puisi

Harapan Sendu

Hey kamu…

Bisakah aku kali ini meminta, untuk tidak menghubungiku
Sama sekali…
Hingga kita berjumpa lagi

Jangan kau kuatirkan aku
Aku bersama orang-orang yang selalu melindungiku
Dan akupun percayakan kamu
Pada yang seharusnya menjaga dan merawatmu

Jangan bertanya apakah aku merindukanmu atau tidak
Karena sama saja kamu bertanya apakah aku masih bernafas atau tidak

Ini adalah kesempatan yang baik untuk diri
Aku, untuk menata kembali
Memasukkan segala kenangan dan pengalaman rasa ini ke dalam peti terkunci

Kamu, untuk menyatukan kembali

Tujuan hidup yang terberai
Dan visi yang tercerai
Sebelum semua semakin tak bernyawa
Sebelum denting bom waktu berhenti
Sebelum semua terlambat dan sunyi
Sebelum hatimu dibunuh sepi

Kami tertusuk melihatmu kehilangan arah
Kami resah melihatmu tak berumah
Musafirku masih tersesat

Biarkan kusimpan semuanya, dengan rapi
Seperti dulu sebelum semuanya tersingkap hati
Hanya aku, Allah dan dinginnya sepertiga malam yang mengetahui

Aku sedang belajar
Satu kata kunci bernama ikhlas
Bahagia cukup dengan tahu, kakimu masih menginjak bumi

Aku juga sedang menagih janjimu
Untuk selalu melindungiku
Ini adalah cara terbijak untuk menjagaku dan hatiku

Ah, aku memang pengecut
Tak mampu mengutarakannya di hadapmu
Entahlah, akhir-akhir ini aku cengeng
Lidah kelu dan membisu
Dan mudah tersedu

Semoga ketika kembali bertatap mata yang tak lagi sendu 
Kita sudah dengan hati, jiwa dan harapan baru.

Advertisements
Standard
Cerpen

Menerbangkan Masa (Bag. 1)

Kling…

Ponselku berbunyi tanda pesan masuk dari grup whatsapp, seringkali aku tidak begitu peduli dengan bunyi ini. Selain grup whatsapp dalam ponselku lumayan banyak, kebanyakan isinya hanya sekedar broadcast atau bukan pesan untukku.

Kali ini aku membukanya.

Selamat malam teman2…

Saya mau tanya, adakah disini yang menjadi agen/punya kontak agen tiket pesawat?

Urgent untuk booking 2 tiket Makassar – Jkt, Kamis siang.

Tertulis dari Ratna Grup Alumni Training Kepenulisan.

Kubalas dengan  mengetik sebuah agen pesawat online terkenal, tidak jawabnya.

Aku meluruskan kakiku, ada sebuah agen pesawat yang aku tahu. Tapi jariku seolah enggan menuliskannya, didukung pula oleh sesak yang pelan menyapa. Ponsel masih dalam genggaman, mataku terus memandangnya namun pikiranku melayang. Kembali ke masa lalu, sebuah kejadian yang menorehkan luka mendalam. Satu setengah tahun berlalu, rasanya baru kemarin semuanya terjadi.

Sebuah awal tahun yang kelabu, tercatat sebagai yang terburuk. Yang imbasnya masih aku rasakan hingga detik ini. Nyeri itu kembali nyata. Mataku panas, ada gumpalan yang mulai meluncur dari sudutnya. Semuanya dimulai dari seseorang yang pernah menjadi temanku, yang kemudian berbalik  menusukku dari belakang dengan pedang paling tajam. Seorang agen pesawat, ia menamakan dirinya.

Bersambung.

Standard