Tentang

Adab Menuntut Ilmu

Menulis, sebuah kata kerja yang sudah sangat melekat dalam hidup saya. Sudah menjadi sebuah kemantapan untuk menekuni bidang ini. Entah sejak kapan saya menyukainya, namun yang saya ingat orang yang pertama kali mengatakan bahwa saya mempunyai bakat menulis adalah dosen S1 dulu. Beliau adalah seorang editor dari sebuah tabloid dan majalah ternama.

Menulis itu mengubah peradaban kata Helvy Tiana Rosa. Saya masih ingat persis ketika beliau mengatakannya langsung pada saya, di Depok tanggal 17 November 2012. Kutipan tersebut adalah salah satu alasan kuat saya serius terjun ke dunia penulisan. Bukankah menjadi ibu juga membentuk peradaban? Lantas bagaimana jika keduanya disandingkan? InsyaAllah pasti akan lebih mantap.

Strategi awal adalah mencari komunitas, berkumpul dengan orang-orang yang suka menulis juga. Di dalam komunitas yang tepat, saya mendapatkan motivasi, pengalaman, relasi dan ilmu baru terus menerus.

Open minded atau berpikiran terbuka, salah satu perubahan sikap saya yang paling mendasar. Dengan pikiran terbuka kita lebih bisa menerima ilmu baru, juga dengan segala kritik dan saran yang membangun  akan menjadi semakin baik ke depannya.

*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*

Standard
Tentang

Ini Cara Saya

Ada tujuh miliar manusia di bumi, ada yang jatuh cinta, ada pula yang patah hati. Ada yang hidup bersama yang dicinta, ada yang bersama dengan yang tak dinyana. Ada yang bersama untuk saling menyakiti, ada yang bersama untuk saling melindungi. Semua sudah suratan.

Bicara tentang cinta takkan pernah ada habisnya. Topik ini yang paling banyak menjadi inspirasi saya dalam menulis. Tak terkecuali tulisan imajinasi saya yang akan segera dipublikasikan. Ini akan menjadi buku antologi saya yang ketiga dan keempat. Tahun 2017 sungguh tahun penuh berkah dan tantangan. Saya seperti menemukan dunia saya dalam lingkungan yang tepat. Ada dua buku antologi sedang dalam proses editing dan satu dalam penyusunan. Semuanya berkolaborasi dengan penulis-penulis handal, Alhamdulillah.

Bulan Februari lalu diajak seorang komikus kece yang terkenal lewat komik Real Masjid @Tonytrax_ untuk membuat proyek seru-seruan, dalam waktu dua bulan penyusunan selesai. Sekarang dalam editing dan finishing.

Seusai proyek dengan Mas Tony, Brili Agung melemparkan ide ke forum alumni BBC (Bikin Buku Club) untuk membuat proyek antologi. Kebetulan ada cerpen saya yang masuk dalam tema, dengan beberapa editing akhirnya saya mengirimkan tulisan tersebut. Prosesnya cukup membuat deg-degan karena saya tahu alumni BBC berisi penulis-penulis yang karyanya sudah terbit baik Major Publishing ataupun Self-Publishing.

Sampai tenggat waktu yang ditentukan, diumumkan bahwa ada 168 cerpen yang masuk. Dua minggu kemudian, lima puluh karya terbaik diumumkan untuk maju ke “final” untuk dinilai oleh editor-editor ternama. Alhamdulillah, cerpen saya masuk dalam daftar.

Hingga akhir April lalu, 25 tulisan terbaik diumumkan. Siapa yang tak girang, cerpen saya masuk dalam daftarnya  Proses editing awal sudah selesai, sekarang sedang dalam masa editing lanjut dan finishing. Antologi kali ini tentu terasa berbeda, jika dua buku sebelumnya saya mendapatkan hasilnya di awal karena berupa hadiah, kali ini sistemnya royalti dan saya ikut langsung dalam proses pembuatan hingga jadi.

