Prosa

Hujan, Rintikan Harapan

Tahukah kamu apa yang sedang kulakukan? Duduk di tengah pintu masuk rumah memandang hujan. Langitnya yang mengabu, rintiknya yang merdu dan sedikit alunan guntur. Sesekali angin membawanya menyentuhku. Indah sekali.

Aku ingat ketika kita bercanda di bawah hujan, memainkan genangan seperti anak kecil, tertawa terbahak-bahak tidak peduli pada orang-orang yang memandang aneh. Saat ini waktu yang sempurna jika kita bermain dengan hujan lagi.

Ada setitik harap, di ujung jalan itu tiba-tiba muncul benda hitam bergerak menuju pintu ini. Mobilmu. Hahaha aku menertawakan diriku sendiri, sesuatu yang lebih mustahil daripada kelinci menang lomba lari dengan kancil.
Hujan memang tak tentu datangnya, meski mendung ia bisa tak jadi turun, meski terang benderang bisa jadi datang mengguyur. Tapi ia pasti datang.
Hujan seakan tak peduli pada manusia. Aku yakin di luar sana banyak yang sedang mengutuk hujan karena membuat mereka harus menunda perjalanan, atau membuat mereka basah, atau membuat jemuran tak kering. Mungkin ada juga yang senang dan memandang hujan seperti aku. Hujan tak peduli. Tapi ia pasti datang.
Hujan tak sepanjang tahun datang. Ia datang pada musimnya dan menghilang saat kemarau tiba. Kadang datang ketika tak diharapkan, tak jarang tak muncul ketika ditunggu. Tapi ia pasti datang.
Tak satu atau dua kali hujan membuatku basah kemudian sakit, tak jarang ia menghalangi perjalananku, sering membuat repot. Namun, aku masih mencintai hujan. 

Seandainya aku mampu menerimamu seperti aku mencintai hujan. Apa adanya.

Sekian.

Advertisements
Standard
Prosa

Untuk Sejenak

Untuk sesaat terasa menyenangkan mundur sejenak, dari hiruk pikuk yang tak berkesudahan. Hanya sejenak, ya sejenak.

Bukan tanpa alasan. Tidak menulis, tidak membaca, tidak stalking, tidak penasaran dan banyak tidak yang lain. Deretan kebiasaan yang memenuhi waktu, menenggelamkan usia yang terkadang bingung sudah diapakan.

Dan akhirnya aku kembali, dengan runtutan waktu yang lebih baik. Semoga.

Tak mungkin aku berhenti menulis, pun membaca. Keduanya mengalir deras dalam nadiku. Stalking, hal yang sebelumnya aku benci untuk dilakukan tapi masih sering menjalankan. The good thing is i stop doing that. Alhamdulillah.

Tidak ada lagi penasaran, tidak ada lagi kekuatiran. Allah mengambilnya dariku. Waktu yang kosong, aku bisa isi dengan olah raga. Klasik memang. Tentu tanpa tujuan, selain tubuh sehat pasti. Adalah bentuk persiapan untuk sebuah mimpi.

Terkadang berhenti sejenak itu perlu, untuk kembali. Menjadi lebih baik.

Demikian.

Standard
Prosa

Pada Sebuah Titik

Akhirnya kuterima kotak kirimanmu, terasa berat. Tapi aku yakin lebih berat perasaanmu ketika memasukkan satu persatu barang-barang itu ke dalamnya.

Kotak itu terasa lembab, terbayang tetesan air matamu jatuh satu persatu membasahinya.

Kubuka dengan pelan, aroma kesedihanmu menyeruak kuat dari dalamnya, menerpaku dan tubuhku berdesir halus.

Dua bungkus pakaian, satu bungkusan jaket, satu bungkusan i-pad dan satu kotak sepatu, semuanya berlomba dan berebut ingin bercerita tentang kamu.

Pertama kubuka bungkusan jaket.

