Tentang

Gamis Hitam

Ini ceritaku dan kakak laki-laki tertuaku. Seperti kebanyakan orang jawa, aku memanggilnya Mas. Usia kami terpaut tiga belas tahun. Cukup jauh memang, mungkin itu pula yang membuat kami jarang mengobrol hal yang “berat”.  

Dia tipikal orang yang jarang memuji ataupun berkomentar tentang penampilan orang lain. Hingga sore itu, lebaran hari keempat kami sedang di halaman rumah orangtua kami.

“Kamu bagus pakai baju kayak gitu,” ucapnya. Aku terhenyak mendengarnya dan sontak melihat baju yang kukenakan. Gamis hitam menyapu lantai, kerudung hitam menjuntai menutup hingga pinggang lengkap dengan kaos kaki. Sebenarnya aku memakainya karena baru pulang dari takziyah. 

Aku melihat wajah Kakakku, tidak ada raut bercanda. Artinya dia serius. Berpenampilan serba hitam memang hal yang sangat jarang aku lakukan. Biasanya jikapun memakai gamis hitam, aku akan memadankan dengan jilbab berwarna cerah.

Mendengar pendapat Kakakku, aku hanya berpikir bahwa dia ingin aku menjadi pribadi yang lebih sederhana. Juga lebih taat tentunya. Aku senang ia melakukannya, dengan caranya sendiri.

“Gimana kalau aku pakai cadar?” Tanyaku. Dia hanya menatapku, menaikkan alis kiri dan tersenyum. “Coba aja,” jawabnya.

Standard
Tentang

Menantang Kembali

Untuk keduakalinya saya memutuskan untuk mengikuti #30DWC a.k.a 30 days writing challenge, selama 30 hari ke depan blog ini akan terupdate. Sebelumnya bergabung dalam jilid 5, sekarang sudah jilid 7, vacuum satu jilid. Selama vacuum tidak ada karya yang cukup berarti bahkan cenderung malas. Suatu hal yang seharusnya tidak terjadi bagi seseorang yang bermimpi menjadi penulis handal.

Akhirnya saya memutuskan bergabung lagi, dengan harapan kembali menempa diri agar terus menulis tanpa mengandalkan mood. Tercatat ini sudah hari ke-3, meski tulisan belum sesuai jalur saya yaitu fiksi. 

Tentu saja di jilid kali ini harus lebih berkarya, dan konsisten. Alhamdulillah, jilid lalu mendapatkan predikat unstoppable writer, penulis yang selama 30 hari tidak pernah absen ataupun telat dalam laporan. Sekaligus diberi amanah oleh tim pelaksana sebagai editor buku antologi #30DWC Jilid 5. Pengalaman yang sungguh luar biasa.

Peserta #30DWC ada 100 orang, yang bertahan hingga akhir ada 78 orang. Panitia menantang siapa yang mau dan mampu jadi editor, terhitung 11 orang mendaftar. Alhamdulillah saya terpilih menjadi satu dari tiga editor. Menjadi editor sungguh pengalaman berbeda. Sangat menyenangkan jika menemukan tulisan yang rapi, paling hanya edit EYD sesuai KBBI atau tanda baca. Dan akan berdarah-darah jika menemukan tulisan yang masih semau gue. Tanda baca berantakan, antar paragraf ga nyambung atau bahkan kalimatnya susah dimengerti maksudnya. Sebuah tantangan.

Dan saya ingin kembali on fire, menelurkan karya-karya terbaik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

I’m ready for #30DWC jilid 7 bagian dari squad 4.

With love,

Nyonya Badak

Standard
Tentang

Pre-Order Buku Antologi “Jodoh Untuk Langit”


Alhamdulillah, akhirnya buku ketiga saya siap terbit dengan judul “Jodoh Untuk Langit.” Urusan jodoh memang selalu menggelitik, dan tema yang kami angkat adalah  Hujan, Mantan dan Masa Depan. Terdiri dari 25 cerita yang mengharu biru dan proses yang cukup mendebarkan.

Terhitung  155 karya  masuk  ke  email  panitia.  155  naskah  awal  yang  masuk, diproses  untuk  proses  penjurian  awal,  dan  terpilih 50  naskah  terbaik.  50  naskah  terbaik  ini  membuat  semua  yang  terlibat  proses  penjurian  berdecak  kagum  akan kualitasnya.  Andai  waktu  itu  jadi,  mungkin  pada  akhirnya panitia menerbitkan  langsung  dua  seri  buku  yang  masing masing  terdiri  dari  25  naskah.  Namun  untungnya  mereka tetap konsisten  dengan  ide  awal,  akan  memilih  yang  terbaik dari semua masterpiece karya yang masuk. Menyaring  50  menjadi  25  pun  tak  mau  main-main. Mereka yang terlibat adalah senior editor buku-buku fiksi dari penerbit major.  Ada  Mba  Afri  dari  Elexmedia,  ada  Mas  Adham  dari Bentang Pustaka, dan ada Mas Tri dari Gradien. Mereka   yang biasa  menggodok  naskah  macam Supernova, Laskar  Pelangi, hingga My Stupid Bos rela bergelut dengan kumpulan penulis pemula  macam kami.  Tidak  cukup  rasanya  terima  kasih  kami haturkan  kepada  mas  dan  mba  dari  penerbit  yang  telah meluangkan  waktu,  energi,  dan  segenap  pengalamannya memandu kami. Kalian luar biasa!

