Cerpen

Menerbangkan Masa (Bag. 1)

Kling…

Ponselku berbunyi tanda pesan masuk dari grup whatsapp, seringkali aku tidak begitu peduli dengan bunyi ini. Selain grup whatsapp dalam ponselku lumayan banyak, kebanyakan isinya hanya sekedar broadcast atau bukan pesan untukku.

Kali ini aku membukanya.

Selamat malam teman2…

Saya mau tanya, adakah disini yang menjadi agen/punya kontak agen tiket pesawat?

Urgent untuk booking 2 tiket Makassar – Jkt, Kamis siang.

Tertulis dari Ratna Grup Alumni Training Kepenulisan.

Kubalas dengan  mengetik sebuah agen pesawat online terkenal, tidak jawabnya.

Aku meluruskan kakiku, ada sebuah agen pesawat yang aku tahu. Tapi jariku seolah enggan menuliskannya, didukung pula oleh sesak yang pelan menyapa. Ponsel masih dalam genggaman, mataku terus memandangnya namun pikiranku melayang. Kembali ke masa lalu, sebuah kejadian yang menorehkan luka mendalam. Satu setengah tahun berlalu, rasanya baru kemarin semuanya terjadi.

Sebuah awal tahun yang kelabu, tercatat sebagai yang terburuk. Yang imbasnya masih aku rasakan hingga detik ini. Nyeri itu kembali nyata. Mataku panas, ada gumpalan yang mulai meluncur dari sudutnya. Semuanya dimulai dari seseorang yang pernah menjadi temanku, yang kemudian berbalik  menusukku dari belakang dengan pedang paling tajam. Seorang agen pesawat, ia menamakan dirinya.

Bersambung.

Standard
puisi

Bangkitlah

Tak usah lagi kita berdebat

Tentang aku yang seharusnya pergi

Atau kamu yang semestinya tak kembali

Bukankah maaf yang seharusnya kita peluk erat?

 

Tak ada lagi cerita Ramadan lalu nan pilu

Kita buka Ramadan kini dengan ketenangan hakiki

 

Biarkan kita hanya dalam goresan aksara

Kuabadikan dalam huruf tak bermakna lara

Biar kukenang dan menjadi pelajaran

Meretas setiap jengkal luka, agar luruh tersingkirkan

 

Tak perlu bicara rindu

Percumapun berkalang temu

Maaf, yang bisa kuangsurkan padamu

Doa, yang masih kugumamkan tentangmu

 

Bangkitlah …

Jingga akan tetap disana

Kita meresap pada jiwa

 

Bangkitlah …

Tunjukkan padaku penggenggam kaki langit

Yang tegak menaklukan hitam meski pahit

 

Perlihatkan padaku cahyamu yang telah membara

Sesederhana pendaki nan tegak menghalau terik

Musafir tersenyumlah, pulanglah…

Screenshot_2017-05-29-19-40-20_1

Standard