Tiba-tiba ada suara mengejutkanku. “Abang, ini jaket udah berapa lama ga dicuci sih? Sudah kumel banget.”

“Ya udah, Ade’ bisa tolong bersihiin? Dilap aja pakai kain basah, ga usah dicuci, terus diangin-anginkan,” jawabku halus.

Dia tersenyum, “Siap Bos.” Katanya lucu dengan senyum manisnya.

Terbayang dia membersihkannya dengan penuh kelembutan, karena dia tahu itu jaket kesayangan abangnya. Jaket yang telah melindungi orang yang ia cintai dari terpaan panas, angin, bahkan hujan.

Banyak perjalanan yang ditempuhku bersama jaket itu, terakhir kali jaket itu kupakai ke Garut, mendaki Gunung Papandayan. Sepanjang perjalanan aku memegang lembut tangannya, entah kenapa saat itu aku merasa ini akan menjadi pendakian terakhirku bersamanya, kami berbaring di rerumputan hijau, menghirup sepuasnya udara yang bebas berlarian.

Kukeluarkan sepatu dari kotaknya.

Bersih sekali keadaannya, mungkin kamu bersihkan dengan kain yang dibasahi oleh air matamu.

“Abang mau beli sepatu, Ade’ temenin yah,” kataku saat itu. “Iya Abang, aku juga mau sepatu lagi, yang lama sudah rusak,” jawabmu. Sore itu tak lama aku sudah mendapatkan sepatu yang kucari. Berjalan kami menyusuri pertokoan Cibaduyut. “Panah-panahannya Pak,” seorang pedagang menawarkan dagangannya pada kami. “Ade’ mau beli ga?” Godaku. “Ihh Abang,  itukan panah mainan,” jawabnya. “Ga Ade’, itu panah beneran,” tukasku.

Aku tahu dia sangat menyukai memanah, entah berapa kali dia selalu bercerita tentang rencananya membeli peralatan memanah. “Tapi kalau Abang bellin kamu mau main panahan dimana?”

“Ya di sebelah rumah, kan masih ada tanah kosong buat latihan.”

Terbahak aku mendengar jawabanmu, sambil menggeleng aku bilang,”Ya udah ga jadi deh, daripada nanti ada pantat orang yang kena panah nyasar.” Dan kamupun lalu “misu-misu”, seperti anak kecil yang ga keturutan permintaannya, gemes sekali kalo kamu sudah seperti itu.

Hmm aku sadar betapa aku mencintaimu dengan cara yang paling sederhana dan kebahagiaan itu sejatinya sederhana. Siapapun dan apapun kita.

Pasrah kulihat bungkusan terakhir.

Terbungkus rapat dengan plastik, seakan kamu benar-benar takut ada sesuatu yang masuk dan merusaknya.

Setelah kubuka bungkusnya, kuraba dengan halus i-pad itu. Sehalus aku membayangkan jari-jarimu mengetik semua tulisan-tulisanmu dengan senyuman, rasa sakit, dan air mata. Masih bisa kurasakan bekas-bekas kesedihanmu, kesedihan yang telah aku ciptakan untukmu. Kutekan tombol untuk menyalakannya, kumasukkan password empat digit kombinasi kelahiran kita. Hal pertama yang aku buka adalah gambar, tidak berubah sama seperti ketika aku terakhir kali memberikannya untukmu. Foto kita berdua tersenyum luka, lalu kubuka note, hmmm … sudah ada cukup banyak cerita di dalamnya, kubaca satu persatu, mulai dari catatan pertama ketika aku memberikannya kepadamu, beberapa syair-syair satire-mu untukku. Dan …  nama-nama indah untuk anak-anak kita kelak, menitik airmataku. Perlahan, kucari tombol setting, erase content and setting, perlahan aku tekan tombol yes setelah aku memasukkan password darimu. Hanya satu alasan kenapa aku me-reset-nya, aku tidak ingin menganggu hidupmu lagi, sudah cukup aku melihatmu sedih dari harapan-harapan yang tidak pernah bisa aku berikan.

