Prosa

Episode Rumput dan Angin

Matahari tersenyum di pagi indah, Angin sejuk menyapa rumput. Bersua ceria menceritakan keanggungan malam. Tertawa bersahabat.

Mengharukan dunia. Pohon-pohon pun bergoyang. Mengiringi kebahagiaan. Makhluk Tuhan yang berkawan.

Beranjak naiknya surya. Rumput ingin selalu bersama. Sepanjang hari sepanjang waktu. Menjaga dari panas. Menyejukkan dari kering.

Tapi apa daya. Sang bayu ingin bebas. Pergi melanglang mengarungi dunia. Menjelajah mencari langit.

Angin pergi berhembus kuat. Mengoyak daun-daun rumput. Meninggalkannya melayu dan kering

Rumput menunggu ia kan berbelok. Dan berdesir. Rumput menyesal hatinya bercabang.

Sahabat pergi cinta tak terdaki. Beruntunglah titik-titik hujan. Menyiram dahannya yang menguning. Membangkitkan hijau. Hingga bisa menari.
Menyapa awan dan ilalang. Matahari di puncak cakarawala. Rumput terus memandang. Jauh kedepan. Mencari jawaban.

Bilakah angin bertiup. Menggoyangkan daun hijaunya. Mengajak bernyanyi di pagi hari. Seperti sebelum berbelok hati

Gelap menutupi bumi. Dan rumput masih terhanyut. Dalam penantian.

Sang sahabat kan terlihat.

Sejak siang hari. Angin tiada pergi. Ia hanya bersembunyi. Di balik pohon-pohon tinggi. Angin berharap bisa lari. Mencari langit tertinggi.

Di atas bumi ia menerawang. Beribu rumput. Namun tiada seindah pagi tadi. Haruskah ia lari jika indahnya langit. Ada bersama rumput.

Ia berbelok menjangkau bumi. Ia berhenti dan berpikir. Akankah rumput bisa tetap hijau. Takkan terkoyak takkan tercabut.

Angin tetap menunggu. Bukannya ia tak ingin. Berdesir di sisi rumput.

Ia ingin. Rumput tetap tegar dan bergoyang. Suatu saat nanti. Angin akan bergembus. Dan bercerita.

Tapi entah kapan. Itu takkan lama lagi

 

Advertisements
Standard
puisi

Seberapa Besar

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kamu menghentikan semua berita tentangmu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak kau biarkan dirimu bangkit dari jingga kelabu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak hentinya kau menghantui bunga tidurku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga poraknya menjalar ke dalam alam bawah sadarku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga hujan mengabarkan ada yang tengah tergugu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kau tak percaya ada maaf yang terhampar untukmu.

Seberapa besar salahku? Hingga tak kau izinkan aku tanpa kenyamanan. Tanpa tahu sudahkah kamu bahagia tanpa aku?

Begitu besarkah salahku?

Standard
Cerpen

Sabar dan Shalatlah

Selepas shalat isya’ aku tertidur di atas hamparan sajadah masih lengkap dengan mukena. Malam itu dingin sekali dan aku terlelap. Sebentuk suara halus membangunkanku, akupun terjaga. Dengan reflek aku tanggalkan mukena dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kukenakan mukena kembali lalu kutunaikan shalat Subuh.

Selepas salam dan berdoa sejenak aku mengemasi mukena dan sajadah, ada keinginan membersihkan dan membenahi kamar yang sudah cukup kotor dan berantakan. Kubongkar isi kamar agar benar-benar bersih dan tidak ada kotoran yang terlewat yang membuatnya semakin terkesan berantakan dan berdebu. Di tengah-tengah pekerjaanku, aku tertegun kenapa masih senyap dan baru tersadar tidak ada suara sama sekali di luar, lengang. Kubuka jendela, gelap gulita dan bintang-bintang masih menari di langit sana. Tidak ada bayangan fajar, tidak ada rangkaian lahirnya cahaya mentari.

Kutengok jam meja kecil, terperanjat angka yang kulihat 02.03 am. Tiba-tiba aku lemas, entah kenapa aku menangis. Aku terduduk, tergugu, marah dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Seseorang mengetuk pintu, aku iyakan. Pintu terbuka dan temanku terkaget melihatku dan menanyakan apa yang sedang kulakukan, kuceritakan apa yang terjadi.

“Sejak kapan kamu begitu bodoh? Kamu marah pada siapa? Allah yang menciptakan siang dan malam? Sedari dulu Subuh sudah diatur waktunya, dia akan datang sekian jam setelah Isya’ dan sekian jam sebelum matahari terbit. Kamu terlalu terburu-buru ingin hari esokmu segera datang, sabar. Semua ada waktunya.”

