puisi

Ibukota

Hutan beton terpandang
Bagi musafir berpetualang
Jiwa terus melanglang
Dan para hati yang hilang

Ada tanya yang tak perlu jawaban
Ada jawaban yang pantas ditangguhkan
Ada sabar yang tertuntaskan
Juga rasa yang terdamaikan

Sebut saja dia bungkam
Pada kilau yang kelam
Tak peduli pada janji silam
Ringan pada rasa yang tenggelam
.
.

– Nyonya Badak –

Advertisements
Standard
puisi

Hanya Doa

Jika tanya itu muncul, seberapa rasaku padanya.

Sederhana, jawabku.

Rasa ini mampu membuatku berani mengetuk pintu Tuhan setiap sepertiga malam untuk meminta.

Rasa ini mendorongku untuk terus merajuk pada Tuhanku melalui ayat-ayatNya.

Rasa ini sanggup membuatku bertahan ketika aku sudah di titik ingin sekali lari.

Sederhana, karena tak ada kata yang melampauinya kecuali doa.

img_20180322_111150-213719954.jpg

Standard
puisi

Sajak Menjagamu

Oleh Tere Liye

Akan kurawat kau dalam diam

Agar tumbuh besar penuh pemahaman

Akan kurawat kau dalam hening
Agar tumbuh tinggi penuh kesabaran
Akan kurawat kau dalam senyap
Agar tumbuh kokoh penuh keikhlasan

Sunggu akan kurawat kau
Agar tidak ada yang menyakitinya
Pun kalau memang harus disakiti
Kau dan aku tahu apa yang terbaik dilakukan
Pun kalau memang harus gugur daunnya
Kau dan aku tahu besok lusa akan kembali rindang

Akan kurawat kau dengan baik
Duhai ‘perasaanku’
Agar kita bisa melewati semua kisah
Cerita sedih maupun gembira
Karena kau adalah milikku satu-satunya
Dan setiap orang memiliki “perasaannya masing-masing
Kan kujaga ‘perasaanku’ sebaik-baiknya

Standard
puisi

Harapan Sendu

Hey kamu…

Bisakah aku kali ini meminta, untuk tidak menghubungiku
Sama sekali…
Hingga kita berjumpa lagi

Jangan kau kuatirkan aku
Aku bersama orang-orang yang selalu melindungiku
Dan akupun percayakan kamu
Pada yang seharusnya menjaga dan merawatmu

Jangan bertanya apakah aku merindukanmu atau tidak
Karena sama saja kamu bertanya apakah aku masih bernafas atau tidak

Ini adalah kesempatan yang baik untuk diri
Aku, untuk menata kembali
Memasukkan segala kenangan dan pengalaman rasa ini ke dalam peti terkunci

Kamu, untuk menyatukan kembali

Tujuan hidup yang terberai
Dan visi yang tercerai
Sebelum semua semakin tak bernyawa
Sebelum denting bom waktu berhenti
Sebelum semua terlambat dan sunyi
Sebelum hatimu dibunuh sepi

Kami tertusuk melihatmu kehilangan arah
Kami resah melihatmu tak berumah
Musafirku masih tersesat

Biarkan kusimpan semuanya, dengan rapi
Seperti dulu sebelum semuanya tersingkap hati
Hanya aku, Allah dan dinginnya sepertiga malam yang mengetahui

Aku sedang belajar
Satu kata kunci bernama ikhlas
Bahagia cukup dengan tahu, kakimu masih menginjak bumi

Aku juga sedang menagih janjimu
Untuk selalu melindungiku
Ini adalah cara terbijak untuk menjagaku dan hatiku

Ah, aku memang pengecut
Tak mampu mengutarakannya di hadapmu
Entahlah, akhir-akhir ini aku cengeng
Lidah kelu dan membisu
Dan mudah tersedu

Semoga ketika kembali bertatap mata yang tak lagi sendu 
Kita sudah dengan hati, jiwa dan harapan baru.

Standard
puisi

Mimpi Sang Pelindung

Hari ini embun bercerita tentang membangunkan pagi
Berlari bersama angin dari timur sampai barat, hingga tepi
Menyapa para pegunungan utara
Dan bersenandung tentang indahnya senja selatan

Tidurlah embun…
Agar jangan telat menyapa hari
Mengingatkan esok telah berganti

Terlelap embun tidur
Lelah dan beristirahat untuk bermain lagi
Di peraduan antara dua bumi

Selamat tidur embun…

Hei embun… Ayo bangun…
Bersiap menitik di setiap daun
Sambut matahari dengan senyummu
Penanda semua jangkrik untuk pulang ke perdu

Hei embun… Ayo bangun…
Usap dunia dengan basahmu nan anggun
Agar merekah bunga-bunga seruni
Penanda kupu kupu untuk datang lagi

Hei embun… Ayo bangun…

Hahaha sang embun berceloteh senang
Riang rupanya menari bersama bintang
Ditemani para penyair alam kaya
Bersenandung syair semesta raya

Satu takzim dan salam bagiku untuk mereka semua…
Hei embun… ‘kan kuceritakan padamu
Tentang puncak dewa-dewa

Berdiri di tiang langit Sumatra
Menjadi saksi dua dunia
Hitam putih seorang penghamba

Ruku’ di tiang langit Sumatra
Angin berarak membawa berita
Bagi para pemburu surga

Bersujud di tiang langit Sumatra
Biru samudra di pelupuk mata
Bukit barisan sebagai penanda

Dua salam pada tiang langit Sumatra
Dingin surga kian terasa
Mengisi hamba yang hampir binasa

Hei embun…
Itulah puncak para dewa
Apinya menyesap jiwa
Menguatkan akar raga
Hei embun…
Mimpi besarku membawamu ke sana

Standard
puisi

Seberapa Besar

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kamu menghentikan semua berita tentangmu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak kau biarkan dirimu bangkit dari jingga kelabu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak hentinya kau menghantui bunga tidurku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga poraknya menjalar ke dalam alam bawah sadarku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga hujan mengabarkan ada yang tengah tergugu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kau tak percaya ada maaf yang terhampar untukmu.

Seberapa besar salahku? Hingga tak kau izinkan aku tanpa kenyamanan. Tanpa tahu sudahkah kamu bahagia tanpa aku?

Begitu besarkah salahku?

Standard