ataupun hanya menyerah. Meletakkan semua pada apa yang terlihat ataupun pada rasa.

Dan aku tak tahu, apakah benar aku punya pilihan. Apakah benar merupakan pilihan? Sebuah jalan keluar? Atau sebuah ujian?

Rentetan pertanyaan menghujam kepalaku akhir-akhir ini. Pada titik lelah dan nadir terendah. Pilihan berada dalam genggaman, justru membuatku gamang. 

Berdiam, melanjutkan langkah meski teramat lelah. Mengokohkan diri, hingga terseok sana-sini. Melaju, hingga hati ini kaku. Atau…

Pergi dan berbelok arah. Memulai langkah baru, meski tak mudah. Meyakinkan hati, menempa jati diri. Membebaskan rasa, mendamaikan cerita.

Lalu apakah artinya aku menyerah?

Standard
Prosa

Misteri Kematian

“Innalillahi wainnailaihi roji’un … “

Ruang tengah keluarga kami yang sedang riuh oleh suara canda tiba-tiba senyap, semua telinga menyimak kata demi kata yang terdengar. Letak masjid di depan rumah, sebenarnya suara sudah cukup jelas terdengar.

“Aaaaaaah…,” teriak Ibu.

“Ibuk!” Aku dan Masku serentak menegur. Kaget juga sedikit kesal, di saat tegang kenapa beliau berteriak.

Pengumuman dari masjid selesai, kami terdiam. Tidak hanya karena ada yang meninggal, tetapi juga getir ketika tahu siapa yang meninggal. Aku tak ingin menyebut namanya. Seseorang yang cukup berarti dalam keluarga kami. Turun temurun keluarga tesebut selalu membantu keluarga kami. Ayahnya adalah orang kepercayaan Mbah Kakung untuk merawat sawah dan kebun. Sedang almarhumah sendiri adalah andalan Ibu ketika sedang kerepotan, baik ketika ada acara ataupun hal-hal lain.

Sebenarnya kami maklum, tanpa perlu dijelaskan mengapa Ibu berteriak. Tentu beliau kaget. Pagi sebelumnya aku dan Ibu berniat menjenguk almarhumah, kami mendengar beliau sakit sejak sehari sebelum lebaran. Namun, yang kami temui hanya putra sulungnya. Darinya kami diberitahu bahwa beliau dibawa ke RS. Kamipun berniat menjenguk ke RS esok hari, mengingat saat itu masih lebaran hari kedua. Tamu masih banyak berdatangan. Tak dinyana, kami tak sempat menengok di RS.

Aku masih ingat candaan yang selalu beliau lontarkan. Juga sikap beliau yang teramat baik padaku. Pernah suatu hari ketika aku ke pasar untuk membeli jajanan, tanpa sengaja kami berpapasan. Beliau sontak memelukku dan mengangsurkan dua ikat selada air, gratis padahal itu adalah barang dagangan. Beliau tahu aku dan keluargaku suka sekali selada air, tak lupa menitipkan salam untuk Bapak dan Ibu.

Di lebaran hari keenam, keluargaku mengadakan satu acara. Selama di dapur, kami acapkali menyebut nama beliau. Rasanya aneh beliau tidak ada, biasanya beliau yang jadi tangan kanan Ibu untuk mengurus kerepotan dapur.

Aku tak ingin menyebutnya sebagai kebetulan, almarhumah meninggal enam bulan setelah Bapak. Orang yang dimakamkan pertama kali di pemakaman desa setelah Bapak. Ahhh… rasanya tak henti kehilangan ini terus melanda. Hanya doa yang bisa kita panjatkan.

Tak ada yang menyangka kapan kematian akan datang. Semua misteri. Hanya perlu bersiap.

Demikian.

Standard
Prosa

Kembali Pulang

Pernah merasa jauh dari Tuhan?

Nyeri sekali rasanya, kemudian ketika bersimpuh. Ada rasa nikmat tak terrumus, melebihi keindahan rasa ketika pulang ke rumah setelah jauh berkelana.

Pernah merasa lupa berpasrah?
Seperti hilang kendali, kemudian terduduk. Mengingat semua kenikmatan yang pernah dan yakin akan didapatkan. Bahwa kita tak pernah sendiri.

Bahwa doa selalu menjadi penghantar cinta dan rindu paling tajam.
Bahwa hati, berpemilik dan bertuan pada Penguasa Malam.
Bahwa tiada paling sendu, terengkuh dan menangis kembali dalam dekapan-Nya.

Tiada kemudian harus berpura mampu atau berpura tak sanggup. Sungguh, aku merindukan pelukan-Nya. Ketenangan hakiki tak pernah terganti.

Tak terbayang rasanya jika Ia tak menyapa. Aku lupa ditelan masa. Oleh dunia yang maya. Juga cinta yang fana.

Jangan pernah biarkan aku jauh dariMu.

Standard