puisi

Bait-Bait Kerinduan

 

Sebersit asa

Setelah senja sirna

Sepucuk surat rindu untuk dirimu

Memercikan rasa ingin bertemu

 

Permata hatiku

Kurangkai kata ini hanya untukmu

Sekedar mengungkapkan rasa rindu

Atas sendu yang mengungkungku

 

Sesak telah membiru berjelaga

Menelisik sesak yang kian mendera

Mata bening, telaga syahdu

Kamu, semesta bernama pilu

 

Angan ini luruh dipeluk masa

Tak terrumus dalam aksara

Sosokmu kian maya

Rinduku semakin nyata

 

Padamu, embun penyejuk lara

 

Entahlah …

 

Bila jawabmu tiba, melerai resah

Meretas harapku yang berkawan gundah

Sebait lisan nan tersurat indah

Kan basuh rinduku yang tergugu lelah, mencari celah …

 

Wahai pelita jiwa

 

Tak terdengarkah ratapku nan lara?

Mendambamu menyiksa raga, merobek jiwa

Embun pesonamu, mencipta bait-bait doa

Lantunan asa sendu, dalam harap dan pinta

….

Tuhan

Maka dengarkanlah kali ini saja

Sampaikan rindu ini kepadanya

Agar terhindar dari rasa yang kian menyiksa

 

Sajadah ini menjadi saksi bisu

Atas ratapan-ratapanku yang yang tak kunjung temu

Di sepertiga malamku

Ku pasrahkan semuanya kepada-Mu

 

Jika memang Engkau takdirkan dia untukku

Jangan biarkan aku tersiksa menunggu

Tapi jika memang bukan dia yang kutuju

Lepaskanlah semua bayangan semu

 

Doaku syahdu mengais rindu

Meski terkoyak tak terasa pilu

Karena dalam doa aku menyatu

Pasti takdirMu yang terindah untukku


**

Sebuah karya kolaborasi Squad 3 #30DWC Jilid 5

Berau | @evan.ardian25

Bandung | @NyonyaBadak

Depok | ~ Genta Kalbu ~ @umie_poerwanti

Makassar | @Nunu_Hilal

Jayapura | @Rina_tatarenys

NB : Yang biasa baca tulisan saya, akan tahu bait saya yang mana 😊

Standard
Prosa

Pada Sebuah Titik

Akhirnya kuterima kotak kirimanmu, terasa berat. Tapi aku yakin lebih berat perasaanmu ketika memasukkan satu persatu barang-barang itu ke dalamnya.

Kotak itu terasa lembab, terbayang tetesan air matamu jatuh satu persatu membasahinya.

Kubuka dengan pelan, aroma kesedihanmu menyeruak kuat dari dalamnya, menerpaku dan tubuhku berdesir halus.

Dua bungkus pakaian, satu bungkusan jaket, satu bungkusan i-pad dan satu kotak sepatu, semuanya berlomba dan berebut ingin bercerita tentang kamu.

Pertama kubuka bungkusan jaket.

Tiba-tiba ada suara mengejutkanku. “Abang, ini jaket udah berapa lama ga dicuci sih? Sudah kumel banget.”

“Ya udah, Ade’ bisa tolong bersihiin? Dilap aja pakai kain basah, ga usah dicuci, terus diangin-anginkan,” jawabku halus.

Dia tersenyum, “Siap Bos.” Katanya lucu dengan senyum manisnya.

Terbayang dia membersihkannya dengan penuh kelembutan, karena dia tahu itu jaket kesayangan abangnya. Jaket yang telah melindungi orang yang ia cintai dari terpaan panas, angin, bahkan hujan.

Banyak perjalanan yang ditempuhku bersama jaket itu, terakhir kali jaket itu kupakai ke Garut, mendaki Gunung Papandayan. Sepanjang perjalanan aku memegang lembut tangannya, entah kenapa saat itu aku merasa ini akan menjadi pendakian terakhirku bersamanya, kami berbaring di rerumputan hijau, menghirup sepuasnya udara yang bebas berlarian.

Kukeluarkan sepatu dari kotaknya.

Bersih sekali keadaannya, mungkin kamu bersihkan dengan kain yang dibasahi oleh air matamu.