Pada akhirnya kurapikan semuanya barang-barang darimu, apa yang telah bercerita aku tuliskan. Tiba masanya aku sadar, bahwa aku harus kehilanganmu.

Inilah memori kami, terbungkus rapi dalam sekotak kardus.

Kamu akan tetap hidup manis, seperti yang aku selalu katakan. Kematianmu akan indah, dengan anak-anak yang sangat mencintaimu ada di sekitarmu untuk melihatmu pergi bahagia.

Sedangkan aku … aku akan berhenti menulis dan berhenti berharap. Karena aku sudah hilang dan mati, mengiba semua dosa yang telah kupilih. Sebagai jalan penebus dosa untuk membuatmu bahagia.

Dan inilah bait akhir untukmu.

Standard
Prosa

Penyembuh Luka

Terima kasih telah datang, pada seorang yang badai. Yang tengah tertatih menjalani nafas yang rinai. Aku masih ingat hari itu, ketika aku mendung suaramu membuatku tenang. Tak kau hiraukan kelabu, karena dengan segala kepercayaanmu ingin aku kembali bernyanyi merdu.

Tak terbayang jika hari itu kamu tak menyapa. Mungkin aku masih menangisi kenangan yang ternyata maya. Mengaduh pada suratan, merajuk pada kenyataan.

Dengan sabarmu, membantuku berdiri. Menopang langkahku yang sempoyongan, merangkul menegarkan. Pelan tapi pasti, katamu aku akan kembali. Bukan lagi aku yang papa hati, namun menajdi lebih teguh hati.

Hujan sore itu, kamu tunjukkan aku pelangi. Panggung para bidadari menari, mengajakku berlari menyongsong rasi baru. Sesekali gerimis tak apa, katamu. Menoleh sesekali tak apa, katamu. Asal jangan pernah berhenti, katamu.

Benar ucapmu, waktu membantuku tegar. Dan semua tak boleh menjadi sesal, biarkan menjadi pelajaran. Masa lalu penuh kesakitan, menjadikanku kebal lara.

Terima kasih telah datang, sebagai penyembuh luka.

Standard
Prosa

Nama Kahyangan

Pada suatu senja Maha Guru bercerita mengenai kisah kuno berlatar perjuangan, cinta dan keteguhan hati.

Sang murid menyimak dengan takzim kemudian bertanya, “Apakah kisah ini nyata?”

“Nyata dan tidak adalah sebuah bentukan pikiran, anakku,” jawab Maha Guru dengan tersenyum.

“Mengapa Guru menamai tokoh untuk cerita seindah ini dengan nama Embun?”

“Setetes embun di pagi hari seperti diturunkan dari Kahyangan untuk menyejukkan dunia, menyambut terangnya matahari dan membasahi daun yang mulai mengering. Hanya sedikit yang menyadarinya karena seiring mentari meninggi dia akan pergi tapi dia selalu kembali,” mata teduh Guru tampak menerawang.

“Nama yang teramat indah untuk jadi nyata,” gumam Sang Murid.

Maha Guru terus bercerita mengenai kisah embun berlatar kehidupan dewa-dewi, tanpa disadarinya cerita embun terpatri dalam pikiran Sang Murid.

Bertahun-tahun setelah keluar dari perguruan, Sang Murid yang sudah banyak menaklukan dunia pertarungan tiba-tiba dihentikan oleh sebuah hutan lebat, ia tersesat.

“Embun ….”

Sang murid mencari arah suara, ia sendirian.

“Embun ….”

Suara itu muncul lagi, ingatannya kembali pada cerita Maha Guru.

“Embun ….”

Sosok pemanggil mulai terlihat samar, tersenyum menatapnya.

Dengan segala kesaktian yang ia miliki, Sang Murid tetap tak bisa beranjak mendekati suara.

“Ini ilusi,” gumamnya sambil bergerak mundur, berlari menjauh.

