puisi

Harapan Sendu

Hey kamu…

Bisakah aku kali ini meminta, untuk tidak menghubungiku
Sama sekali…
Hingga kita berjumpa lagi

Jangan kau kuatirkan aku
Aku bersama orang-orang yang selalu melindungiku
Dan akupun percayakan kamu
Pada yang seharusnya menjaga dan merawatmu

Jangan bertanya apakah aku merindukanmu atau tidak
Karena sama saja kamu bertanya apakah aku masih bernafas atau tidak

Ini adalah kesempatan yang baik untuk diri
Aku, untuk menata kembali
Memasukkan segala kenangan dan pengalaman rasa ini ke dalam peti terkunci

Kamu, untuk menyatukan kembali

Tujuan hidup yang terberai
Dan visi yang tercerai
Sebelum semua semakin tak bernyawa
Sebelum denting bom waktu berhenti
Sebelum semua terlambat dan sunyi
Sebelum hatimu dibunuh sepi

Kami tertusuk melihatmu kehilangan arah
Kami resah melihatmu tak berumah
Musafirku masih tersesat

Biarkan kusimpan semuanya, dengan rapi
Seperti dulu sebelum semuanya tersingkap hati
Hanya aku, Allah dan dinginnya sepertiga malam yang mengetahui

Aku sedang belajar
Satu kata kunci bernama ikhlas
Bahagia cukup dengan tahu, kakimu masih menginjak bumi

Aku juga sedang menagih janjimu
Untuk selalu melindungiku
Ini adalah cara terbijak untuk menjagaku dan hatiku

Ah, aku memang pengecut
Tak mampu mengutarakannya di hadapmu
Entahlah, akhir-akhir ini aku cengeng
Lidah kelu dan membisu
Dan mudah tersedu

Semoga ketika kembali bertatap mata yang tak lagi sendu 
Kita sudah dengan hati, jiwa dan harapan baru.

Standard
puisi

Mimpi Sang Pelindung

Hari ini embun bercerita tentang membangunkan pagi
Berlari bersama angin dari timur sampai barat, hingga tepi
Menyapa para pegunungan utara
Dan bersenandung tentang indahnya senja selatan

Tidurlah embun…
Agar jangan telat menyapa hari
Mengingatkan esok telah berganti

Terlelap embun tidur
Lelah dan beristirahat untuk bermain lagi
Di peraduan antara dua bumi

Selamat tidur embun…

Hei embun… Ayo bangun…
Bersiap menitik di setiap daun
Sambut matahari dengan senyummu
Penanda semua jangkrik untuk pulang ke perdu

Hei embun… Ayo bangun…
Usap dunia dengan basahmu nan anggun
Agar merekah bunga-bunga seruni
Penanda kupu kupu untuk datang lagi

Hei embun… Ayo bangun…

Hahaha sang embun berceloteh senang
Riang rupanya menari bersama bintang
Ditemani para penyair alam kaya
Bersenandung syair semesta raya

Satu takzim dan salam bagiku untuk mereka semua…
Hei embun… ‘kan kuceritakan padamu
Tentang puncak dewa-dewa

Berdiri di tiang langit Sumatra
Menjadi saksi dua dunia
Hitam putih seorang penghamba

Ruku’ di tiang langit Sumatra
Angin berarak membawa berita
Bagi para pemburu surga

Bersujud di tiang langit Sumatra
Biru samudra di pelupuk mata
Bukit barisan sebagai penanda

Dua salam pada tiang langit Sumatra
Dingin surga kian terasa
Mengisi hamba yang hampir binasa

Hei embun…
Itulah puncak para dewa
Apinya menyesap jiwa
Menguatkan akar raga
Hei embun…
Mimpi besarku membawamu ke sana

Standard
puisi

Seberapa Besar

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kamu menghentikan semua berita tentangmu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak kau biarkan dirimu bangkit dari jingga kelabu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak hentinya kau menghantui bunga tidurku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga poraknya menjalar ke dalam alam bawah sadarku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga hujan mengabarkan ada yang tengah tergugu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kau tak percaya ada maaf yang terhampar untukmu.