“Abang mau beli sepatu, Ade’ temenin yah,” kataku saat itu. “Iya Abang, aku juga mau sepatu lagi, yang lama sudah rusak,” jawabmu. Sore itu tak lama aku sudah mendapatkan sepatu yang kucari. Berjalan kami menyusuri pertokoan Cibaduyut. “Panah-panahannya Pak,” seorang pedagang menawarkan dagangannya pada kami. “Ade’ mau beli ga?” Godaku. “Ihh Abang,  itukan panah mainan,” jawabnya. “Ga Ade’, itu panah beneran,” tukasku.

Aku tahu dia sangat menyukai memanah, entah berapa kali dia selalu bercerita tentang rencananya membeli peralatan memanah. “Tapi kalau Abang bellin kamu mau main panahan dimana?”

“Ya di sebelah rumah, kan masih ada tanah kosong buat latihan.”

Terbahak aku mendengar jawabanmu, sambil menggeleng aku bilang,”Ya udah ga jadi deh, daripada nanti ada pantat orang yang kena panah nyasar.” Dan kamupun lalu “misu-misu”, seperti anak kecil yang ga keturutan permintaannya, gemes sekali kalo kamu sudah seperti itu.

Hmm aku sadar betapa aku mencintaimu dengan cara yang paling sederhana dan kebahagiaan itu sejatinya sederhana. Siapapun dan apapun kita.

Pasrah kulihat bungkusan terakhir.

Terbungkus rapat dengan plastik, seakan kamu benar-benar takut ada sesuatu yang masuk dan merusaknya.

Setelah kubuka bungkusnya, kuraba dengan halus i-pad itu. Sehalus aku membayangkan jari-jarimu mengetik semua tulisan-tulisanmu dengan senyuman, rasa sakit, dan air mata. Masih bisa kurasakan bekas-bekas kesedihanmu, kesedihan yang telah aku ciptakan untukmu. Kutekan tombol untuk menyalakannya, kumasukkan password empat digit kombinasi kelahiran kita. Hal pertama yang aku buka adalah gambar, tidak berubah sama seperti ketika aku terakhir kali memberikannya untukmu. Foto kita berdua tersenyum luka, lalu kubuka note, hmmm … sudah ada cukup banyak cerita di dalamnya, kubaca satu persatu, mulai dari catatan pertama ketika aku memberikannya kepadamu, beberapa syair-syair satire-mu untukku. Dan …  nama-nama indah untuk anak-anak kita kelak, menitik airmataku. Perlahan, kucari tombol setting, erase content and setting, perlahan aku tekan tombol yes setelah aku memasukkan password darimu. Hanya satu alasan kenapa aku me-reset-nya, aku tidak ingin menganggu hidupmu lagi, sudah cukup aku melihatmu sedih dari harapan-harapan yang tidak pernah bisa aku berikan.

Pada akhirnya kurapikan semuanya barang-barang darimu, apa yang telah bercerita aku tuliskan. Tiba masanya aku sadar, bahwa aku harus kehilanganmu.

Inilah memori kami, terbungkus rapi dalam sekotak kardus.

Kamu akan tetap hidup manis, seperti yang aku selalu katakan. Kematianmu akan indah, dengan anak-anak yang sangat mencintaimu ada di sekitarmu untuk melihatmu pergi bahagia.

Sedangkan aku … aku akan berhenti menulis dan berhenti berharap. Karena aku sudah hilang dan mati, mengiba semua dosa yang telah kupilih. Sebagai jalan penebus dosa untuk membuatmu bahagia.

Dan inilah bait akhir untukmu.

Standard
puisi

Bertanya pada Hati

Aku bertanya padamu,

“Apakah kamu terluka? Pada mereka yang mengkhianatimu.”
Diam, tak terjawab. Terlalu perih katamu

“Apakah kamu koyak? Oleh mereka yang mencampakkanmu.”
Masih pilu, terlalu sesak katamu.

“Apakah kamu remuk? Oleh mereka yang mengabaikanmu.”
Temaram, terlalu redam katamu.

“Apakah kamu mendengki? Pada mereka yang tak punya keberanian untuk menjadikanmu ada.”
Saru, hilang peka katamu.

Kuangsurkan sajak, bukan pelipur hanya penguat.
Apalah perih jika menjadikanmu galah.
Pilu, sesak, redam tak ada guna jika cahaya memelukmu, Sang Penguasa Malam.
Dan pada keberanian yang tak jua menyapa, terima kasih.
Memberikan celah untuk menatap warna jingga.

Yang lebih terang.

