Prosa

Hello November

Bulan penghujan bukan? Yang derasnya sanggup menghanyutkan bukit. Yang alirnya mampu meratakan rumah. Tapi tidak di sini. Hujan telah reda. 

Rintiknya telah usai. Badainya telah selesai. Semua telah terlalui. Rindu yang ngilu, sesak yang desak. Gila tak terkata.

Tidak ada yang terlupa, tiada yang binasa. Luka, tawa dan rasa masih di tempat yang sama. Hanya keberadaannya sudah diterima. 

Sebagai bagian dari raga, tak terpisah dari jiwa. Sebagai bayangan langkah kaki, irama detak nadi. Menyatu dalam diri, melebur mendarah daging

Luka itu aku, tawa itupun aku. Bahagia itu aku, tangispun aku. Bulan ini, hujan telah pungkas. Lahir kembali. 

Seperti aroma parfum biru yang menggebu. Layaknya putih pada pakaianmu. Juga hilang akun tak penting itu. 

Hello November, i wish you be brighter! I’m still loving you anyway :’)

Advertisements
Standard
Prosa

Ingatan

Tak ada yang lebih indah dari sebuah pertemuan. Dengan percakapan hangat di sela derasnya hujan. Dan seorang sahabat yang kembali dekat. Tawa yang lama tak terngiang, hingga cerita lama yang tak terkata. 

Tak ada yang lebih syukur dari doa yang terulur. Dengan iring ceria dan debar yang tak lagi berirama. Dalam senyap, satu persatu terjawab. 

Sebuah sujud syukur dan tangisan cengeng, tak ada yang lebih bisa ku lakukan. Tak berhenti tersenyum juga aliran air dari entah mata sebelah mana. Ya Rabb, terima kasih. 

Yang pasti, mulai malam ini rentetan rajukanku berkurang. Tapi mungkin juga aku akan memulai sebuah rangkaian doa baru. 

Kapan ingatan ini akan melenggang? 

Standard
Prosa

360 Hari

​360 hari, sendu mentari berhenti menyanyi pilu. Sejak kamu melambaikan tangan pagi itu.

360 hari, goresan pantai lenyap tersapu ombak. Namun tak ada lembaran baru, torehan itu masih di sana. Nanar bersama tatapan terakhir, saat aku meninggalkanmu.

360 hari, aku belum berani menatap senja. Hal yang paling kurindukan sekaligus paling tak kuiinginkan.

360 hari, gemuruh mencoba meredam. Hujan dan terik tak sekalipun saling tahu, berhenti dan menerima. Ya, kita.. karena aku tahu aku tak sendirian.

360 hari, menari dan menikmati lakon. Tak ada peran yang lebih bijak dan tenang. Ada kala rindu, ada kala saru. Namun inilah panggungku.

360 hari, aku menghitungnya. Karena aku harus terbang pada 360-360 lain dengan cara yang berbeda.

Tiga ratus enam puluh hari sudah…

 

Standard
Prosa

Jika Aku Diam

Jika aku diam, masihkah kau mengangsurkan apel untukku dengan tatap lembutmu?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku menyusuri perdu. Menikmati senyapnya angin sendu?

Jika aku diam, masihkah kau tidur di pangkuanku. Mendendangkan nada rindu riak-riak kabut dan danau?

Jika aku diam, masihkah kau membujukku berkelana mendayung. Mendengarkan nyanyian arus?

Jika aku diam, masihkah kau memelukku menyairkan alunan derak-derak nipah tepi sungai?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku ke dermaga. Bercerita tentang luka, berbagi impian dan kemungkinan?

Jika aku diam, masihkah kau memayungiku dari terik mentari, menyelimutiku dari badai?

Jika aku diam, masihkah kau menawarkan senyum. Mewarnai detik-detik lelah tak berkesudahan?

Jika kamu diam, kemudian apa jawabanku?

Standard
Prosa

Episode Rumput dan Angin

Matahari tersenyum di pagi indah, Angin sejuk menyapa rumput. Bersua ceria menceritakan keanggungan malam. Tertawa bersahabat.

Mengharukan dunia. Pohon-pohon pun bergoyang. Mengiringi kebahagiaan. Makhluk Tuhan yang berkawan.

Beranjak naiknya surya. Rumput ingin selalu bersama. Sepanjang hari sepanjang waktu. Menjaga dari panas. Menyejukkan dari kering.