Di tengah masa editing, iseng saya bergabung dalam #30DWC atau 30 Days Writing Challege, 30 hari menulis tanpa henti. Tidak ada kendala yang berarti mengikuti tantangan ini #shombong. 30 hari sukses menulis tanpa jeda, baru dua hari lalu tantangan ini selesai.

Proyek ketiga adalah inisiasi saya yang merasa kagok “tidak ada kerjaan”. Berbulan-bulan selalu ada kegiatan “after office”, setelah selesai proyek saya merasa ada yang hilang. Akhirnya saya mengajak seorang teman untuk berkolaborasi, kali ini konsepnya cukup berbeda. Dan tentu saja seru karena saya bermodal nekat untuk memulainya. Will see

Tahun 2015-2016 saya tidak banyak menulis serius paling sekedar nge-blog ringan, mengingat dua buku antologi sebelumnya keluar tahun 2014-2015 awal. Tetapi tahun tersebut menjadi tahun inspirasi saya, banyak tulisan-tulisan saya sekarang adalah bentuk imajinasi peristiwa-peristiwa yang terjadi di dua tahun itu. Tentu saya berterima kasih kepada semua pihak yang masuk dalam lingkupnya. Kepada orang-orang yang membuat saya tertawa, pada mereka yang mengajarkan arti kata bangkit juga pada mereka yang menyakiti hingga titik terlembab. Tulisan-tulisan saya adalah bentuk apresiasi sekaligus pembalasan. Sorry (not to sorry) may be this is my way to take revenge, inilah cara saya membalas dendam.

Saya menghidupkan mereka kembali dalam bentuk tokoh, saya mengabadikan mereka dalam imajinasi siapapun yang membacanya. Mereka mungkin bisa lari, tapi mereka takkan bisa bersembunyi. Bukankah menyenangkan gambaran diri ada dalam buku yang terpajang dan dibaca banyak orang? #Ooops

Menulis sungguh menyenangkan.

Sallam,

Nyonya Badak

Standard
Tentang

Biskuit Kelapa

Sebuah Sabtu yang biasa, terbebas dari beban pekerjaan (yakin?). Hari Sabtu, seperti halnya akhir minggu yang lalu-lalu. Pagi yang cerah, bisa dibilang terik malah.

Sedikit istimewa karena dimulai dengan menghadiri resepsi pernikahan seorang teman. Lalu berlanjut dengan menonton bioskop, sebuah film yang sedang moncer. Dua setengah jam kemudian film usai, diteruskan dengan berjalan berkeliling pusat perbelanjaan.

Akhirnya kami memutuskan masuk ke supermarket. Ya, kami. Karena aku tak sendirian, hari Sabtu ini tak kelabu. Aku bersama Ibuku.

Dengan keranjang seret (aku tak menemukan kata lain yang lebih tepat), kami mulai mengelilingi rak-rak tinggi berjejer nan rapi. Memasuki lorong deretan rak bertuliskan makanan ringan, tanpa komando kami berhenti di tempat yang sama.

Di depan jajaran biskuit kelapa dengan bungkus merah, aku dan Ibu saling memandang. Lalu tertawa. Tawa dengan sedikit nanar pada mata. Rindu, tak ada kata lain yang menggambarkannya.

Biskuit kelapa itu adalah camilan kesukaan Bapak. Sejak beliau tiada, kami berhenti pula membelinya setiap kali belanja. Padahal dulu, makanan itu adalah barang wajib yang tak boleh tertinggal.

Kali ini kami berlalu, aku merangkul Ibu mencari belanjaan lain. “Bapak juga suka sekali biskuit abon ini,” kata Ibu sambil menunjuk bungkusan biskuit lain. Aku hanya mampu tersenyum.

Ini bukan pertama kalinya, sering di tengah-tengah pembicaraan Ibu akan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Bapak. Empat bulan berlalu sejak Bapak dipanggil-Nya. Tapi rasanya … Ah, sudahlah…

Doa kami selalu untukmu, Bapak.

Standard
Tentang

Ada Apa dengan Ibukota?

