Prosa

360 Hari

​360 hari, sendu mentari berhenti menyanyi pilu. Sejak kamu melambaikan tangan pagi itu.

360 hari, goresan pantai lenyap tersapu ombak. Namun tak ada lembaran baru, torehan itu masih di sana. Nanar bersama tatapan terakhir, saat aku meninggalkanmu.

360 hari, aku belum berani menatap senja. Hal yang paling kurindukan sekaligus paling tak kuiinginkan.

360 hari, gemuruh mencoba meredam. Hujan dan terik tak sekalipun saling tahu, berhenti dan menerima. Ya, kita.. karena aku tahu aku tak sendirian.

360 hari, menari dan menikmati lakon. Tak ada peran yang lebih bijak dan tenang. Ada kala rindu, ada kala saru. Namun inilah panggungku.

360 hari, aku menghitungnya. Karena aku harus terbang pada 360-360 lain dengan cara yang berbeda.

Tiga ratus enam puluh hari sudah…

 

Advertisements
Standard
puisi

Harapan Sendu

Hey kamu…

Bisakah aku kali ini meminta, untuk tidak menghubungiku
Sama sekali…
Hingga kita berjumpa lagi

Jangan kau kuatirkan aku
Aku bersama orang-orang yang selalu melindungiku
Dan akupun percayakan kamu
Pada yang seharusnya menjaga dan merawatmu

Jangan bertanya apakah aku merindukanmu atau tidak
Karena sama saja kamu bertanya apakah aku masih bernafas atau tidak

Ini adalah kesempatan yang baik untuk diri
Aku, untuk menata kembali
Memasukkan segala kenangan dan pengalaman rasa ini ke dalam peti terkunci

Kamu, untuk menyatukan kembali

Tujuan hidup yang terberai
Dan visi yang tercerai
Sebelum semua semakin tak bernyawa
Sebelum denting bom waktu berhenti
Sebelum semua terlambat dan sunyi
Sebelum hatimu dibunuh sepi

Kami tertusuk melihatmu kehilangan arah
Kami resah melihatmu tak berumah
Musafirku masih tersesat

Biarkan kusimpan semuanya, dengan rapi
Seperti dulu sebelum semuanya tersingkap hati
Hanya aku, Allah dan dinginnya sepertiga malam yang mengetahui

Aku sedang belajar
Satu kata kunci bernama ikhlas
Bahagia cukup dengan tahu, kakimu masih menginjak bumi

Aku juga sedang menagih janjimu
Untuk selalu melindungiku
Ini adalah cara terbijak untuk menjagaku dan hatiku

Ah, aku memang pengecut
Tak mampu mengutarakannya di hadapmu
Entahlah, akhir-akhir ini aku cengeng
Lidah kelu dan membisu
Dan mudah tersedu

Semoga ketika kembali bertatap mata yang tak lagi sendu 
Kita sudah dengan hati, jiwa dan harapan baru.

Standard
puisi

Mimpi Sang Pelindung

Hari ini embun bercerita tentang membangunkan pagi
Berlari bersama angin dari timur sampai barat, hingga tepi
Menyapa para pegunungan utara
Dan bersenandung tentang indahnya senja selatan

Tidurlah embun…
Agar jangan telat menyapa hari
Mengingatkan esok telah berganti

Terlelap embun tidur
Lelah dan beristirahat untuk bermain lagi
Di peraduan antara dua bumi

Selamat tidur embun…

Hei embun… Ayo bangun…
Bersiap menitik di setiap daun
Sambut matahari dengan senyummu
Penanda semua jangkrik untuk pulang ke perdu

Hei embun… Ayo bangun…
Usap dunia dengan basahmu nan anggun
Agar merekah bunga-bunga seruni
Penanda kupu kupu untuk datang lagi

Hei embun… Ayo bangun…

Hahaha sang embun berceloteh senang
Riang rupanya menari bersama bintang
Ditemani para penyair alam kaya
Bersenandung syair semesta raya

Satu takzim dan salam bagiku untuk mereka semua…
Hei embun… ‘kan kuceritakan padamu
Tentang puncak dewa-dewa

Berdiri di tiang langit Sumatra
Menjadi saksi dua dunia
Hitam putih seorang penghamba

Ruku’ di tiang langit Sumatra
Angin berarak membawa berita
Bagi para pemburu surga

Bersujud di tiang langit Sumatra
Biru samudra di pelupuk mata
Bukit barisan sebagai penanda

Dua salam pada tiang langit Sumatra
Dingin surga kian terasa
Mengisi hamba yang hampir binasa

Hei embun…
Itulah puncak para dewa
Apinya menyesap jiwa
Menguatkan akar raga
Hei embun…
Mimpi besarku membawamu ke sana

Standard
Prosa

Jika Aku Diam

Jika aku diam, masihkah kau mengangsurkan apel untukku dengan tatap lembutmu?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku menyusuri perdu. Menikmati senyapnya angin sendu?

Jika aku diam, masihkah kau tidur di pangkuanku. Mendendangkan nada rindu riak-riak kabut dan danau?

Jika aku diam, masihkah kau membujukku berkelana mendayung. Mendengarkan nyanyian arus?

Jika aku diam, masihkah kau memelukku menyairkan alunan derak-derak nipah tepi sungai?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku ke dermaga. Bercerita tentang luka, berbagi impian dan kemungkinan?

Jika aku diam, masihkah kau memayungiku dari terik mentari, menyelimutiku dari badai?

