puisi

Bertanya pada Hati

Aku bertanya padamu,

“Apakah kamu terluka? Pada mereka yang mengkhianatimu.”
Diam, tak terjawab. Terlalu perih katamu

“Apakah kamu koyak? Oleh mereka yang mencampakkanmu.”
Masih pilu, terlalu sesak katamu.

“Apakah kamu remuk? Oleh mereka yang mengabaikanmu.”
Temaram, terlalu redam katamu.

“Apakah kamu mendengki? Pada mereka yang tak punya keberanian untuk menjadikanmu ada.”
Saru, hilang peka katamu.

Kuangsurkan sajak, bukan pelipur hanya penguat.
Apalah perih jika menjadikanmu galah.
Pilu, sesak, redam tak ada guna jika cahaya memelukmu, Sang Penguasa Malam.
Dan pada keberanian yang tak jua menyapa, terima kasih.
Memberikan celah untuk menatap warna jingga.

Yang lebih terang.

Advertisements
Standard
Cerpen

Cukup dalam Khayalan

Malam belum terlalu larut ketika aku sampai di lobi hotel, kota ini tak pernah sepi dari manusia yang terus berkeliaran. Jalanan Orchad masih penuh dengan turis yang sekedar jalan-jalan atau benar-benar ingin menghabiskan uang di deretan tokonya. Sehabis training tadi aku menemui seseorang, sudah lama kami tak berjumpa. Mengobrol segala macam topik akhirnya aku memutuskan kembali ke hotel dengan taksi, kantuk sudah menyapa. Esok, training yang panjang masih menunggu.

Di depan lift ada tiga orang sedang menunggu pintu terbuka, aku bergabung bersama mereka. Dari balik kaca lift aku melihat satu-persatu rombongan itu, aku dengar mereka bicara dalam Bahasa Korea. Satu dari anggota rombongan tampak diam, badannya tinggi atletis dan memakai kacamata hitam. Dahiku berkerut, ini sudah terlalu malam untuk silau karena cahaya matahari.

Sepertinya sosok itu tahu jika aku sedang memperhatikan, aku tersenyum dengan sedikit membungkuk. Meminta maaf seperti yang sering dilakukan di drama Korea yang aku tonton. Bunyi berdenting dan pintu lift terbuka, mereka membiarkanku melangkah masuk terlebih dahulu. Kutekan tombol 8, salah satu dari mereka menekan nomor 11. Hening, tak ada yang bicara. Namun otakku serasa terusik, ada yang sangat menganggu pikiranku. Aku perhatikan lagi pria berkacamata hitam dan aha!

“Gong Yoo?” Lirih aku memberanikan bersuara dan menengok ke arah pria itu.

Dia membungkuk dan membuka kacamata, di bibirnya seulas senyum ramah tersemat. Lift berhenti dan pintu terbuka.

It is nice to see you in person,” aku ikut membungkuk sopan.

Thank you,” jawabnya ketika aku mulai melangkah keluar lift, menuju kamarku. Mimpi apa aku semalam bertemu dengan Si Ahjussi tampan itu.

**

Hari terakhir training, sebuah hari yang panjang dan melelahkan. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian aku keluar mencari udara segar, jalanan Orchad semakin ramai di Jumat malam. Tidak sesuai harapan, ramainya sudah keterlaluan. Akhirnya aku hanya membeli sebotol teh tarik dan kembali ke hotel. Namun aku tidak kembali ke kamarku, aku melangkah ke kolam renang di lantai tiga. Pemandangan cukup apik, lampu-lampu indah bertebaran di tambah dengan bulan sabit. Hanya ada tiga orang yang berenang, aku memilih duduk di pinggiran balkon. Melihat luas Negeri Singa yang sesak, sesekali aku merapikan kerudungku yang terbang disapa angin kota berpolusi.

“Bolehkan aku duduk di sini?” Hampir saja aku tersedak teh tarik, kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul. Tapi tidak hanya itu, kekagetanku lebih pada pemilik suara. Dia memakai kaos putih lengan pendek dan celana santai 7/8, tubuhnya menjulang di hadapanku.

“Tentu,” hanya jawaban itu yang bisa aku ucapkan.

“Sedang berlibur atau bekerja?” tanyanya.

“Bekerja. Kamu?”

“Bekerja juga.” Kemudian kami sama-sama diam, menikmati angin yang bertiup dan mendengarkan segala macam suara.

Acting kamu sangat bagus di Goblin,” aku mencoba memecah sunyi. Dia hanya mengangguk-angguk.

