Prosa

1.38 a.m

Tak sehari atau dua hari ini aku terjaga, pada detik jam yang menunjukkan angka yang hampir persis. Siapa pula yang memanggilku, mungkin dalam mimpi atau doanya. Entahlah, aku hanya meyakininya. 

Ada satu titik, kita harus menyadari ada beberapa hal yang tidak ditakdirkan untuk bisa dijalani. Ada beberapa orang yang tidak ditakdirkan untuk bersama kita. Dan ada beberapa luka yang butuh lebih dari seumur hidup untuk disembuhkan. (r. m. drake) 

Advertisements
Standard
Prosa

Perkara Masa Lalu

Berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, hingga aku sampai pada pemikiran ini. Disampaikan seorang teman, tentang pengalaman. Bagaimana aku tahu berbagai tempat menyangkut petualangan dan urusan makan. Tentu jawabnya harus menguak masa lalu. 

Yang dulu aku coba lupakan, yang sekeras tenaga aku tinggalkan. Hingga aku sampai di titik ini, mampu tertawa. Tak berat hati menyampaikan apa yang terasa. Toh, selalu ada hikmah yang tak lagi berhijab. 

Tak cukup satu atau dua yang berkata, aku sungguh sangat berbeda. Terlihat sangat bahagia. Aku tersenyum, mereka bahkan tak tahu. Yang tak kasat mata jauh lebih reda. Hati tak pernah selapang ini. Rasa tak pernah seringan kini. 

Gemuruh telah redam, rindu kian terdiam. Cinta, argggghhh karam. 

Dan benarlah ucapnya, cinta hanyalah sebuah pengalaman rasa. 

Standard
Prosa

Senja Yang Tak Jingga

Merah yang berpendar di tengah birunya langit, selalu menjadi hamparan impian. Siapapun yang mendamba senja, tak akan pernah melepaskannya. Begitu pula aku, manusia kecil di tengah redamnya masa. 

Rintik menari bersama hempasan angin, tak ada yang berharap ada jingga sore ini. Terdengar suara mesin mobil berhenti, aku bersiap, ada seseorang yang datang. 

Assalamualaikum.” Suara yang cukup familiar. 

Wa’alaikumsalam,” jawabku sambil membuka pintu. 

Benar dugaanku, dia yang datang. “Loh, tumben tiba-tiba datang?”

Dia menggaruk-garuk kepala, “Iya, tadi aku ada acara di rumah. Jadi ga bisa anterin kamu ke dokter.”

Aku tersenyum, “It’s ok. Tadi ‘kan cuma iseng tanya, mungkin kamu sedang ga sibuk. Kalau sudah ada acara ya ndak papa, malah ngrepotin.”

“Sebagai gantinya, sekarang aku traktir kamu makan.” Senyumnya tulus. 

Mataku terbelalak, “Nyantai aja kali, gapapa. Itu ‘kan bukan hutang. ”

“Ya udah intinya aku traktir kamu makan, yuk. Ajakin adik kamu sekalian.” Dia bersikukuh. 

“Adikku belum pulang, lagi nonton bareng temennya. Yaudah bentar, aku ambil dompet dulu,” bergegas aku mengambil dompet di kamar lalu bersamanya masuk ke mobil. 

Matahari tak sedikitpun nampak, hanya kelabu dan tetesan air langit. 

Dia berdehem, “Lain kali kalau kamu ada perlu, ngomongnya sejak awal jangan mendadak. Biar aku bisa temenin.”

“Tadi itu spontan aja, iseng. Biasanya juga aku sendiri kok. Malah ngerepotin jadinya.”

Hening. 

“Aku pengen direpotin kamu terus. Kamu juga jangan sendiri melulu.”

Tak ada kata, aku hanya menatap rautnya. Mencoba memastikan, matanya fokus pada jalanan. 

“Ibu kamu minggu depan ke sini kan? Aku mau ketemu ya.”

“Untuk?”

“Untuk meminta izin, biar aku direpotin dan menemani kamu terus. Untuk jagain kamu, selamanya.”

Tahan nafas. 

“Aku serius.”