“Kamu seperti anak kecil, menangisi yang bahkan bukan hakmu. Kehilangan padahal tak pernah menjadi milikmu. Sekarang lebih baik lekas bereskan kamarmu yang berantakan, kamu masih punya waktu pula untuk tahajud sebelum Subuh datang. Shalatmu sudah, sabarmu belum.”

Kuseka pipiku, beranjak mengemasi dan merapikan kamarku kembali.

Sekian.

 

 

Standard
puisi

Menarikan Langkah

Aku memilih mengabadikanmu dalam aksara

Semua gambarmu, tak lagi aku menyimpannya

Agar banyak yang mengerti

Tentang kisah ini
Juga rindu, mereka terbang entah sejak kapan

Tentang rasa, yang pernah terkenang, tak lagi tersimpan
Rasa bersalah, aku tak ingin kamu memikulnya

Maaf, selalu kuangsurkan untukmu

Doa, masih kusebutkan tentangmu

Pasrah, yang ingin tertanam dalam kalbu kita
Aku akan menjalaninya dengan tenang

Laksana awan yang terus melayang

Yang tak sering hujan

Meski gemuruh menyesakkan
Embun telah luruh

Semestapun runtuh

Nama kita tetap utuh

Tak perlu ada nyawa separuh
Melanjutkan mimpi yang lalu

Meski tanpa iringmu

Menjelajah waktu

Memeluk bianglala biru
Menarikan langkah

Yang sempat patah

Menapak kabut sendu

Yang menguatkanku.
Love,

Nyonya Badak

 

Standard
puisi

Rasa yang Sederhana

Rasa yang sederhana

Jatuh ketika jatuh
Cinta ketika cinta

Tidak berkeinginan
Tidak berpamrih

Menikmatinya dari kejauhan
Tertawa bersama Tuhan
Mempercayakan cerita
Merajuk dalam doa

Ku sederhanakan
Kembali
Rasaku
Dalam
Diam

Ada satu masa dalam kehidupan
Ketika harus diam, selayaknya ikan mati mengikuti arus
Bukan lelah oleh permainan waktu
Ataupun menyerah pada bidak-bidak catur misteri

Ada satu titik nadir dalam sebuah perjalanan
Ketika harus berhenti, sejenak menghela nafas
Sebelum berpasrah, kemudian bergerak
Sebelum tenggat, kemudian terlambat
Sebelum jeda, kemudian sesal

Atau tidak ada langkah akhir
Kemudian berkata, inilah takdir

 

Standard
Prosa

Dinding Hati

Terdapat banyak dinding yang terbangun, tinggi dan tebalnya berbeda untuk setiap orang. Menutupi cerita, bahagia, rahasia juga luka.

Ada sebuah dinding yang (dikira) bentuknya teramat tinggi pun tebal, yang disiapkan ruangan teramat luas untuk siapapun yang mampu menembusnya. Dinding ini pernah beberapa kali berlubang, namun selalu kembali dan dipertebal setelahnya.

Sejak terakhir berlubang dan mengembalikannya, begitu nyaman tinggal di dalamnya. Ruangan yang indah untuk menari dan berekspresi.

Berjalannya waktu tanpa sadar, dinding itu runtuh.

Menengok ke belakang hanya ada pertanyaan, sejak kapan reruntuhan itu terjadi? Atas izin siapa? Atau memang punya cara sendiri untuk runtuh? Atau sesuatu terlalu pintar hingga punya cara meruntuhkannya…?

Hanya termangu, kebingungan. Apa yang harus dilakukan dengan reruntuhan? Sedangkan ia begitu indah meski menyakitkan. Tapi bagaimanapun dan tak ingin pilihan, dinding harus dibangun kembali meski harus berdarah-darah ataupun penuh rinai air mata. Entah seberapa akan lebih tinggi dan lebih tebal…

Kamupun mengerti, aku bercerita tentang dinding hati. Yang terkadang berlubang, lalu kembali. Yang kadang kokoh, tak tergoyah. Atau juga runtuh, tanpa tersadari. Meninggalkan puing yang harus ditata ulang, lagi. 

Bagaimana kabar dindingmu?

Standard
puisi

Tersesat

Irama degup terbias tarian pesona sudut lain

Layaknya gravitasi membelenggu, aku tak terdiam dalam asa
Halnya ragu, rindu ini datang dan kembali jua

Dan aku tersesat di dunia yang kucari dan kini kutakuti
Karena ia balik menyiksaku
Mengutuk malam yang begitu jahat, menggerogoti
Mengutuk malam yang padam tak menemaniku

Dan malah mencemooh..

Aku tersesat
Halnya karang diserap ombak hingga waktu menemukanku
Tidak juga candaan pelikan, desiran garam
Berpaling muka membangunkanku
Aku telah membatu..

Aku hilang

Tertangkup angkuh, tak jua luluh

Standard