Prosa

360 Hari

​360 hari, sendu mentari berhenti menyanyi pilu. Sejak kamu melambaikan tangan pagi itu.

360 hari, goresan pantai lenyap tersapu ombak. Namun tak ada lembaran baru, torehan itu masih di sana. Nanar bersama tatapan terakhir, saat aku meninggalkanmu.

360 hari, aku belum berani menatap senja. Hal yang paling kurindukan sekaligus paling tak kuiinginkan.

360 hari, gemuruh mencoba meredam. Hujan dan terik tak sekalipun saling tahu, berhenti dan menerima. Ya, kita.. karena aku tahu aku tak sendirian.

360 hari, menari dan menikmati lakon. Tak ada peran yang lebih bijak dan tenang. Ada kala rindu, ada kala saru. Namun inilah panggungku.

360 hari, aku menghitungnya. Karena aku harus terbang pada 360-360 lain dengan cara yang berbeda.

Tiga ratus enam puluh hari sudah…

 

Advertisements
Standard