“Aku bukan penggemar drama Korea, tapi setelah menonton Goblin aku lanjutkan dengan Train to Busan.” Tanganku memainkan botol minuman. “Great father,” imbuhku.

“Tapi aku belum jadi Ayah,” sanggahnya.

“Dan aku berharap menemukan seseorang seperti dalam Finding Mr. Destiny, tapi aku tidak suka kumismu di fim itu.” Dia terkekeh mendengarnya.

“Aku juga lebih suka kamu yang sekarang dibandingkan Coffee Prince, di sana masih terlalu muda. Aku hanya menonton beberapa episode saja.” Dia mulai menengok ke arahku, lekat-lekat.

The Age of Shadows, klasik,” aku menutup celotehku.

“Jika kamu menonton semua filmku, bagaimana kamu kemarin tidak langsung mengenaliku? Dan bertingkah seperti penggemar lain yang meminta berfoto?” Bicaranya tenang dengan memegang dagu.

“Aku menonton filmmu bukan berarti aku penggemarmu.”

Tawanya terdengar lepas mendengar jawabanku. “Tapi kamu melewatkan satu film.”

A Man and A Woman,” aku menyambar, dia tersenyum.

“Aku suka ceritanya tapi aku tidak suka adegannya.” Kembali ia tergelak melihat caraku yang nyinyir ketika mengatakannya.

“Dari film itu aku belajar satu hal,” aku mengambil nafas panjang. “Bahwa seseorang yang saling mencintai belum tentu bersama, dan yang tidak saling mencintai justru bersama. Dan itu merupakan pilihan hidup, pilihan ada di tangan kita.”

“Itulah realita.”

“Aku sempat meneteskan air mata di adegan terakhir. Ketika kamu mengendarai mobil dan melihat orang yang kamu cintai di pinggir jalan, sedang membutuhkanmu. Tapi di saat yang sama kamu memilih tetap melaju dengan mata berkaca-kaca. Ditambah istrimu yang menyadari apa yang terjadi dan tiba-tiba berkata terima kasih.” Aku tercekat, “It sucks!”

Hening sejenak.

“Kamu berada di posisi yang mana?” tanyanya.

Aku meminum teh tarik, sialnya sudah habis.

None of them.” Aku bangkit, “Terima kasih sudah menemaniku mengobrol Gong Yoo-shi. Good luck for your next movie.”

Kulangkahkan kakiku menuju lift.

“Boleh kutahu namamu?” Kudengar ia bertanya, tapi badan ini sudah enggan berbalik. Aku hanya melambaikan tangan ke atas.

Karena terkadang apa yang kita sukai bukanlah sesuatu yang nyata.

Sekian.

Standard
Cerpen

Titik dalam Koma – 8

“Katanya dua hari lalu Bang Pras memanggilku dan sekarang aku sudah datang. Rindu, masih saja Bang Pras menggunakan nama itu. Dulu, Bang Pras suka sekali memanggilku dengan Rindu. Katanya aku mudah sekali dirindukan oleh semua orang, gombal banget!”

Rinai berhenti sejenak.

“Bang Pras harus bangun untuk meneruskan mimpi Bang Pras, tinggal di tengah hutan dengan keluarga Bang Pras. Tinggal di rumah kayu dan memelihara Kuda Nil, ada-ada saja mimpi itu Bang. Berkeliling Indonesia dengan jalur darat selama tiga bulan juga naik kereta dari Vietnam sampai Rusia.”

“Bang Pras harus bangun untuk melanjutkan mimpi-mimpi itu. Mimpi kita.”

Rinai sudah tak sanggup menahan sesak, ia tumpah. Rinai luruh melemas, ia memeluk Pras.

“Bang Pras, Rindu ingin Bang Pras bangun. Rindu sangat menyayangi Bang Pras.”

Sebuah tangan menyentuh bahu Rinai, ia mendongak. Kya ada di sana, dengan air mata berurai namun disertai sebuah senyum. Kya mengangguk, menguatkan sentuhannya, “Teruskan, buat dia bangun.”

Senyum itu membuat perut Rinai seolah-olah dimasuki kupu-kupu berjumlah ribuan, Kya mundur satu langkah. Rinai kembali melihat wajah Pas, wajah itu tetap tak ada reaksi tambahan. Sisa air mata yang sempat keluar sudah mengering.

“Bang Pras, kita akan mengajari anak-anak kita menunggang kuda dan memanah. Kita akan mengajak mereka naik gunung sedari mereka kecil, kita akan mengajari mereka menjadi anak-anak yang tangguh namun beriman. Iya kan Bang? Aku akan menjadi guru mereka, kita akan menjadi sekolah mereka.”