Sudah terlalu banyak yang membicarakan kegaduhan Ibukota dengan pemilihan pemimpinnya, aku tak ingin menambah dalam daftarnya. Lagipula aku bukan warganya. Sudah empat tahun aku meninggalkan Ibukota, tapi tetap saja rasanya masih sama. Bahkan alasan tak mendekatinya semakin bertambah.

Semalam, aku melewati enam jam perjalanan menuju tempat ini. Jalanan begitu padat dengan kendaraan, tengah malam aku baru tiba.

Cahaya kota ini masih saja sama, rasa yang sesak masih saja tawar. Dulu, aku pergi karena sesak dengan pemandangan. Kini, aku menjauh karena sesak pada kegetiran.

Sebisa mungkin aku tak menginjakkan kaki di sini, ya sebisa mungkin. 

Seperti November tahun lalu, aku menolak tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan raksasa dengan gaji tiga kali lipat dari sekarang berlokasi di Ibukota. Banyak yang tidak habis pikir dengan keputusanku, bahkan kata bodoh dan gila terlontar. Namun sampai sekarang aku tidak pernah menyesalinya dan tidak akan pernah. Aku menganggapnya sebagai sebuah hadiah, hadiah untuk seseorang. Yang bahkan belum pernah aku temui.

Tidak ada yang bisa membeli sebuah ketenangan, dan aku sebisa mungkin memberikan itu padanya. Mungkin juga karena iba, betapa dia hidup dalam kecemasan. Betapa dia menjalani hidup dalam kebohongan yang ia sangkal. Kepura-puraan yang ia hadapi sudah cukup membebani, betapa pundaknya penuh dengan topeng-topeng yang tak ia tanggalkan.

Ah Ibukota, sebisa mungkin aku menjauh. 

Sekian.

Standard
Tentang

Porsi Sepotong Hati

Kita tidak pernah tahu, seberapa porsi kita dalam hati seseorang.

Kita juga tidak pernah tahu, seberapa penting kita dalam kehidupan seseorang.
Pun pada orang-orang yang kita tahu menyayangi kita.
Atau mungkin akan lebih enak didengar jika memakai kata prioritas.

Sebagai teman yang menyenangkankah?
Sebagai sahabat yang hangatkah?
Sebagai saudara yang selalu adakah?
Atau sebagai cinta tempat hati pulang..

Banyak pertanyaan yang tak perlu diutarakan, juga tak perlu jawaban.
Termasuk pertanyaan-pertanyaan diatas.
Menjadi bagian dari kehidupan seseorang akan selalu memberi arti bagi hidup kita sendiri.
Ada kebahagiaan yang tak terdefinisikan.
Entah sebagai teman, sahabat, saudara maupun cinta.

Cukuplah kita tahu saling ada.

Itu saja.

Standard
Tentang

Gamang (2)

7 Agustus 2016, aku masih saja mengingat tanggal itu. Di dalam mobil di pelataran sebuah hotel kecil, dekat stasiun pada sebuah pagi yang mendung. Aku memakai baju merah marun, dan dia dengan kaos abu-abu kesayangannya. Dia menepuk kepalaku, “Yang serius ikut training-nya, biar kamu benar-benar jadi penulis seperti impian kamu”.

Aku mengangguk bersemangat, mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarku juga mengucapkan agar dia hati-hati di jalan. Keluar dari mobil, masih kulihat senyumnya sebelum memundurkan mobil dan menghilang ditelan keramaian kota.

Ingatan itu masih segar meski sudah hampir setahun berlalu. Sebuah pagi, ketika aku menjemput impianku dan hari terakhir aku melihat wajahnya.

Dunia merenggutnya.

Tidak ada cerita yang perlu diuraikan. Tidak ada ceria yang bisa dinyanyikan.

Cukup aku mengingat hari itu, tidak ada hari sebelumnya, tidak perlu hari setelahnya.

Setahun berlalu, anginpun mampu mendekapku. Hujan mampu menjajari langkahku, bahkan petir berani menyambutku. Mereka tahu, tegar dan senyum berada dalam genggamanku.

Perlukah direnggut lagi?

Standard