Jika aku diam, masihkah kau menawarkan senyum. Mewarnai detik-detik lelah tak berkesudahan?

Jika kamu diam, kemudian apa jawabanku?

Standard
Prosa

Episode Rumput dan Angin

Matahari tersenyum di pagi indah, Angin sejuk menyapa rumput. Bersua ceria menceritakan keanggungan malam. Tertawa bersahabat.

Mengharukan dunia. Pohon-pohon pun bergoyang. Mengiringi kebahagiaan. Makhluk Tuhan yang berkawan.

Beranjak naiknya surya. Rumput ingin selalu bersama. Sepanjang hari sepanjang waktu. Menjaga dari panas. Menyejukkan dari kering.

Tapi apa daya. Sang bayu ingin bebas. Pergi melanglang mengarungi dunia. Menjelajah mencari langit.

Angin pergi berhembus kuat. Mengoyak daun-daun rumput. Meninggalkannya melayu dan kering

Rumput menunggu ia kan berbelok. Dan berdesir. Rumput menyesal hatinya bercabang.

Sahabat pergi cinta tak terdaki. Beruntunglah titik-titik hujan. Menyiram dahannya yang menguning. Membangkitkan hijau. Hingga bisa menari.
Menyapa awan dan ilalang. Matahari di puncak cakarawala. Rumput terus memandang. Jauh kedepan. Mencari jawaban.

Bilakah angin bertiup. Menggoyangkan daun hijaunya. Mengajak bernyanyi di pagi hari. Seperti sebelum berbelok hati

Gelap menutupi bumi. Dan rumput masih terhanyut. Dalam penantian.

Sang sahabat kan terlihat.

Sejak siang hari. Angin tiada pergi. Ia hanya bersembunyi. Di balik pohon-pohon tinggi. Angin berharap bisa lari. Mencari langit tertinggi.

Di atas bumi ia menerawang. Beribu rumput. Namun tiada seindah pagi tadi. Haruskah ia lari jika indahnya langit. Ada bersama rumput.

Ia berbelok menjangkau bumi. Ia berhenti dan berpikir. Akankah rumput bisa tetap hijau. Takkan terkoyak takkan tercabut.

Angin tetap menunggu. Bukannya ia tak ingin. Berdesir di sisi rumput.

Ia ingin. Rumput tetap tegar dan bergoyang. Suatu saat nanti. Angin akan bergembus. Dan bercerita.

Tapi entah kapan. Itu takkan lama lagi

 

Standard
puisi

Seberapa Besar

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kamu menghentikan semua berita tentangmu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak kau biarkan dirimu bangkit dari jingga kelabu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga tak hentinya kau menghantui bunga tidurku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga poraknya menjalar ke dalam alam bawah sadarku.

Seberapa besar badai topan itu? Hingga hujan mengabarkan ada yang tengah tergugu.

Seberapa besar rasa bersalahmu? Hingga kau tak percaya ada maaf yang terhampar untukmu.

Seberapa besar salahku? Hingga tak kau izinkan aku tanpa kenyamanan. Tanpa tahu sudahkah kamu bahagia tanpa aku?

Begitu besarkah salahku?

Standard
Cerpen

Sabar dan Shalatlah

Selepas shalat isya’ aku tertidur di atas hamparan sajadah masih lengkap dengan mukena. Malam itu dingin sekali dan aku terlelap. Sebentuk suara halus membangunkanku, akupun terjaga. Dengan reflek aku tanggalkan mukena dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kukenakan mukena kembali lalu kutunaikan shalat Subuh.

Selepas salam dan berdoa sejenak aku mengemasi mukena dan sajadah, ada keinginan membersihkan dan membenahi kamar yang sudah cukup kotor dan berantakan. Kubongkar isi kamar agar benar-benar bersih dan tidak ada kotoran yang terlewat yang membuatnya semakin terkesan berantakan dan berdebu. Di tengah-tengah pekerjaanku, aku tertegun kenapa masih senyap dan baru tersadar tidak ada suara sama sekali di luar, lengang. Kubuka jendela, gelap gulita dan bintang-bintang masih menari di langit sana. Tidak ada bayangan fajar, tidak ada rangkaian lahirnya cahaya mentari.

Kutengok jam meja kecil, terperanjat angka yang kulihat 02.03 am. Tiba-tiba aku lemas, entah kenapa aku menangis. Aku terduduk, tergugu, marah dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Seseorang mengetuk pintu, aku iyakan. Pintu terbuka dan temanku terkaget melihatku dan menanyakan apa yang sedang kulakukan, kuceritakan apa yang terjadi.

“Sejak kapan kamu begitu bodoh? Kamu marah pada siapa? Allah yang menciptakan siang dan malam? Sedari dulu Subuh sudah diatur waktunya, dia akan datang sekian jam setelah Isya’ dan sekian jam sebelum matahari terbit. Kamu terlalu terburu-buru ingin hari esokmu segera datang, sabar. Semua ada waktunya.”

“Kamu seperti anak kecil, menangisi yang bahkan bukan hakmu. Kehilangan padahal tak pernah menjadi milikmu. Sekarang lebih baik lekas bereskan kamarmu yang berantakan, kamu masih punya waktu pula untuk tahajud sebelum Subuh datang. Shalatmu sudah, sabarmu belum.”

Kuseka pipiku, beranjak mengemasi dan merapikan kamarku kembali.

Sekian.

 

 

Standard