Rinai sesenggukan, ia tak mampu meneruskan kalimatnya. Ia terlalu lemas, ia tersimpuh di samping ranjang dengan tangan masih berusaha memeluk Pras. Terlalu banyak kenangan yang ia simpan selama ini membanjir keluar, hal-hal yang ingin ia lupakan ternyata tak pernah sekalipun pergi dari ingatannya. Air mata dan kesedihan kembali menyeruak.

Sebuah tangan memegang kepala Rinai, memeluknya erat. Rinai mendengar Kya melangkah dan Ibu berhenti mengaji.

bersambung … 

Standard
Cerpen

Titik dalam Koma – 7

Rinai memandang wajah Pras, ada air mata di ujung mata yang tertutup.

“Nai, teruskan. Ceritakan kisah kalian, mungkin kenangan terdalam kalian,” Ibu tersenyum menguatkan.

Rinai mendekatkan bibirnya ke telinga Pras, “Bang, masih ingat ga dengan sungai di tengah gunung? Kita pernah menelusurinya, sungai yang jernih dan indah di tengah lautan sumur belerang. Kemudian kita menemukan sebuah bangunan di tengah kawah, sebuah bangunan kokoh yang tak akan disangka ada di sana. Kita membahas bagaimana cara orang-orang yang membangunnya, membawa material bangunan ke dalam kawah yang jauh dari peradaban. Betapa orang yang sudah punya tekad pasti akan menemukan jalan. Kita membahasnya sambil makan pisang dan kacang, pisang paling enak sepanjang hidup, katamu.”

Rinai menarik nafas dalam-dalam.

“Kemudian kita berjalan menelusuri perdu dan ilalang yang tingginya setara dengan kita, dengan awan tepat di kepala kita. Sesekali kita bertemu penduduk lokal yang entah akan ke mana, mereka menyapa ramah kita. Aku senang sekali saat itu, hingga terkadang aku berjalan sambil meloncat-loncat kecil. Kamu tertawa di belakang langkahku.”

Rinai mengambil jeda.

“Lalu Bang Pras memilih sebuah tempat dekat danau untuk kita beristirahat dan memasak. Di tengah kawah yang hening, kita memasak tom yam. Lucu sekali kita ini, menghabiskan berjam-jam perjalanan hanya untuk memasak di tengah kawah. Tak ada suara kecuali kita, bahkan burung juga tak ada yang bernyanyi. Syahdu nan menenangkan, fields of gold.”

Rinai berdiri dari kursinya,  ia mendekatkan kepalanya ke dada Pras. Jantung itu masih berdegup tenang, Rinai ingin Pras merasakan langsung pada hatinya. Tak dihiraukannya ketika seseorang masuk  bergabung dengan mereka.

“Bang, ini Rindu,” tiba-tiba senyap. Semua orang di dalam ruangan berhenti bernafas, hingga mungkin jantungpun berhenti berdetak karena terkejut.

bersambung …

Standard
Cerpen

Titik dalam Koma – 6

**

Sementara di dalam kamar perawatan, Rinai sudah lengkap memakai baju pengunjung ICU. Bau obat menerobos hidung, suara detak peralatan medis terrdengar nyaring. Di ruangan yang serba putih, seorang pria terbaring dengan mata terpejam, hidung dan mulutnya tertutup, nafasnya naik turun teratur.

Ada nyeri teramat sangat melanda ulu hati Rinai, ia terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Tak terasa air mata menetes. Enam tahun tidak bersua, bukan situasi seperti itu yang ia harapkan. Rinai melangkah ke sisi kiri ranjang, sementara Ibu duduk di sisi kanan.

Wajah itu terlihat menua, tulang pipinya terlihat lebih menonjol. Sekalipun terbaring namun badan itu masih terlihat atletis. Mungkin dia masih rajin bersepeda dan berenang, batin Rinai.

“Assalamu’alaikum Bang Pras, ini Rinai,” suara Rinai terdengar gemetar.

Wajah dalam pembaringan tanpa reaksi.

“Mas, Rinai datang jauh-jauh untuk ketemu kamu. Ayo bangun, kalian pasti sudah lama tidak ketemu. Kamu tidak rindu?” Ibu ikut menambahkan, mata tuanya kembali berair.

Tetap tak ada reaksi.