Tapi apa daya. Sang bayu ingin bebas. Pergi melanglang mengarungi dunia. Menjelajah mencari langit.

Angin pergi berhembus kuat. Mengoyak daun-daun rumput. Meninggalkannya melayu dan kering

Rumput menunggu ia kan berbelok. Dan berdesir. Rumput menyesal hatinya bercabang.

Sahabat pergi cinta tak terdaki. Beruntunglah titik-titik hujan. Menyiram dahannya yang menguning. Membangkitkan hijau. Hingga bisa menari.
Menyapa awan dan ilalang. Matahari di puncak cakarawala. Rumput terus memandang. Jauh kedepan. Mencari jawaban.

Bilakah angin bertiup. Menggoyangkan daun hijaunya. Mengajak bernyanyi di pagi hari. Seperti sebelum berbelok hati

Gelap menutupi bumi. Dan rumput masih terhanyut. Dalam penantian.

Sang sahabat kan terlihat.

Sejak siang hari. Angin tiada pergi. Ia hanya bersembunyi. Di balik pohon-pohon tinggi. Angin berharap bisa lari. Mencari langit tertinggi.

Di atas bumi ia menerawang. Beribu rumput. Namun tiada seindah pagi tadi. Haruskah ia lari jika indahnya langit. Ada bersama rumput.

Ia berbelok menjangkau bumi. Ia berhenti dan berpikir. Akankah rumput bisa tetap hijau. Takkan terkoyak takkan tercabut.

Angin tetap menunggu. Bukannya ia tak ingin. Berdesir di sisi rumput.

Ia ingin. Rumput tetap tegar dan bergoyang. Suatu saat nanti. Angin akan bergembus. Dan bercerita.

Tapi entah kapan. Itu takkan lama lagi

 

Standard
Prosa

Dinding Hati

Terdapat banyak dinding yang terbangun, tinggi dan tebalnya berbeda untuk setiap orang. Menutupi cerita, bahagia, rahasia juga luka.

Ada sebuah dinding yang (dikira) bentuknya teramat tinggi pun tebal, yang disiapkan ruangan teramat luas untuk siapapun yang mampu menembusnya. Dinding ini pernah beberapa kali berlubang, namun selalu kembali dan dipertebal setelahnya.

Sejak terakhir berlubang dan mengembalikannya, begitu nyaman tinggal di dalamnya. Ruangan yang indah untuk menari dan berekspresi.

Berjalannya waktu tanpa sadar, dinding itu runtuh.

Menengok ke belakang hanya ada pertanyaan, sejak kapan reruntuhan itu terjadi? Atas izin siapa? Atau memang punya cara sendiri untuk runtuh? Atau sesuatu terlalu pintar hingga punya cara meruntuhkannya…?

Hanya termangu, kebingungan. Apa yang harus dilakukan dengan reruntuhan? Sedangkan ia begitu indah meski menyakitkan. Tapi bagaimanapun dan tak ingin pilihan, dinding harus dibangun kembali meski harus berdarah-darah ataupun penuh rinai air mata. Entah seberapa akan lebih tinggi dan lebih tebal…

Kamupun mengerti, aku bercerita tentang dinding hati. Yang terkadang berlubang, lalu kembali. Yang kadang kokoh, tak tergoyah. Atau juga runtuh, tanpa tersadari. Meninggalkan puing yang harus ditata ulang, lagi. 

Bagaimana kabar dindingmu?

Standard
Prosa

Pilihan, Jalan Keluar atau Ujian?

Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa manusia selalu punya pilihan. Tidak pernah ada kata bahwa kita tidak punya pilihan. Hanya tentang kita mau mencari jalan ataupun hanya menyerah. Meletakkan semua pada apa yang terlihat ataupun pada rasa.

Dan aku tak tahu, apakah benar aku punya pilihan. Apakah benar merupakan pilihan? Sebuah jalan keluar? Atau sebuah ujian?

Rentetan pertanyaan menghujam kepalaku akhir-akhir ini. Pada titik lelah dan nadir terendah. Pilihan berada dalam genggaman, justru membuatku gamang. 

Berdiam, melanjutkan langkah meski teramat lelah. Mengokohkan diri, hingga terseok sana-sini. Melaju, hingga hati ini kaku. Atau…

Pergi dan berbelok arah. Memulai langkah baru, meski tak mudah. Meyakinkan hati, menempa jati diri. Membebaskan rasa, mendamaikan cerita.

Lalu apakah artinya aku menyerah?

Standard