Standard
Cerpen

Cukup dalam Khayalan

Malam belum terlalu larut ketika aku sampai di lobi hotel, kota ini tak pernah sepi dari manusia yang terus berkeliaran. Jalanan Orchad masih penuh dengan turis yang sekedar jalan-jalan atau benar-benar ingin menghabiskan uang di deretan tokonya. Sehabis training tadi aku menemui seseorang, sudah lama kami tak berjumpa. Mengobrol segala macam topik akhirnya aku memutuskan kembali ke hotel dengan taksi, kantuk sudah menyapa. Esok, training yang panjang masih menunggu.

Di depan lift ada tiga orang sedang menunggu pintu terbuka, aku bergabung bersama mereka. Dari balik kaca lift aku melihat satu-persatu rombongan itu, aku dengar mereka bicara dalam Bahasa Korea. Satu dari anggota rombongan tampak diam, badannya tinggi atletis dan memakai kacamata hitam. Dahiku berkerut, ini sudah terlalu malam untuk silau karena cahaya matahari.

Sepertinya sosok itu tahu jika aku sedang memperhatikan, aku tersenyum dengan sedikit membungkuk. Meminta maaf seperti yang sering dilakukan di drama Korea yang aku tonton. Bunyi berdenting dan pintu lift terbuka, mereka membiarkanku melangkah masuk terlebih dahulu. Kutekan tombol 8, salah satu dari mereka menekan nomor 11. Hening, tak ada yang bicara. Namun otakku serasa terusik, ada yang sangat menganggu pikiranku. Aku perhatikan lagi pria berkacamata hitam dan aha!

“Gong Yoo?” Lirih aku memberanikan bersuara dan menengok ke arah pria itu.

Dia membungkuk dan membuka kacamata, di bibirnya seulas senyum ramah tersemat. Lift berhenti dan pintu terbuka.

It is nice to see you in person,” aku ikut membungkuk sopan.

Thank you,” jawabnya ketika aku mulai melangkah keluar lift, menuju kamarku. Mimpi apa aku semalam bertemu dengan Si Ahjussi tampan itu.

**

Hari terakhir training, sebuah hari yang panjang dan melelahkan. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian aku keluar mencari udara segar, jalanan Orchad semakin ramai di Jumat malam. Tidak sesuai harapan, ramainya sudah keterlaluan. Akhirnya aku hanya membeli sebotol teh tarik dan kembali ke hotel. Namun aku tidak kembali ke kamarku, aku melangkah ke kolam renang di lantai tiga. Pemandangan cukup apik, lampu-lampu indah bertebaran di tambah dengan bulan sabit. Hanya ada tiga orang yang berenang, aku memilih duduk di pinggiran balkon. Melihat luas Negeri Singa yang sesak, sesekali aku merapikan kerudungku yang terbang disapa angin kota berpolusi.

“Bolehkan aku duduk di sini?” Hampir saja aku tersedak teh tarik, kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul. Tapi tidak hanya itu, kekagetanku lebih pada pemilik suara. Dia memakai kaos putih lengan pendek dan celana santai 7/8, tubuhnya menjulang di hadapanku.

“Tentu,” hanya jawaban itu yang bisa aku ucapkan.

“Sedang berlibur atau bekerja?” tanyanya.

“Bekerja. Kamu?”

“Bekerja juga.” Kemudian kami sama-sama diam, menikmati angin yang bertiup dan mendengarkan segala macam suara.

Acting kamu sangat bagus di Goblin,” aku mencoba memecah sunyi. Dia hanya mengangguk-angguk.

“Aku bukan penggemar drama Korea, tapi setelah menonton Goblin aku lanjutkan dengan Train to Busan.” Tanganku memainkan botol minuman. “Great father,” imbuhku.

“Tapi aku belum jadi Ayah,” sanggahnya.

“Dan aku berharap menemukan seseorang seperti dalam Finding Mr. Destiny, tapi aku tidak suka kumismu di fim itu.” Dia terkekeh mendengarnya.

“Aku juga lebih suka kamu yang sekarang dibandingkan Coffee Prince, di sana masih terlalu muda. Aku hanya menonton beberapa episode saja.” Dia mulai menengok ke arahku, lekat-lekat.

The Age of Shadows, klasik,” aku menutup celotehku.

“Jika kamu menonton semua filmku, bagaimana kamu kemarin tidak langsung mengenaliku? Dan bertingkah seperti penggemar lain yang meminta berfoto?” Bicaranya tenang dengan memegang dagu.

