puisi

Bangkitlah

Tak usah lagi kita berdebat

Tentang aku yang seharusnya pergi

Atau kamu yang semestinya tak kembali

Bukankah maaf yang seharusnya kita peluk erat?

 

Tak ada lagi cerita Ramadan lalu nan pilu

Kita buka Ramadan kini dengan ketenangan hakiki

 

Biarkan kita hanya dalam goresan aksara

Kuabadikan dalam huruf tak bermakna lara

Biar kukenang dan menjadi pelajaran

Meretas setiap jengkal luka, agar luruh tersingkirkan

 

Tak perlu bicara rindu

Percumapun berkalang temu

Maaf, yang bisa kuangsurkan padamu

Doa, yang masih kugumamkan tentangmu

 

Bangkitlah …

Jingga akan tetap disana

Kita meresap pada jiwa

 

Bangkitlah …

Tunjukkan padaku penggenggam kaki langit

Yang tegak menaklukan hitam meski pahit

 

Perlihatkan padaku cahyamu yang telah membara

Sesederhana pendaki nan tegak menghalau terik

Musafir tersenyumlah, pulanglah…

Screenshot_2017-05-29-19-40-20_1

Standard
puisi

Seminggu Akhir Februari

Senin

Baru tersadar hiruk pikuk yang kau buat

Entah fatamorgana atau hanya kebetulan

Kembaliku padaku

Pada ketenangan dan keanggunan

Kucoba diam sejenak, berbaikan dengan waktu

Selasa

Rindu kutitipkan pada angin

Yang menjangkaumu

Yang berkelana bersama mungkin

Kunikmati detik yang berlalu

Rabu

Mendung, kelabu dan seakan lara

Aku lebih cerah, hanya gemuruhnya

Melihatmu sejenak, entah untuk siapa kau bicara

Didekap ikhlas aku tersenyum, entah untuk apa

Kamis

Gerimis atau hujan yang menyambutku?

Tak ada bedanya…

Langkahku tenang, mungkin juga karena puasaku

Melayang melewati hawa

Jumat

Entah kenapa aku memilih kesini

Jendela kaca bertoreh asa akan bayangan

Kembali aku melewati

Jam ini, rumah sakit ini, halte ini

Ubin tempat aku berdiri, menunggu menyambut senyummu

Tepat dua minggu lalu

Ah rasanya baru kemarin gerimis ini

Mengiringi tawa kita sepanjang jalan

Yang kemudian dipisahkan jembatan

 

Dalam tengah memori

Dering, suara dan tangis membuyarkan segala

Dalam kalut aku berlari

Seolah hancur setengah dunia

Sabtu

Seperti mimpi

Menatap jendela namun bukan pemandangan yang sama

Disini, ratusan kilometer, ribuan menit, miliaran inci

Kita berjarak, sejauh asa

Minggu

Harusnya kita bertemu hari ini

Tapi aku lebih memilih disini

Lebih dari apapun

Senin

Mimpi, aku di sini lagi

Dan Maretku harus terus berputar

Kisah ini entah titik entah koma

Standard
Tentang

PUNGKAS

Musafir tak jua menemukan jalan pulang

Bayang itu masih berupa ukiran

Ombak kembali membawanya terbang

Cerita itu tetap berupa ingatan

 

Kita dan tawa, dalam hujan

Kita dan syahdu, dalam awan

Kita dan tangis, adalah keheningan

Kita dan nyawa, adalah rekaman

 

Biarkan perdu, tetap membisu

Luruhkan hujan, menjadi tarian

Istirahatkan benak, pada jarak yang retak

 

Jika nadi ini terhenti, tak perlu jadi sesal

Jikapun terus mengalir, tak ingin jadi aral

 

Menepilah jika harus kembali

Dermaga itu tetap menanti

Tak apa, sampan ini menarik labuh

Bermimpi meredam gemuruh

 

Lepaskan Embun

Terbangkan Semesta

 

Pada senja kutitipkan rindu

Pada doa kulangitkan namamu

Pada puisi kucukupkan anganku

 

Menenun kata,

Tak sesulit mengikhlaskanmu terus mengembara.

1489983629392.jpg

Standard
Tentang

Puisi Terakhir

Puisi Terakhir W.S Rendra
Renungan Indah – W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

 

Standard