Semua naskah yang akan kamu selami aksaranya ini mungkin bukanlah  apa-apa  dibandingkan  karya  penulis  ternama. Namun  kami  bisa  menggaransi,  semua  yang  tertuang  di  sini adalah  apa-apa  yang  bersumber  dari  hati.  Bukankah  setiap yang  berasal  dari  hati  akan  selalu  sampai  pada  hati?  Itulah yang  kami  harapkan,  tiap  aksara  kami  mampu  menyusup dan mencuri hatimu.

Khusus untuk naskah yang saya tulis, sebenarnya sudah ada sebelum pengumuman pembuatan antologi ini ada. Saya hanya melakukan editing pada bagian yang terasa tidak begitu penting. Sebuah karya dari hati dan inspirasi tentang sebuah keikhlasan. Ketika waktu menjadi jawaban sebuah doa dan asa. Sebuah cerpen berjudul “Rentang Waktu.

Dari 25 cerita mungkin kamu pernah mengalaminya, atau malah tokohnya itu kamu #Oops.

Untuk pre-order silahkan kirimkan email ke NyonyaBadak@gmail.com dengan format:

Nama:

Alamat:

Jumlah buku:

No HP:

Ditunggu.

With Love,

Nyonya Badak

Standard
Tentang

Adab Menuntut Ilmu

Menulis, sebuah kata kerja yang sudah sangat melekat dalam hidup saya. Sudah menjadi sebuah kemantapan untuk menekuni bidang ini. Entah sejak kapan saya menyukainya, namun yang saya ingat orang yang pertama kali mengatakan bahwa saya mempunyai bakat menulis adalah dosen S1 dulu. Beliau adalah seorang editor dari sebuah tabloid dan majalah ternama.

Menulis itu mengubah peradaban kata Helvy Tiana Rosa. Saya masih ingat persis ketika beliau mengatakannya langsung pada saya, di Depok tanggal 17 November 2012. Kutipan tersebut adalah salah satu alasan kuat saya serius terjun ke dunia penulisan. Bukankah menjadi ibu juga membentuk peradaban? Lantas bagaimana jika keduanya disandingkan? InsyaAllah pasti akan lebih mantap.

Strategi awal adalah mencari komunitas, berkumpul dengan orang-orang yang suka menulis juga. Di dalam komunitas yang tepat, saya mendapatkan motivasi, pengalaman, relasi dan ilmu baru terus menerus.

Open minded atau berpikiran terbuka, salah satu perubahan sikap saya yang paling mendasar. Dengan pikiran terbuka kita lebih bisa menerima ilmu baru, juga dengan segala kritik dan saran yang membangun  akan menjadi semakin baik ke depannya.

*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*

Standard
Tentang

Ini Cara Saya

Ada tujuh miliar manusia di bumi, ada yang jatuh cinta, ada pula yang patah hati. Ada yang hidup bersama yang dicinta, ada yang bersama dengan yang tak dinyana. Ada yang bersama untuk saling menyakiti, ada yang bersama untuk saling melindungi. Semua sudah suratan.

Bicara tentang cinta takkan pernah ada habisnya. Topik ini yang paling banyak menjadi inspirasi saya dalam menulis. Tak terkecuali tulisan imajinasi saya yang akan segera dipublikasikan. Ini akan menjadi buku antologi saya yang ketiga dan keempat. Tahun 2017 sungguh tahun penuh berkah dan tantangan. Saya seperti menemukan dunia saya dalam lingkungan yang tepat. Ada dua buku antologi sedang dalam proses editing dan satu dalam penyusunan. Semuanya berkolaborasi dengan penulis-penulis handal, Alhamdulillah.

Bulan Februari lalu diajak seorang komikus kece yang terkenal lewat komik Real Masjid @Tonytrax_ untuk membuat proyek seru-seruan, dalam waktu dua bulan penyusunan selesai. Sekarang dalam editing dan finishing.

Seusai proyek dengan Mas Tony, Brili Agung melemparkan ide ke forum alumni BBC (Bikin Buku Club) untuk membuat proyek antologi. Kebetulan ada cerpen saya yang masuk dalam tema, dengan beberapa editing akhirnya saya mengirimkan tulisan tersebut. Prosesnya cukup membuat deg-degan karena saya tahu alumni BBC berisi penulis-penulis yang karyanya sudah terbit baik Major Publishing ataupun Self-Publishing.