“Aku menonton filmmu bukan berarti aku penggemarmu.”

Tawanya terdengar lepas mendengar jawabanku. “Tapi kamu melewatkan satu film.”

A Man and A Woman,” aku menyambar, dia tersenyum.

“Aku suka ceritanya tapi aku tidak suka adegannya.” Kembali ia tergelak melihat caraku yang nyinyir ketika mengatakannya.

“Dari film itu aku belajar satu hal,” aku mengambil nafas panjang. “Bahwa seseorang yang saling mencintai belum tentu bersama, dan yang tidak saling mencintai justru bersama. Dan itu merupakan pilihan hidup, pilihan ada di tangan kita.”

“Itulah realita.”

“Aku sempat meneteskan air mata di adegan terakhir. Ketika kamu mengendarai mobil dan melihat orang yang kamu cintai di pinggir jalan, sedang membutuhkanmu. Tapi di saat yang sama kamu memilih tetap melaju dengan mata berkaca-kaca. Ditambah istrimu yang menyadari apa yang terjadi dan tiba-tiba berkata terima kasih.” Aku tercekat, “It sucks!”

Hening sejenak.

“Kamu berada di posisi yang mana?” tanyanya.

Aku meminum teh tarik, sialnya sudah habis.

None of them.” Aku bangkit, “Terima kasih sudah menemaniku mengobrol Gong Yoo-shi. Good luck for your next movie.”

Kulangkahkan kakiku menuju lift.

“Boleh kutahu namamu?” Kudengar ia bertanya, tapi badan ini sudah enggan berbalik. Aku hanya melambaikan tangan ke atas.

Karena terkadang apa yang kita sukai bukanlah sesuatu yang nyata.

Sekian.

Standard
Cerpen

Cerita Sore di Perempatan

Senja mulai menyibakkan warnanya, ketika lampu merah di perempatan dekat rumah memaksa motor yang kukendarai berhenti. Di tengah jalan, mobil-mobil mulai menyalakan lampu. Entah apa yang tengah kupikirkan saat itu, ketika sebuah mobil hitam meluncur dari arah berlawanan. Kepalaku sontak mengikuti gerakan mobil hingga hilang ditelan jalanan. Hingga beberapa detik kemudian, otakku mulai bisa diajak kompromi dengan benar. Aku mengenal mobil itu, juga sosok yang berada di balik kemudinya.

Setahun berlalu, siapa sangka aku melihatnya lagi. Meski beberapa detik, seolah mataku sanggup menembus kaca hitam nan pekat. Menangkap raut mukanya, yang sekilas menoleh ke sisi jalan lain. Mungkin dia memandang sekilas pada masa lalunya, jikapun dia ingat pernah berjanji.

Whatever you run, I’ll catch you. Again, again and again,” katanya membujukku yang sedang ngambek.

“Halah gombal,” sahutku tak peduli.

“Biarin gombal, tapi aku akan membuktikannya. I’ll never ever let you go,” sambungnya lagi, aku cuma membalas dengan senyuman geli.

Dan sekarang aku tersenyum lagi, namun sinis. Setahun berlalu sejak aku menyuruhnya tak menghubungiku lagi, aku lari darinya. Toh, dia menurutinya dan tak pernah muncul lagi.

Sist, orang dari kantor regional pingin ngobrol sama lo. Bisa kan? Gw sambungin sekarang.” Aku hanya mengangguk ketika bosku mengatakannya lewat telpon. Setelah bunyi bib dua kali terdengar suara seorang perempuan dengan logat singlish.

Hi there, this is B. How are you?” tanyanya akrab.

Oh hi B, I’m good thanks. Is there anything I can help?” Dahiku berkerut, tumben orang ini menelpon biasanya hanya mengirim surel.

Yeah, actually I’ve a good opportunity for you. I’ve talked with your boss and he is agree. There’s one vacancy in my team and I believe you are fit with the position. You will work both in Singapore and Indonesia. What do you think?” Dia bicara sangat santai, tak mengindahkan petir yang seolah menyambar telingaku.

“I thought someone has filled it.”

Indeed, but yesterday he stepped down.” 

Aku menelan ludah, “Why?”

“Dunno, unclear reason. So, think about my offering. Let me know your decision next week.”

