puisi

Menarikan Langkah

Aku memilih mengabadikanmu dalam aksara

Semua gambarmu, tak lagi aku menyimpannya

Agar banyak yang mengerti

Tentang kisah ini
Juga rindu, mereka terbang entah sejak kapan

Tentang rasa, yang pernah terkenang, tak lagi tersimpan
Rasa bersalah, aku tak ingin kamu memikulnya

Maaf, selalu kuangsurkan untukmu

Doa, masih kusebutkan tentangmu

Pasrah, yang ingin tertanam dalam kalbu kita
Aku akan menjalaninya dengan tenang

Laksana awan yang terus melayang

Yang tak sering hujan

Meski gemuruh menyesakkan
Embun telah luruh

Semestapun runtuh

Nama kita tetap utuh

Tak perlu ada nyawa separuh
Melanjutkan mimpi yang lalu

Meski tanpa iringmu

Menjelajah waktu

Memeluk bianglala biru
Menarikan langkah

Yang sempat patah

Menapak kabut sendu

Yang menguatkanku.
Love,

Nyonya Badak

 

Standard
puisi

Rasa yang Sederhana

Rasa yang sederhana

Jatuh ketika jatuh
Cinta ketika cinta

Tidak berkeinginan
Tidak berpamrih

Menikmatinya dari kejauhan
Tertawa bersama Tuhan
Mempercayakan cerita
Merajuk dalam doa

Ku sederhanakan
Kembali
Rasaku
Dalam
Diam

Ada satu masa dalam kehidupan
Ketika harus diam, selayaknya ikan mati mengikuti arus
Bukan lelah oleh permainan waktu
Ataupun menyerah pada bidak-bidak catur misteri

Ada satu titik nadir dalam sebuah perjalanan
Ketika harus berhenti, sejenak menghela nafas
Sebelum berpasrah, kemudian bergerak
Sebelum tenggat, kemudian terlambat
Sebelum jeda, kemudian sesal

Atau tidak ada langkah akhir
Kemudian berkata, inilah takdir

 

Standard
Prosa

Dinding Hati

Terdapat banyak dinding yang terbangun, tinggi dan tebalnya berbeda untuk setiap orang. Menutupi cerita, bahagia, rahasia juga luka.

Ada sebuah dinding yang (dikira) bentuknya teramat tinggi pun tebal, yang disiapkan ruangan teramat luas untuk siapapun yang mampu menembusnya. Dinding ini pernah beberapa kali berlubang, namun selalu kembali dan dipertebal setelahnya.

Sejak terakhir berlubang dan mengembalikannya, begitu nyaman tinggal di dalamnya. Ruangan yang indah untuk menari dan berekspresi.

Berjalannya waktu tanpa sadar, dinding itu runtuh.

Menengok ke belakang hanya ada pertanyaan, sejak kapan reruntuhan itu terjadi? Atas izin siapa? Atau memang punya cara sendiri untuk runtuh? Atau sesuatu terlalu pintar hingga punya cara meruntuhkannya…?

Hanya termangu, kebingungan. Apa yang harus dilakukan dengan reruntuhan? Sedangkan ia begitu indah meski menyakitkan. Tapi bagaimanapun dan tak ingin pilihan, dinding harus dibangun kembali meski harus berdarah-darah ataupun penuh rinai air mata. Entah seberapa akan lebih tinggi dan lebih tebal…

Kamupun mengerti, aku bercerita tentang dinding hati. Yang terkadang berlubang, lalu kembali. Yang kadang kokoh, tak tergoyah. Atau juga runtuh, tanpa tersadari. Meninggalkan puing yang harus ditata ulang, lagi. 

Bagaimana kabar dindingmu?

Standard
puisi

Tersesat

Irama degup terbias tarian pesona sudut lain

Layaknya gravitasi membelenggu, aku tak terdiam dalam asa
Halnya ragu, rindu ini datang dan kembali jua

Dan aku tersesat di dunia yang kucari dan kini kutakuti
Karena ia balik menyiksaku
Mengutuk malam yang begitu jahat, menggerogoti
Mengutuk malam yang padam tak menemaniku

Dan malah mencemooh..

