puisi

Bangkitlah

Tak usah lagi kita berdebat

Tentang aku yang seharusnya pergi

Atau kamu yang semestinya tak kembali

Bukankah maaf yang seharusnya kita peluk erat?

 

Tak ada lagi cerita Ramadan lalu nan pilu

Kita buka Ramadan kini dengan ketenangan hakiki

 

Biarkan kita hanya dalam goresan aksara

Kuabadikan dalam huruf tak bermakna lara

Biar kukenang dan menjadi pelajaran

Meretas setiap jengkal luka, agar luruh tersingkirkan

 

Tak perlu bicara rindu

Percumapun berkalang temu

Maaf, yang bisa kuangsurkan padamu

Doa, yang masih kugumamkan tentangmu

 

Bangkitlah …

Jingga akan tetap disana

Kita meresap pada jiwa

 

Bangkitlah …

Tunjukkan padaku penggenggam kaki langit

Yang tegak menaklukan hitam meski pahit

 

Perlihatkan padaku cahyamu yang telah membara

Sesederhana pendaki nan tegak menghalau terik

Musafir tersenyumlah, pulanglah…

Screenshot_2017-05-29-19-40-20_1

Standard
puisi

Bait-Bait Kerinduan

 

Sebersit asa

Setelah senja sirna

Sepucuk surat rindu untuk dirimu

Memercikan rasa ingin bertemu

 

Permata hatiku

Kurangkai kata ini hanya untukmu

Sekedar mengungkapkan rasa rindu

Atas sendu yang mengungkungku

 

Sesak telah membiru berjelaga

Menelisik sesak yang kian mendera

Mata bening, telaga syahdu

Kamu, semesta bernama pilu

 

Angan ini luruh dipeluk masa

Tak terrumus dalam aksara

Sosokmu kian maya

Rinduku semakin nyata

 

Padamu, embun penyejuk lara

 

Entahlah …

 

Bila jawabmu tiba, melerai resah

Meretas harapku yang berkawan gundah

Sebait lisan nan tersurat indah

Kan basuh rinduku yang tergugu lelah, mencari celah …

 

Wahai pelita jiwa

 

Tak terdengarkah ratapku nan lara?

Mendambamu menyiksa raga, merobek jiwa

Embun pesonamu, mencipta bait-bait doa

Lantunan asa sendu, dalam harap dan pinta

….

Tuhan

Maka dengarkanlah kali ini saja

Sampaikan rindu ini kepadanya

Agar terhindar dari rasa yang kian menyiksa

 

Sajadah ini menjadi saksi bisu

Atas ratapan-ratapanku yang yang tak kunjung temu

Di sepertiga malamku

Ku pasrahkan semuanya kepada-Mu

 

Jika memang Engkau takdirkan dia untukku

Jangan biarkan aku tersiksa menunggu

Tapi jika memang bukan dia yang kutuju

Lepaskanlah semua bayangan semu

 

Doaku syahdu mengais rindu

Meski terkoyak tak terasa pilu

Karena dalam doa aku menyatu

Pasti takdirMu yang terindah untukku


**

Sebuah karya kolaborasi Squad 3 #30DWC Jilid 5

Berau | @evan.ardian25

Bandung | @NyonyaBadak

Depok | ~ Genta Kalbu ~ @umie_poerwanti

Makassar | @Nunu_Hilal

Jayapura | @Rina_tatarenys

NB : Yang biasa baca tulisan saya, akan tahu bait saya yang mana 😊

Standard
puisi

Bertanya pada Hati

Aku bertanya padamu,

“Apakah kamu terluka? Pada mereka yang mengkhianatimu.”
Diam, tak terjawab. Terlalu perih katamu

“Apakah kamu koyak? Oleh mereka yang mencampakkanmu.”
Masih pilu, terlalu sesak katamu.

“Apakah kamu remuk? Oleh mereka yang mengabaikanmu.”
Temaram, terlalu redam katamu.

“Apakah kamu mendengki? Pada mereka yang tak punya keberanian untuk menjadikanmu ada.”
Saru, hilang peka katamu.

Kuangsurkan sajak, bukan pelipur hanya penguat.
Apalah perih jika menjadikanmu galah.
Pilu, sesak, redam tak ada guna jika cahaya memelukmu, Sang Penguasa Malam.
Dan pada keberanian yang tak jua menyapa, terima kasih.
Memberikan celah untuk menatap warna jingga.

Yang lebih terang.

Standard
puisi

Jaga Dia

Ya Rabb..

Ada rindu yang tak terlukis
Padanya yang masih Kau simpan
Jaga dia jaga hatinya jaga imannya
Aku tak mampu menjangkaunya
Tanpa tanganMu

Ya Rabb..
Bangunkah ia dalam sepertiga malam cahayaMu?
Beradu dengan senyap sujud
Aku belum mampu membisik, membangunkannya..

Ya Rabb..
Dekapkan ayat-ayat suciMu dalam dadanya
Aku belum mampu bertilawah bersamanya

Ya Rabb..
Jaga dia jaga hatinya jaga imannya
Aku merindukannya namun Kau teramat mencintaiku
Masih menyiapkan agar dia menjadi yang terbaik untukku

Bahu kokoh untukku dan anak-anak kami bersandar
Hati luas untukku dan anakku berlindung
Senyum tersungging untukku dan anak-anakku

Aku masih berdamai
Pada waktu yang terus menghiburku
Juga penawarku
Bisikan doa, sujud hajat
Juga ketika di depan rumahMu

Standard
puisi

Seminggu Akhir Februari

Senin

Baru tersadar hiruk pikuk yang kau buat

Entah fatamorgana atau hanya kebetulan

Kembaliku padaku

Pada ketenangan dan keanggunan

Kucoba diam sejenak, berbaikan dengan waktu

Selasa

Rindu kutitipkan pada angin

Yang menjangkaumu

Yang berkelana bersama mungkin

Kunikmati detik yang berlalu

Rabu

Mendung, kelabu dan seakan lara

Aku lebih cerah, hanya gemuruhnya

Melihatmu sejenak, entah untuk siapa kau bicara

Didekap ikhlas aku tersenyum, entah untuk apa

Kamis

Gerimis atau hujan yang menyambutku?

Tak ada bedanya…

Langkahku tenang, mungkin juga karena puasaku

Melayang melewati hawa

Jumat

Entah kenapa aku memilih kesini

Jendela kaca bertoreh asa akan bayangan

Kembali aku melewati

Jam ini, rumah sakit ini, halte ini

Ubin tempat aku berdiri, menunggu menyambut senyummu

Tepat dua minggu lalu

Ah rasanya baru kemarin gerimis ini

Mengiringi tawa kita sepanjang jalan

Yang kemudian dipisahkan jembatan

 

Dalam tengah memori

Dering, suara dan tangis membuyarkan segala

Dalam kalut aku berlari

Seolah hancur setengah dunia

Sabtu

Seperti mimpi

Menatap jendela namun bukan pemandangan yang sama

Disini, ratusan kilometer, ribuan menit, miliaran inci

Kita berjarak, sejauh asa

Minggu

Harusnya kita bertemu hari ini

Tapi aku lebih memilih disini

Lebih dari apapun

Senin

Mimpi, aku di sini lagi

Dan Maretku harus terus berputar

Kisah ini entah titik entah koma

Standard