Kejadian beberapa hari lalu di kantor kembali terulang di otakku. Terkadang memang hidup terasa lucu. Yang pernah berjanji akan terus kembali, ternyata tetap pergi. Yang sudah tak diharapkan kembali, tiba-tiba terdengar kabar akan datang lagi. Ketika sudah tak peduli, dia mundur lagi. Ketika sedang nyaman dengan posisi, ditawari sebagai pengganti.

Karena memang terasa lucu jika terus mengeja kalimat-kalimat tadi adalah tentang orang yang sama. Di tengah lampu merah yang menghijau aku tersenyum. Ya, aku berada di tengah-tengah situasi lucu itu.

Demikian.

 

Standard
Tentang

Biskuit Kelapa

Sebuah Sabtu yang biasa, terbebas dari beban pekerjaan (yakin?). Hari Sabtu, seperti halnya akhir minggu yang lalu-lalu. Pagi yang cerah, bisa dibilang terik malah.

Sedikit istimewa karena dimulai dengan menghadiri resepsi pernikahan seorang teman. Lalu berlanjut dengan menonton bioskop, sebuah film yang sedang moncer. Dua setengah jam kemudian film usai, diteruskan dengan berjalan berkeliling pusat perbelanjaan.

Akhirnya kami memutuskan masuk ke supermarket. Ya, kami. Karena aku tak sendirian, hari Sabtu ini tak kelabu. Aku bersama Ibuku.

Dengan keranjang seret (aku tak menemukan kata lain yang lebih tepat), kami mulai mengelilingi rak-rak tinggi berjejer nan rapi. Memasuki lorong deretan rak bertuliskan makanan ringan, tanpa komando kami berhenti di tempat yang sama.

Di depan jajaran biskuit kelapa dengan bungkus merah, aku dan Ibu saling memandang. Lalu tertawa. Tawa dengan sedikit nanar pada mata. Rindu, tak ada kata lain yang menggambarkannya.

Biskuit kelapa itu adalah camilan kesukaan Bapak. Sejak beliau tiada, kami berhenti pula membelinya setiap kali belanja. Padahal dulu, makanan itu adalah barang wajib yang tak boleh tertinggal.

Kali ini kami berlalu, aku merangkul Ibu mencari belanjaan lain. “Bapak juga suka sekali biskuit abon ini,” kata Ibu sambil menunjuk bungkusan biskuit lain. Aku hanya mampu tersenyum.

Ini bukan pertama kalinya, sering di tengah-tengah pembicaraan Ibu akan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Bapak. Empat bulan berlalu sejak Bapak dipanggil-Nya. Tapi rasanya … Ah, sudahlah…

Doa kami selalu untukmu, Bapak.

Standard
Prosa

Hujan dan Kenangan

Hujan,

Penuh kenangan mereka bilang..
Yang mana? Tidak ada yang terkenang
Suatu Jumat sore ketika harus mengejar bus? Dalam rintik kubenamkan mukaku pada punggungnya, mempercayakan waktu yang terus ikut berlari. Tikungan-tikungan yang terus dia lakukan, mencegah aku tertinggal. Berusaha membuatku tak panik, terus bicara bahwa semua akan baik-baik saja. Membuktikan ucapannya, ia mengantarku pada waktu yang tepat dan aku masih berhutang padanya. Hingga kini yang tak mampu kubayar.

Hujan,
Tetesan mengulang cerita, mereka bilang..
Yang mana? Tidak ada yang terkenang
Hari ketika kami tertinggal itu? Saat dia mengangsurkan jaketnya untukku, melindungiku dari tetesan kecil yang enggan berhenti. Berlari kecil, terus tertawa, seperti biasa dia yang tak pernah gagal membuatku tergelak. Layaknya itik, kami lincah berloncatan di bawah rinai hujan.

Hujan,
Membuka masa lalu, mereka bilang
Yang mana? Tidak ada yang terkenang
Perpisahan malam itu? Malam sebelum kami perpisah untuk sejenak, dia pergi menemui rumahnya. Ketika dia bertanya, apa yang aku inginkan untuk dia bawa. Yang kujawab, hanya ingin dia kembali dengan selamat. Kulihat matanya tersenyum, gerimis saat itu. Atau mungkin hanya bayangan tetes yang bias. Senyum yang hilang perlahan, saat aku memutuskan untuk berhenti. Bukan hanya aku, kami yang enggan memulainya kembali.

Hujan,
Yang mana lagi? Tidak ada kenangan
Mereka hanya menghiburku
Tidak, tidak ada kenangan.

Demikian.

Standard