Aku tersesat
Halnya karang diserap ombak hingga waktu menemukanku
Tidak juga candaan pelikan, desiran garam
Berpaling muka membangunkanku
Aku telah membatu..

Aku hilang

Tertangkup angkuh, tak jua luluh

Standard
puisi

Kupu-kupu yang Tak Pernah Terbang

Kupu-kupu ternyata tak pernah pergi

Masih menggelitik rongga ini

Kukira mereka terbang

Melenggang

Setelah yang terjadi

Setelah yang terlewati

Setelah banyak dikelilingi

Seolah hilang dalam kabut pagi

 

Kukira mereka mati

Saat tak ada nyeri

Di palung sepi

Masa terapuh kemarin

 

Mereka hanya bersembunyi

Semakin banyak dan meracuni

Membuatku diam, bisu

Mematung, membatu

 

Kupu-kupu semakin berontak

Ketika kutangkap tatapan itu dari kejauhan

Mata menelisik memangkas jarak

Di akhir pertemuan, dimulainya kembali kegaduhan.

Kupu-kupu tak dinyana

Masih di sana

Mendekap rasa

Meluruhkan lara

Lalu?

Standard
Tentang

Gamis Hitam

Ini ceritaku dan kakak laki-laki tertuaku. Seperti kebanyakan orang jawa, aku memanggilnya Mas. Usia kami terpaut tiga belas tahun. Cukup jauh memang, mungkin itu pula yang membuat kami jarang mengobrol hal yang “berat”.  

Dia tipikal orang yang jarang memuji ataupun berkomentar tentang penampilan orang lain. Hingga sore itu, lebaran hari keempat kami sedang di halaman rumah orangtua kami.

“Kamu bagus pakai baju kayak gitu,” ucapnya. Aku terhenyak mendengarnya dan sontak melihat baju yang kukenakan. Gamis hitam menyapu lantai, kerudung hitam menjuntai menutup hingga pinggang lengkap dengan kaos kaki. Sebenarnya aku memakainya karena baru pulang dari takziyah. 

Aku melihat wajah Kakakku, tidak ada raut bercanda. Artinya dia serius. Berpenampilan serba hitam memang hal yang sangat jarang aku lakukan. Biasanya jikapun memakai gamis hitam, aku akan memadankan dengan jilbab berwarna cerah.

Mendengar pendapat Kakakku, aku hanya berpikir bahwa dia ingin aku menjadi pribadi yang lebih sederhana. Juga lebih taat tentunya. Aku senang ia melakukannya, dengan caranya sendiri.

“Gimana kalau aku pakai cadar?” Tanyaku. Dia hanya menatapku, menaikkan alis kiri dan tersenyum. “Coba aja,” jawabnya.

Standard
puisi

Mawas Kembali

Heningku tak berarti tenang

Diamku tak berarti tak mawas

Hanya mencoba bertahan menghadap cemas

 Dari sekian tanya dan nyata yang menggenang

Warna bisa kusekap

Dalam rongga tak bersayap

Aku tenang

Aku mengalir

Tapi tidak pada gemuruh

Yang hanya mampu tersiar ketika senyap dan sepi

 

Kilatmu bisa kutepis

Aromamu bisa kuhalau

Getar ini bisa kuikat

Di hadapmu yang tak pernah mendengar kacau lantangnya nyeriku

Aku mengatakan yang datang kepadaku

Dari pikiran batinku

Menyangkal kedua mataku

Ingkar

Pada janjiku

Untuk tak tersedu

 

Ingkar

Pada ikrarku

Untuk tak lelah

 

Ingkar

Pada kataku

Untuk tak goyah

 

Kembali pada ragu

Kembali gamang

Inginkan bertahan walau untuk sepurnama

Sebelum membentuk titik atau koma.

Standard