Prosa

Jika Aku Diam

Jika aku diam, masihkah kau mengangsurkan apel untukku dengan tatap lembutmu?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku menyusuri perdu. Menikmati senyapnya angin sendu?

Jika aku diam, masihkah kau tidur di pangkuanku. Mendendangkan nada rindu riak-riak kabut dan danau?

Jika aku diam, masihkah kau membujukku berkelana mendayung. Mendengarkan nyanyian arus?

Jika aku diam, masihkah kau memelukku menyairkan alunan derak-derak nipah tepi sungai?

Jika aku diam, masihkah kau mengajakku ke dermaga. Bercerita tentang luka, berbagi impian dan kemungkinan?

Jika aku diam, masihkah kau memayungiku dari terik mentari, menyelimutiku dari badai?

Jika aku diam, masihkah kau menawarkan senyum. Mewarnai detik-detik lelah tak berkesudahan?

Jika kamu diam, kemudian apa jawabanku?

Standard
Prosa

Bagaimana Jika

Entah sejak kapan pertanyaan dengan awalan “Bagaimana jika” aku buang dari kamus kehidupan. Bentuk pertanyaan yang hanya menimbulkan banyak pertanyaan lain, mengira-ira masa depan yang sudah jelas ditentukan dan banyak memunculkan aneka prasangka.

Bagaimana jika kita tahu seperti apa kita meninggal? Berapa manusia yang masih akan bertahan melakukan hal baik ataupun sebaliknya.

Bagaimana jika akhirnya aku atau kamu pergi? Mengapa harus dipikirkan, karena dengan berjalannya waktu kita akan tahu jawaban siapa yang akan bertahan dan siapa yang melangkah meninggalkan kita.

Bagaimana jika tulisan indah yang sedang kamu baca, yang kamu kira untuk orang lain ternyata untuk kamu? Hati pasti bicara untuk siapa nada irama berkata, untuk apa mempertanyakan.

Bagaimana jika ia tak menepati janji? Pengucapan janji tidak hanya terucap oleh mulut juga disertai hati yang berniat. Allah yang membolak-balikan hati, percayakan saja pada-Nya. Kita tahu dia percaya Allah, kenapa tak juga percayakan janjinya.

Bagaimana jika catatan gelap masa lalu yang kita sembuyikan ternyata diketahui orang yang kita cintai? Bukankan cinta seharusnya menerima kita apa adanya, asalkan kita berjanji menjadi lebih baik dan membuktikannya, cinta pasti akan bertahan. Kata mereka cinta juga tentang saling percaya.

Bagaimana jika ternyata kita berjodoh? Pertanyaan yang terucap dari orang yang paling diinginkan menjadi bagian dalam hidup. Namun malah membangunkan kenyataan, berlanjut pada realita pahit yang harus dilalui dan tak memberi pilihan.

Bagaimana jika memang layak untuk kita buang dalam arus pikiran kita. Pasrah, hal yang bisa lebih menguatkan daripada berandai-andai tanpa kesudahan. Semeleh.

Demikian.

Standard