Standard
Tentang

Gamang (2)

7 Agustus 2016, aku masih saja mengingat tanggal itu. Di dalam mobil di pelataran sebuah hotel kecil, dekat stasiun pada sebuah pagi yang mendung. Aku memakai baju merah marun, dan dia dengan kaos abu-abu kesayangannya. Dia menepuk kepalaku, “Yang serius ikut training-nya, biar kamu benar-benar jadi penulis seperti impian kamu”.

Aku mengangguk bersemangat, mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarku juga mengucapkan agar dia hati-hati di jalan. Keluar dari mobil, masih kulihat senyumnya sebelum memundurkan mobil dan menghilang ditelan keramaian kota.

Ingatan itu masih segar meski sudah hampir setahun berlalu. Sebuah pagi, ketika aku menjemput impianku dan hari terakhir aku melihat wajahnya.

Dunia merenggutnya.

Tidak ada cerita yang perlu diuraikan. Tidak ada ceria yang bisa dinyanyikan.

Cukup aku mengingat hari itu, tidak ada hari sebelumnya, tidak perlu hari setelahnya.

Setahun berlalu, anginpun mampu mendekapku. Hujan mampu menjajari langkahku, bahkan petir berani menyambutku. Mereka tahu, tegar dan senyum berada dalam genggamanku.

Perlukah direnggut lagi?

Standard
Tentang

Sekedar Ingin Mengingatmu

Sesekali aku ingin tenggelam lagi dalam perasaan yang dulu pernah ada. Selama ini aku sengaja memilih menyibukkan diri. Bukan untuk melupakanmu. Aku memilih mengingat-ingat apa saja yang dulu membuat kita bersatu. Mencoba kembali memulangkan memori-memori tentang kita yang terjebak asmara sementara. Kembali lagi menghitung mundur senja-senja yang mulai terlihat pudar. Aku kembali mendengarkan lagu-lagu tentang hujan, hanya sekedar untuk mengingatmu. Aku paham, mengingatmu akan kembali mengembalikan rasa sakit. Mengingatmu akan kembali menghadirkan perasaan-perasaan yang berakhir luka. Namun, aku tidak ingin semuanya berlalu begitu saja.

Aku ingin menyimpanmu dalam tulisan-tulisan yang kutulis dengan kesedihan. Bukan untuk memamerkan betapa terlukanya aku dulu. Aku hanya ingin saat membaca kembali tulisan itu, kamu tahu betapa aku pernah begitu dalam mencintaimu. Seseorang yang pernah bersungguh-sungguh memohon hatimu. Kita pernah duduk berdua di kala senja yang sama. Kita pernah berteduh berdua sembari menunggu hujan reda yang kemudian mengucapkan doa-doa bahagia untuk hubungan kita. Iya, kita pernah melakukan hal-hal yang begitu indah.

Menulis tulisan ini bukan karena aku ingin kamu menyadari betapa dulu aku mencintai. Lalu, membuatmu merasa menyesal. Bukan itu tujuanku. Aku hanya ingin memastikan pada diriku sendiri. Mencintaimu adalah hal yang tak mudah kulupakan.

Kali ini izinkan aku untuk mengingatmu berkali-kali. Bukan untuk memintamu kembali. Bukan untuk membawamu hidup lagi di hatiku. Aku hanya ingin mengenang masa-masa sulit. Masa-masa dulu bagaimana bertahan sakit. Bagaimana berjuang dan bangkit. Bagaimana mencari jalan pulang, setelah kamu patah hatikan hati ini. Aku ingin mengingat dan mengenang semuanya. Lalu, menuliskan dalam kata-kata. Semoga kelak kenangan bisa kujadikan buku agar tak sia-sia sebagai masa lalu. Mungkin akan kamu baca atau mungkin hanya untuk kusimpan. Namun, menuliskan kenangan adalah salah satu cara untuk menenangkan.

Reblog dari Jeje – Si muka mellow  (^_^)v

Selesai.

Standard