“Bang, ga kangen sama Rinai? Ga kangen ngobrol dan bercanda sama Rinai? Aku sekarang tambah jago masak loh, dulu aja Bang Pras suka apalagi sekarang. Nanti aku masakin apapun yang Bang Pras mau, pempek bisa, tekwan kecil, atauuuu Ayam Bangkong? Eh Ayam Kodok ding! Udah bisa aku sekarang,” Rinai mencoba membuat suaranya ceria.

Tidak ada reaksi.

Rinai melihat ke Ibu, beliau menggeleng. Rinai bertekad tidak akan menyerah. Ibu pelan membuka Al-qur’an kecil yang selalu ada di meja dekat ranjang dan mulai melantunkan ayat-ayatNya.

“Bang, Mba Kya sangat sedih karena Bang Pras ga bangun-bangun. Kasihan dia Bang, Mba Kya sayang banget sama Bang Pras. Tami juga, Mas Wahyu juga Ibu. Bang Pras ga kasihan sama Ibu yang jadi sedih terus. Ayolah Bang, demi Ibu. Bangun ….”

Enam puluh detik. Tak ada reaksi.

“Bang, inget ga dulu kita pernah beli martabak malam-malam di dekat perempatan terus Mamang yang jual nyetel lagu keroncong dari radio. Bang Pras kegirangan karena itu lagu kesukaan Bang Pras sampai kamu ikutan nyanyi, kalau ga aku larang bisa joget di pinggir jalan. Kita tertawa terbahak-bahak sampai pembeli yang lain bingung. Bahagia itu sederhana, katamu,” Rinai mengatakannya dengan senyum.

Enam puluh detik. Tidak ada reaksi.

“Bang Pras ga kangen lihat pemandangan kota dari atas? Ingat ga kita pernah diusir sama satpam karena sudah jam dua belas malam tapi masih duduk-duduk melihat lampu-lampu berkedip dari kejauhan. Mengobrol denganmu selalu tak pernah membosankan.”

120 detik yang lain. Tanpa reaksi.

Rinai semakin sesak, dia mulai menangis tanpa suara. Ia letakkan telapak tangannya pada bahu Pras, berharap akan ada gerakan lain. Sementara Ibu masih terus mengaduh dalam ayat-ayat suci-Nya.

“Kita pernah berjalan di bawah hujan dengan sebuah payung kecil, Bang Pras iseng menginjak kubangan sampai menyiprat ke aku dan tentu saja aku membalasnya. Kamu lari, akhirnya payung tak ada gunanya. Kita hujan-hujanan, ditonton anak-anak SD yang saling berbisik. Mungkin mereka mangatakan, orang dewasa kok hujan-hujanan. Betapa kita mencintai hujan, dan saat itu adalah hari ulang tahunmu.”

Tiga menit dalam hening berlalu. Tak ada reaksi.

Rinai membenamkan wajahnya di sisi ranjang, terisak pelan. Tanpa disadari tangannya mencengkram bahu Pras.

“Bang, bangun. Aku ga tahu mesti gimana lagi. Bang Pras dulu pernah bilang ga akan bikin aku sedih, ga akan menemuiku lagi karena untuk kebaikanku. Katanya Bang Pras akan tetap melindungiku meski dari jauh. Mana buktinya? Bang Pras harus membuktikannya dengan bangun.”

Suara Rinai mulai bergetar karena tangis, ia meletakkan kepalanya di sisi ranjang dekat dengan bahu Pras. Entah berapa menit berlalu.

“Nai,” Rinai sontak duduk tegak kembali. Suara Ibu, “Lihat … Pras menangis.”

bersambung …

Standard
Cerpen

Titik dalam Koma – 5

“Gue cinta sama dia,” ujar Kya sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Klise banget.”

“Dia tetap di samping gue, itu sudah lebih dari cukup,” mata sayu itu menerawang jauh.

“Lo masih suka minum juga? Gue rasa otak lo sudah mulai nge-hang gara-gara alkohol,” Sigit semakin sinis, sementara Kya hanya diam tak menjawab. Sejenak mereka hening, hanya suara Kya menghembuskan asap tembakau bakar.

“Maaf, gue selama ini ga tahu apa yang terjadi di hidup lo. Gue kira kalian baik-baik saja, memang gue sering lihat kalian berantem tapi gue kira itu normal sebagai suami istri. Karir lo makin tinggi, Mas Pras juga. Ternyata lo nyembunyiin hal sebesar ini dari semua orang, dari gue, Mama dan Papa,” Sigit menunduk, suaranya pelan.