Dan aku baru sadar, dia yang selama ini menemani hari-hariku. Dengan segala goresan kisah masa laluku. Belum ada rasa, belum terdefinisikan. Tapi tak ada yang lebih baik dari sosoknya. 

Senja sore itu indah. Dengan kelabunya langit dan nyanyian kenangan hujan. Tanpa mentari, tanpa garis cakrawala. Senja indah tak harus jingga. 

Senja Tak Jingga

Standard
Prosa

Hello November

Bulan penghujan bukan? Yang derasnya sanggup menghanyutkan bukit. Yang alirnya mampu meratakan rumah. Tapi tidak di sini. Hujan telah reda. 

Rintiknya telah usai. Badainya telah selesai. Semua telah terlalui. Rindu yang ngilu, sesak yang desak. Gila tak terkata.

Tidak ada yang terlupa, tiada yang binasa. Luka, tawa dan rasa masih di tempat yang sama. Hanya keberadaannya sudah diterima. 

Sebagai bagian dari raga, tak terpisah dari jiwa. Sebagai bayangan langkah kaki, irama detak nadi. Menyatu dalam diri, melebur mendarah daging

Luka itu aku, tawa itupun aku. Bahagia itu aku, tangispun aku. Bulan ini, hujan telah pungkas. Lahir kembali. 

Seperti aroma parfum biru yang menggebu. Layaknya putih pada pakaianmu. Juga hilang akun tak penting itu. 

Hello November, i wish you be brighter! I’m still loving you anyway :’)

Standard
Prosa

Ingatan

Tak ada yang lebih indah dari sebuah pertemuan. Dengan percakapan hangat di sela derasnya hujan. Dan seorang sahabat yang kembali dekat. Tawa yang lama tak terngiang, hingga cerita lama yang tak terkata. 

Tak ada yang lebih syukur dari doa yang terulur. Dengan iring ceria dan debar yang tak lagi berirama. Dalam senyap, satu persatu terjawab. 

Sebuah sujud syukur dan tangisan cengeng, tak ada yang lebih bisa ku lakukan. Tak berhenti tersenyum juga aliran air dari entah mata sebelah mana. Ya Rabb, terima kasih. 

Yang pasti, mulai malam ini rentetan rajukanku berkurang. Tapi mungkin juga aku akan memulai sebuah rangkaian doa baru. 

Kapan ingatan ini akan melenggang? 

Standard
Prosa

360 Hari

​360 hari, sendu mentari berhenti menyanyi pilu. Sejak kamu melambaikan tangan pagi itu.

360 hari, goresan pantai lenyap tersapu ombak. Namun tak ada lembaran baru, torehan itu masih di sana. Nanar bersama tatapan terakhir, saat aku meninggalkanmu.

360 hari, aku belum berani menatap senja. Hal yang paling kurindukan sekaligus paling tak kuiinginkan.

360 hari, gemuruh mencoba meredam. Hujan dan terik tak sekalipun saling tahu, berhenti dan menerima. Ya, kita.. karena aku tahu aku tak sendirian.

360 hari, menari dan menikmati lakon. Tak ada peran yang lebih bijak dan tenang. Ada kala rindu, ada kala saru. Namun inilah panggungku.

360 hari, aku menghitungnya. Karena aku harus terbang pada 360-360 lain dengan cara yang berbeda.

Tiga ratus enam puluh hari sudah…

 

Standard
Prosa

Jika Aku Diam

Jika aku diam, masihkah kau mengangsurkan apel untukku dengan tatap lembutmu?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku menyusuri perdu. Menikmati senyapnya angin sendu?

Jika aku diam, masihkah kau tidur di pangkuanku. Mendendangkan nada rindu riak-riak kabut dan danau?

Jika aku diam, masihkah kau membujukku berkelana mendayung. Mendengarkan nyanyian arus?

Jika aku diam, masihkah kau memelukku menyairkan alunan derak-derak nipah tepi sungai?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku ke dermaga. Bercerita tentang luka, berbagi impian dan kemungkinan?

Jika aku diam, masihkah kau memayungiku dari terik mentari, menyelimutiku dari badai?

Jika aku diam, masihkah kau menawarkan senyum. Mewarnai detik-detik lelah tak berkesudahan?

Jika kamu diam, kemudian apa jawabanku?

Standard