Sampai tenggat waktu yang ditentukan, diumumkan bahwa ada 168 cerpen yang masuk. Dua minggu kemudian, lima puluh karya terbaik diumumkan untuk maju ke “final” untuk dinilai oleh editor-editor ternama. Alhamdulillah, cerpen saya masuk dalam daftar.

Hingga akhir April lalu, 25 tulisan terbaik diumumkan. Siapa yang tak girang, cerpen saya masuk dalam daftarnya  Proses editing awal sudah selesai, sekarang sedang dalam masa editing lanjut dan finishing. Antologi kali ini tentu terasa berbeda, jika dua buku sebelumnya saya mendapatkan hasilnya di awal karena berupa hadiah, kali ini sistemnya royalti dan saya ikut langsung dalam proses pembuatan hingga jadi.

Di tengah masa editing, iseng saya bergabung dalam #30DWC atau 30 Days Writing Challege, 30 hari menulis tanpa henti. Tidak ada kendala yang berarti mengikuti tantangan ini #shombong. 30 hari sukses menulis tanpa jeda, baru dua hari lalu tantangan ini selesai.

Proyek ketiga adalah inisiasi saya yang merasa kagok “tidak ada kerjaan”. Berbulan-bulan selalu ada kegiatan “after office”, setelah selesai proyek saya merasa ada yang hilang. Akhirnya saya mengajak seorang teman untuk berkolaborasi, kali ini konsepnya cukup berbeda. Dan tentu saja seru karena saya bermodal nekat untuk memulainya. Will see

Tahun 2015-2016 saya tidak banyak menulis serius paling sekedar nge-blog ringan, mengingat dua buku antologi sebelumnya keluar tahun 2014-2015 awal. Tetapi tahun tersebut menjadi tahun inspirasi saya, banyak tulisan-tulisan saya sekarang adalah bentuk imajinasi peristiwa-peristiwa yang terjadi di dua tahun itu. Tentu saya berterima kasih kepada semua pihak yang masuk dalam lingkupnya. Kepada orang-orang yang membuat saya tertawa, pada mereka yang mengajarkan arti kata bangkit juga pada mereka yang menyakiti hingga titik terlembab. Tulisan-tulisan saya adalah bentuk apresiasi sekaligus pembalasan. Sorry (not to sorry) may be this is my way to take revenge, inilah cara saya membalas dendam.

Saya menghidupkan mereka kembali dalam bentuk tokoh, saya mengabadikan mereka dalam imajinasi siapapun yang membacanya. Mereka mungkin bisa lari, tapi mereka takkan bisa bersembunyi. Bukankah menyenangkan gambaran diri ada dalam buku yang terpajang dan dibaca banyak orang? #Ooops

Menulis sungguh menyenangkan.

Sallam,

Nyonya Badak

Standard
Tentang

Biskuit Kelapa

Sebuah Sabtu yang biasa, terbebas dari beban pekerjaan (yakin?). Hari Sabtu, seperti halnya akhir minggu yang lalu-lalu. Pagi yang cerah, bisa dibilang terik malah.

Sedikit istimewa karena dimulai dengan menghadiri resepsi pernikahan seorang teman. Lalu berlanjut dengan menonton bioskop, sebuah film yang sedang moncer. Dua setengah jam kemudian film usai, diteruskan dengan berjalan berkeliling pusat perbelanjaan.

Akhirnya kami memutuskan masuk ke supermarket. Ya, kami. Karena aku tak sendirian, hari Sabtu ini tak kelabu. Aku bersama Ibuku.

Dengan keranjang seret (aku tak menemukan kata lain yang lebih tepat), kami mulai mengelilingi rak-rak tinggi berjejer nan rapi. Memasuki lorong deretan rak bertuliskan makanan ringan, tanpa komando kami berhenti di tempat yang sama.

Di depan jajaran biskuit kelapa dengan bungkus merah, aku dan Ibu saling memandang. Lalu tertawa. Tawa dengan sedikit nanar pada mata. Rindu, tak ada kata lain yang menggambarkannya.

Biskuit kelapa itu adalah camilan kesukaan Bapak. Sejak beliau tiada, kami berhenti pula membelinya setiap kali belanja. Padahal dulu, makanan itu adalah barang wajib yang tak boleh tertinggal.

Kali ini kami berlalu, aku merangkul Ibu mencari belanjaan lain. “Bapak juga suka sekali biskuit abon ini,” kata Ibu sambil menunjuk bungkusan biskuit lain. Aku hanya mampu tersenyum.

Ini bukan pertama kalinya, sering di tengah-tengah pembicaraan Ibu akan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Bapak. Empat bulan berlalu sejak Bapak dipanggil-Nya. Tapi rasanya … Ah, sudahlah…

Doa kami selalu untukmu, Bapak.

Standard