“Karena selama ini Pras juga sembunyiin semuanya ini dari gue, dia selalu manis dan baik sama gue. Walau sebenarnya gue merasa ada yang ga beres, matanya memang lihat gue tapi jiwanya seperti sedang melihat orang lain. Ga jarang dia salah sebut nama gue,” mata itu mulai memanas.

“Nama perempuan yang baru datang tadi?”

Tak ada jawaban.

“Siapa Rinai tadi?”

“Setahu gue dia teman baik Pras, tapi sebagai perempuan gue tahu ada sesuatu di antara mereka. Tapi Pras bersikukuh kalau mereka hanya berteman, tanpa gue tahu apapun sejauh mana hubungan mereka. Akhirnya gue larang Pras ketemu perempuan itu,” ada sesak terdengar.

“Tapi sepertinya ga ngaruh ya? Ternyata lo juga ga tahu siapa suami lo, kasihan banget sih lo Mba,” Sigit berdiri, menatap jalanan seolah ikut terbebani pikiran Kya.

“Yang penting dia bertahan sama gue.”

Sigit membalikkan badan, menatap Kya, “Dia bertahan karena lo bertahan, mungkin dia ga punya nyali untuk mengakhiri duluan. Apa yang membuat lo bertahan? Kalian belum punya anak, itu akan lebih mudah!”

“Ga ada yang lebih mudah,” Kya bangkit, mematikan rokoknya kemudian melangkah masuk kembali ke rumah sakit.

**

bersambung …

Standard
Cerpen

Titik dalam Koma – 4

Wajah Kya semakin memerah, bibirnya kaku menahan gemeletuk gigi, tangannya terangkat, “Jaga mulut kamu!” Sambil mengarahkan telunjuknya ke hidung Rinai.

Sontak seorang laki-laki merangsek maju memegang tangan Kya, “Mba, tahan emosi. Ini rumah sakit.”

Kya menghentakkan tangan ketika pintu terbuka, semua orang menengok. Melihat sosok yang keluar Rinai segera mendekat, “Assalamu’alaikum Ibu.”

Mata sembab perempuan tua itu menelisik wajah Rinai, dahinya berkerut, “Loh, Rinai?”

“Iya Bu, ini Rinai,” Rinai mengacungkan tangan, mencium tangan Ibu Pras.

“Lama tak ketemu Nai. Pras belum bangun juga, tapi kemarin dia sempat menggumam kata Rindu. Ga ada yang tahu siapa Rindu, ga ada keluarga atau teman Pras namanya Rindu,” suara Ibu semakin bergetar.

Rinai memeluk Ibu beberapa saat, “Ibu, bisa temani Rinai masuk? Kita coba bangunkan Bang Pras.”

“Ibu dan semuanya sudah mencoba Nai,” Ibu mulai terisak.

“Tapi Ibu belum mencoba bersama Rinai, Ibu harus yakin Bang Pras akan bangun lagi. Kalau Ibu tidak yakin, bagaimana Rinai bisa yakin?” Rinai semakin erat memeluk Ibu.

“Dia sebutnya Rindu, kamu tahu siapa Rindu?” Ibu mulai tenang, Rinai menghapus air mata di pipi yang semakin terlihat menua karena sedih.

Rinai tersenyum mencoba menenangkan, “Kita coba.” Akhirnya Ibu mengangguk, mengenggam tangan Rinai, saling menguatkan.

“Aku ikut masuk,” kata Kya tak sabar.

“Biarkan aku dan Ibu yang masuk dulu Mba,” jawab Rinai datar.

Kya hendak menjawab ketika tangan Ibu menggandeng Rinai untuk masuk kamar perawatan, dan tangan pria yang ternyata adik Kya, Sigit kembali memegangnya.

“Biarkan, ayo kita keluar dulu,” Sigit menarik kakaknya keluar dari rumah sakit.

Di halaman rumah sakit, Kya dan Sigit duduk di smoking area.

“Terima kenyataan, Mas Pras bangun atau tidak Mba Kya sepertinya akan tetap jadi janda,” Sigit memulai percakapan.

“Jaga omongan lo!” bentak Kya, dia merogoh tasnya mengeluarkan bungkus rokok dan korek api.

“Sejak kapan ngerokok lagi? Bukannya ga boleh sama Mas Pras,” Sigit duduk tegak dan melihat dengan pandangan sangsi.

“Gue ga pernah berhenti, dia aja ga tahu,” dinyalakannya rokok dan dihisap pelan.

“Lo bisa-bisanya mau dan tahan hidup sama orang yang cinta sama perempuan lain,” Sigit mengatakannya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum sinis.

bersambung…

Standard