Seberapa besar salahku? Hingga tak kau izinkan aku tanpa kenyamanan. Tanpa tahu sudahkah kamu bahagia tanpa aku?

Begitu besarkah salahku?

Standard
puisi

Menarikan Langkah

Aku memilih mengabadikanmu dalam aksara

Semua gambarmu, tak lagi aku menyimpannya

Agar banyak yang mengerti

Tentang kisah ini
Juga rindu, mereka terbang entah sejak kapan

Tentang rasa, yang pernah terkenang, tak lagi tersimpan
Rasa bersalah, aku tak ingin kamu memikulnya

Maaf, selalu kuangsurkan untukmu

Doa, masih kusebutkan tentangmu

Pasrah, yang ingin tertanam dalam kalbu kita
Aku akan menjalaninya dengan tenang

Laksana awan yang terus melayang

Yang tak sering hujan

Meski gemuruh menyesakkan
Embun telah luruh

Semestapun runtuh

Nama kita tetap utuh

Tak perlu ada nyawa separuh
Melanjutkan mimpi yang lalu

Meski tanpa iringmu

Menjelajah waktu

Memeluk bianglala biru
Menarikan langkah

Yang sempat patah

Menapak kabut sendu

Yang menguatkanku.
Love,

Nyonya Badak

 

Standard
puisi

Rasa yang Sederhana

Rasa yang sederhana

Jatuh ketika jatuh
Cinta ketika cinta

Tidak berkeinginan
Tidak berpamrih

Menikmatinya dari kejauhan
Tertawa bersama Tuhan
Mempercayakan cerita
Merajuk dalam doa

Ku sederhanakan
Kembali
Rasaku
Dalam
Diam

Ada satu masa dalam kehidupan
Ketika harus diam, selayaknya ikan mati mengikuti arus
Bukan lelah oleh permainan waktu
Ataupun menyerah pada bidak-bidak catur misteri

Ada satu titik nadir dalam sebuah perjalanan
Ketika harus berhenti, sejenak menghela nafas
Sebelum berpasrah, kemudian bergerak
Sebelum tenggat, kemudian terlambat
Sebelum jeda, kemudian sesal

Atau tidak ada langkah akhir
Kemudian berkata, inilah takdir

 

Standard
puisi

Tersesat

Irama degup terbias tarian pesona sudut lain

Layaknya gravitasi membelenggu, aku tak terdiam dalam asa
Halnya ragu, rindu ini datang dan kembali jua

Dan aku tersesat di dunia yang kucari dan kini kutakuti
Karena ia balik menyiksaku
Mengutuk malam yang begitu jahat, menggerogoti
Mengutuk malam yang padam tak menemaniku

Dan malah mencemooh..

Aku tersesat
Halnya karang diserap ombak hingga waktu menemukanku
Tidak juga candaan pelikan, desiran garam
Berpaling muka membangunkanku
Aku telah membatu..

Aku hilang

Tertangkup angkuh, tak jua luluh

Standard
puisi

Kupu-kupu yang Tak Pernah Terbang

Kupu-kupu ternyata tak pernah pergi

Masih menggelitik rongga ini

Kukira mereka terbang

Melenggang

Setelah yang terjadi

Setelah yang terlewati

Setelah banyak dikelilingi

Seolah hilang dalam kabut pagi

 

Kukira mereka mati

Saat tak ada nyeri

Di palung sepi

Masa terapuh kemarin

 

Mereka hanya bersembunyi

Semakin banyak dan meracuni

Membuatku diam, bisu

Mematung, membatu

 

Kupu-kupu semakin berontak

Ketika kutangkap tatapan itu dari kejauhan

Mata menelisik memangkas jarak

Di akhir pertemuan, dimulainya kembali kegaduhan.

Kupu-kupu tak dinyana

Masih di sana

Mendekap rasa

Meluruhkan lara

Lalu?

Standard